Selasa, 5 Mei 2026

Warga Kenang Tsunami Aceh 26 Desember 2004, Nelayan Nekat Melaut Bakal Kena Denda

Nelayan di Aceh punya cara untuk mengenang tsunami yang menerjang daerah mereka pada 26 Desember 2004 silam. Ada sanksi bagi nelayan yang nekat melaut

Tayang:
Kompas
Nelayan di Aceh punya cara untuk mengenang tsunami pada 26 Desember 2004. Foto warga berjalan di atas puing-puing setelah diterjang tsunami. 

TRIBUNBATAM.id - Minggu (26/12/2021) besok menjadi hari yang mungkin tak bisa dilupakan oleh sebagian besar masyarakat Aceh.

Hari itu tepatnya 17 tahun lalu, warga berlarian untuk menyelamatkan diri setelah tsunami menerjang Nangroe Aceh Darussalam.

Tidak hanya harta benda, korban jiwa juga banyak dari musibah yang terjadi pada 2004 ini.

Bahkan dunia Internasional menyorot salah satu peristiwa alam terbesar dalam sejarah itu.

Masyakarat di sana pun punya cara untuk mengenang tsunami Aceh itu.

Seluruh nelayan di pesisir pantai sepanjang Bireuen mulai dari Samalanga sampai Gandapura diminta untuk tidak melaut.

Baca juga: Gempa Guncang Pulau Flores NTT, BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami

Baca juga: Recent Earthquake of 5.8 Magnitude Shakes Sulawesi Sea, No Tsunami Potential

Informasi ini diakui Panglima Laot Bireuen, Badruddin telah diinformasikan kepada sejumlah nelayan di sana.

Nelayan dilarang melaut untuk mengenang dan sama-sama memperingati musibah tsunami Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 lalu atau 17 tahun lalu.

Selain Satpolairud Pudada Bireun, masyarakat di tepi pantai akan memantau ada tidaknya nelayan yang nekat melaut.

Apabila ada nelayan yang kedapatan melaut pada Minggu (26/12/2021) akan didenda.

Bentuk denda menurutnya atas kesepakatan bersama.

"Misalnya nelayan tersebut bersama boatnya tidak boleh melaut selama tiga hari ke depan. Atau denda lainnya sesuai adat laut yang berlaku di wilayah setempat," ucapnya seperti diberitakan SerambiNews.com.

Badruddin mengatakan, selain melarang melaut, para nelayan juga diminta melaksanakan doa bersama di wilayah masing-masing seperti di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Peudada dan tempat tempat lainnya.

Baca juga: Magnitude 5.8 Earthquake at Sea Shakes Bitung North Sulawesi, No Tsunami Potential

Baca juga: Profil Widodo Setiyo Pranowo, Peneliti Kelautan & Tsunami, Pernah Raih Penghargaan dari Jokowi

Para nelayan katanya telah dihimbau dan sudah diinformasikan pertama untuk tidak melaut melalui pawang laot kecamatan termasuk untuk sama-sama menggelar doa dan zikir bersama di wilayah masing-masing.

Kegiatan doa dan zikir bersama selain mendoakan agar korban tsunami mendapat tempat yang layak disisi-Nya, juga mengenang musibah yang terjadi 17 tahun lalu.

Sekaligus untuk meningkatkan keimanan para nelayan dan masyarakat, juga bagian dari silaturahmi para nelayan dengan masyarakat.
MASJID Raya Jadi Lokasi Warga Selamatkan Diri

26 Desember 2004 menjadi tragedi bencana alam yang paling membekas dalam ingatan masyarakat Aceh.

Gempa yang berkekuatan 9,0 SR yang disusul gelombang tsunami setinggi 30 meter menghantam dataran Aceh, menimbulkan lembaran duka dalam sejarah Indonesia.

Ratusan ribu nyawa manusia menjadi korban dari bencana mahadahsyat abad ini.

Arsip berita Harian SerambiNews.com edisi Senin 3 Januari 2005, memuat tentang kisah seorang ayah yang menanti kepualangan anak semata wayangnya di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Baca juga: Learned from Experience, BMKG Reminds People The Non-Tectonic Tsunami Potential in Central Maluku

Baca juga: Ingat Martunis? Anak Angkat Christiano Ronaldo Korban Tsunami Aceh, Kini jadi Ayah

Artikel ini kami turunkan kembali menjelang peringatan 17 tahun bencana Tsunami Aceh 2004, Minggu (26/12/2021).

PENANTIAN di Masjid Raya

Pria setengah baya berkulit hitam duduk di bawah pohon di seberang Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Di pundaknya tersandang tas hitam. Matanya lurus memandang ke depan, ke arah lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki.

Debu-debu pekat yang menyesakkan dari kendaraan yang lewat dan bau busuk yang menyengat tak dipedulikannya.

Sudah hampir setengah hari ia tak beranjak dari tempat duduknya.

Hanya sekali-kali terlihat menghisap cigaret.

"Menunggu anak saya Pak,” kalimat pendek itu keluar dari mulutya ketika ditanya apa yang dilakukannya saat itu.

Namun matanya masih terus lurus memandang ke arah lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki.

"Saya sudah mencari kemana-mana anak saya tidak ada kabarnya. Saya nunggu di sini siapa tahu anak saya lewat," tambahnya pria yang mengaku bernama M Noor ini.

Baca juga: Korban Tsunami Aceh, Cut Meyrisa Sampai Trauma dengan Laut, Sempat Terpisah dari Orangtua

Baca juga: Datang dari Lampung, Begini Momen Pertemuan Kakak Abrip Asep & Polisi yang Hilang Pasca Tsunami Aceh

M Noor tinggal di Sigli, Kabupaten Pidie. Ia mengaku sudah enam hari di Banda Aceh untuk mencari anaknya Linawati (25).

Ia mengaku sudah tidak tahu lagi kemana untuk mencari anak satu-satunya.

la berharap dengan duduk di depan Masjid Raya Raya pusat kota Banda Aceh itu dapat menemukan anaknya.

"Siapa tahu dia lewat di sini," ujarnya pendek dengan pandangan tetap ke arah lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki di depan Masjid Raya.

Penantianya di depan Masjid Raya itu sudah empat hari.

"Kami dua hari putar putar tidak ketemu. Terus nunggu di sini. Semoga nanti dia lewat, " harapnya dengan logat Aceh.

Anak satu-satunya M Noor yang ditunggu-tunggu itu tinggal di daerah belakang Masjid Raya.

Daerah itu termasuk salah satu daerah yang parah tersapu ombak tsunami dan gempa.

Banyak masyarakat yang tinggal di kawasan Itu yang meninggal dan tidak diketahui identitasnya.

"Dia tinggal di belakang masjid sana pak. Dari sinikan dekat. Saya nunggu dia lewat sini," tambahnya lagi.

Baca juga: Profil Abrip Asep, Personel Brimob Korban Tsunami Aceh 17 Tahun Silam, Sosok Pria Miripnya di RSJ

Baca juga: Polisi Disebut Gugur di Tsunami Aceh 2004 Namun Ternyata di RSJ Kini Diperiksa DNA, Rekan Takut

M Noor tidak sendirian menunggu keluarganya yang hilang di depan Masjid Raya Baiturrahman.

Banyak warga yang melakukan hal yang sama dan dengan harapan yang sama, bisa ketemu keluarga atau sanak saudaranya yang belum diketahui nasibnya.

Mereka tak pernah bosan. Meski hari sebelumnya penantiannya sia-sia, tapi hari berikutnya diulanginya lagi.

Begitu setiap hari sejak gempa dan tsunami meluluhlantakan kota-kota Nanggroe Aceh Darusalam.

M Nazar (18) yang juga mengaku dari Sigli, Kabupaten Pidie. Ia setiap hari bolak balik Banda Aceh-Sigli dengan mengendarai sepeda motor.

Perjalanan sekitar empat jam la tempuh setiap hari. Sudah lima hari ia bolak-balik Banda Aceh-Sigli.

Nazar mencari emaknya dan adik-adiknya. Nazar tidak menyebutkan emak dan adik adiknya tinggal di mana.

Ketika ditanya ia kadang-kadang bengong.

"Gak tau,” jawabnya pendek ketika di mana mereka tinggal.

Nazar mengaku tidak sendirian. Ia selalu setiap hari datang bersama empat tetangganya yang juga sama-sama cari keluarganya dengan mengendarai dua sepeda motor.

Baca juga: Anggota Brimob Dinyatakan Sudah Meninggal Dalam Tsunami Aceh 2004, Ditemukan Lagi Setelah 16 Tahun

Baca juga: Inilah Sosok yang Berjasa Dibalik Penemuan Abrip Asep Setelah 17 Hilang Akibat Tsunami Aceh

"Saya ingin melihat mereka. Siapa tahu lewat sini,” tuturnya.

Nazar dan teman-temannya memang tidak nongkrong seharian di depan Masjid Raya.

Sesekali pergi ke bekas banjir dan reruntuhan.

Tapi waktu yang paling banyak adalah dihabiskan untuk menunggu di depan Masjid Raya.

Mereka sangat berharap dapat berjumpa sanak keluarganya yang hilang di depan Masjid Raya.

Mereka harap orang yang di cari lewat di jalan depan masjid.

Banyak hal-hal nyeleneh yang dilakukan orang yang menanti sanak saudara di depan masjid tersebut.

Baca juga: Mengenang 16 Tahun Tsunami Aceh, Bencana Alam Dahsyat yang Tewaskan Ratusan Ribu Jiwa

Baca juga: 5.5 Mag Earthquake Shakes Alor Region East Nusa Tenggara (NTT), No Tsunami Potential

Seperti yang dilaku Sapi'i (50). Anaknya tinggal di Sabang sekarang belum diketahui nasibnya.

Ia tidak pergi ke Sabang untuk mencarinya, tapi justru ia datang depan masjid untuk menunggu anaknya.

"Ongkos kesana sampai Rp 75 ribu, saya tidak ada uang. Kalau ke sini hanya lima ribu. Saya datang sini saja, siapa tahu dia lewat di sini," ujarnya ketika kenapa tidak mencari anaknya ke Sabang.

Ketika itu, Sapi’i sudah dua hari menunggu anaknya di depan Masjid Raya.(TribunBatam.id) (SerambiNews.com/Yusmandin Idris/Agus Ramadhan)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Tsunami Aceh

Sumber: SerambiNews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved