Rabu, 8 April 2026

BATAM TERKINI

Disbudpar dan Pelaku Wisata Napak Tilas ke Pulau Buluh, Boyan dan Lintang

Disbudpar dipimpin Kepala Dinas, Ardiwinata melakukan napak tilas atau ber heritage walk ke Pulau Buluh, Pulau Boyan dan Pulau Bulang Lintang Batam.

ISTIMEWA
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas, Ardiwinata menelusuri melakukan napak tilas atau ber heritage walk ke Pulau Buluh, Pulau Boyan dan Pulau Bulang Lintang, Sabtu (26/2/2022).   

BATAM, TRIBUNBATAM.id -   Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas, Ardiwinata melakukan napak tilas atau ber heritage walk ke Pulau Buluh, Pulau Boyan dan Pulau Bulang Lintang pada Sabtu (26/2/2022).  

Tak sendirian, dirinya bersama Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Batam, Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD Kepri, Donna Justitia bersama anggota, Pengelola Taman Wisata Hutan Mata Kucing serta didampingi Lurah Pulau Buluh, Borhan.

Mereka juga menelusuri jejak peninggalan Amir Pulau Buluh. Pulau ini dulunya menjadi pusat pemerintahan dan pusat perdagangan.

Di sini rombongan melihat pasar Pulau Buluh.

Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Batam, Edi Sutrisno menjelaskan arsitektur bangunan di kiri dan kanan pasar sama dengan yang ada di Malaka dan Penang.

Dulunya pasar ini dikembangkan oleh tauke Tionghoa bernama Tan Iu Tse. Ia adalah seorang Taulo (dulu kepala administrasi pemerintahan orang Tionghoa, seperti Camat). 

Taulo tidak hanya mengurusi pemerintahan orang Tioghoa saja, tetapi juga mengurusi masalah ekonomi.

Baca juga: Pelaku Penyelundupan PMI Ilegal Kembali Beraksi di Batam, Polsek Nongsa Amankan 5 Orang

Baca juga: DPRD Natuna Dukung Aturan Masuk Sekolah Wajib Punya Sertifikat Khatam Al Quran

“Beliau adalah pemilik toko bahagia, toko pertama di pulau ini yang mensuplai makanan orang-orang Tionghoa,” sebutnya.     

Karena Pulau Buluh menjadi pusat perdagangan dan niaga di Batam, Pulau Buluh mempunyai infrastruktur yang lengkap.

Termasuk bioskop yang bernama capitol yang berdasarkan informasi dulu lokasinya berada di vihara sekarang.

Selanjutnya rombongan mengunjungi perigi tua. Orang Melayu menyebut sumur dengan perigi.

Perigi ini dibangun pada tahun 1911 sebagaimana angka yang tertera didinding perigi. 

Dijelaskan Edi, bangunan perigi menggunakan batu bata yang dibuat Raja Ali Kelana, pemilik batu bata “Batam Brickworks” pada tahun 1896. 

Menurut tokoh masyarakat Pulau Buluh Djuni Rudy Arto, perigi atau sumur ini dulunya digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci dan sebagainya, namun setelah pipanisasi masuk dari Batam, perigi ini sudah tidak digunakan lagi. 

Lokasi perigi dulunya berada di sekolah Cina, kini kondisi perigi terlihat sudah tidak terawat, dipenuhi sampah dan tanaman liar.  

Sumber: Tribun bekasi
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved