Minggu, 26 April 2026

Jenderal Bintang 2 Rusia Paling Disegani Tewas oleh Sniper Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina dilaporkan menewaskan Jenderal Bintang 2 dari pihak Vladimir Putin. Kematiannya pun terbilang mencengangkan.

TribunBatam.id/Istimewa via Tribunnews.com
Mayor Jenderal Andrei Sukhovetsky, Komandan Jenderal Divisi Lintas Udara ke-7 Rusia dan Wakil Komandan Angkatan Darat Gabungan ke-41 dilaporkan tewas akibat sniper Ukraina. 

TRIBUNBATAM.id - Operasi militer khusus yang dilancarkan Rusia ke Ukraina dilaporkan terus memakan korban.

Korban jiwa diketahui tidak hanya dari warga sipil, namun juga meluas ke anggota militer dari kedua negara.

Semua sejak Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan militernya untuk bergerak sejak 24 Februari 2022.

Kedua negara saling klaim akan keberhasilan mereka mempertahankan dan menggempur target sasaran.

Yang terbaru, Jenderal Bintang Dua Rusia dilaporkan menjadi korban dari serangan sniper.

Atau penembak jitu dari Ukraina.

Pada Februari 2022 lalu, Belanda dikabarkan n mengirim peralatan militer ke Ukraina termasuk senapan sniper dan helm, untuk mempertahankan diri dari kemungkinan serangan Rusia.

Baca juga: Pengusaha Rusia Bikin Kontroversi, Hargai Kepala Presiden Vladimir Putin Rp 14 Miliar

Baca juga: China Bersikap Hadapi Konflik Rusia vs Ukraina, Vladimir Putin Minta Pasukan Nuklir Siaga

Langkah anggota NATO itu dilakukan meskipun negata tetangganya, Jerman, diejek oleh Wali Kota Kiev karena mengirim helm ke Ukraina guna menghadapi invasi Rusia.

Satu-satunya persenjataan mematikan yang akan dikirim Pemerintah Belanda ke Ukraina terdiri dari 100 senapan sniper dengan 30.000 butir amunisi, kata Kementerian Luar Negeri.

Belanda juga akan memasok 3.000 helm tempur dan 2.000 rompi lapis baja untuk perlindungan pribadi bagian tubuh vital, katanya.

Belanda selanjutnya akan memasok 30 detektor logam, dua robot untuk mendeteksi ranjau laut, dua radar pengawasan medan perang, dan lima radar lokasi senjata yang membantu tentara mengetahui dari mana datangnya tembakan, katanya.

Jerman pada Januari mengatakan, tidak akan memberikan senjata ke Ukraina tetapi menawarkan 5.000 helm sebagai gantinya. Kebijakan itu dikecam sebagai "lelucon" oleh Wali Kota Kiev Vitali Klitschko.

Belanda membangun hubungan dekat dengan Ukraina setelah insiden MH17 pada 2014.

Tepatnya ketika pesawat Malaysia Airlines yang terbang dari Amsterdam itu ditembak jatuh di atas Ukraina timur pada 2014.

Dari 298 orang yang tewas di dalamnya, 196 di antaranya adalah warga Belanda.

Namun, Belanda sebelumnya bersikap lebih dingin dalam hal dukungan militer.

Baca juga: Presiden Rusia Vladimir Putin Targetkan Kemenangan Pada 2 Maret Atas Ukraina

Baca juga: WNI di Ukraina Laporkan Kondisi Mencekam saat Serangan Rusia, Dengar Deru Pesawat di Langit

Pada 2016, para anggota parlemen Belanda dengan tegas menolak perjanjian utama Uni Eropa-Ukraina.

Sehingga Perdana Menteri Mark Rutte terpaksa membuat kesepakatan kompromi yang membatasi komitmen pertahanan UE ke Ukraina dan jaminan keanggotaan penuh UE untuk Kiev.

Kematian jenderal besar Rusia bernama Mayor Jenderal Andrei Sukhovetsky oleh pasukan sniper Ukraina disebut sebagai pukulan telak untuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

Mayor Jenderal Andrei Sukhovetsky adalah Komandan Jenderal Divisi Lintas Udara ke-7 Rusia dan Wakil Komandan Angkatan Darat Gabungan ke-41.

Seperti dikutip dari The Sun, Kamis (3/3/2022), Mayjen Sukhovetsky tewas dalam pertempuran di Pangkalan Udara Hostomel, sekitar 30 mil di luar ibu kota Ukraina, Kiev.

Sumber militer mengungkapkan, Mayjen Sukhovetsky tewas karena tertembak oleh sniper atau penembak jitu.

Sejauh ini, ia menjadi sosok senior pertama yang tewas dalam pertempuran di Ukraina.

Dilansir dari The Independent, Putin mengonfirmasikan bahwa seorang jenderal telah terbunuh pada pertempuran di Ukraina.

Menurut ahli, terbunuhnya Mayjen Sukhovetsky menjadi gambaran bahwa usaha Putin menyerang Ukraina tak sesuai rencana.

Baca juga: Akankah Perang Rusia - Ukraina Berlanjut? Perundingan 2 Negara Jadi Penentu

Baca juga: Cristiano Ronaldo Tolak Invasi Rusia ke Ukraina, Ingatkan Makna Perdamaian bagi Anak-Anak

Ia merupakan pasukan penerjun payung yang disegani, terlatih dalam misi di wilayah musuh, dan memiliki peran penting dalam pencaplokan Krimea pada 2014 lalu.

Direktur Eksekutif laman jurnalisme investigatif Bellingcat, Christo Grozev, mencuitkan bahwa kematiannya akan menjadi penurunan motivasi utama bagi tentara Rusia.

Rusia sendiri saat ini mengklaim jumlah tentara Rusia yang tewas di Ukraina adalah 498 orang, dan sekitar 1.597 tentara lainnya terluka.

Namun, pejabat Inggris mengungkapkan, jumlah pasti tentara Rusia yang tewas dan terluka sudah pasti lebih tinggi dan akan terus bertambah.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengungkapkan, setidaknya 227 warga sipil telah tewas dan 525 orang terluka di Ukraina sejak serangan dimulai pekan lalu.

Sementara, layanan gawat darurat Ukraina menegaskan, lebih dari 2.000 penduduk sipil telah tewas.

ALASAN Rusia Serang Ukraina

Pada 24 Februari 2022, Rusia mulai menyerang Ukraina hingga mengakibatkan adanya ledakan di sejumlah kota besar di Ukraina.

Serangan di sejumlah kota besar di Ukraina tersebut dilakukan usai Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dalam pidatonya mengenai pendeklarasian operasi militer khusus di Ukraina.

Beberapa saat usai pidato tayang, suara ledakan terdengar di Kramators, Ukraina. Usai serangan tersebut setidaknya terdapat 137 warga Ukraina yang tewas dan 316 orang mengalami luka.

Dikutip dari BBC, beberapa saat sebelum serangan, Putin dalam pidatonya menyebut, alasan Rusia menyerang adalah karena Rusia tak bisa merasa aman, berkembang, dan eksis karena menurutnya Ukraina modern adalah ancaman yang konstan.

Baca juga: Inggris Sebut Operasi Militer Khusus Rusia Gagal, Ukraina Berhasil Pukul Mundur?

Baca juga: Rusia Rebut Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl, Ukraina Kehilangan 137 Pahlawannya

Rusia menolak untuk menyebut serangan sebagai perang ataupun invasi.

Putin mengeklaim bahwa tujuannya melakukan perang adalah untuk melindungi orang-orang yang menjadi sasaran intimidasi dan genosida.

Selain itu, Putin menyebut serangan tersebut bertujuan untuk demiliterisasi dan denazifikasi.

Meski demikian, alasan tersebut dibantah oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Zelensky mengatakan tak ada genosida di Ukraina.

Zelensky juga menyebut Ukraina adalah negara demokrasi dengan seorang Presiden Yahudi.

“Bagaimana saya bisa menjadi seorang Nazi?” kata Zelensky.

Ukraina adalah bagian dari Rusia Banyak pihak menilai, alasan kuat serangan Putin ke Ukraina sebenarnya yang utama adalah akibat rencana Ukraina yang ingin bergabung ke NATO.

Dikutip dari laman CNN, Putin sempat mengatakan bahwa ekspansi NATO adalah ancaman eksistensi dan jika Ukraina bergabung dengan aliansi militer Barat hal ini adalah sebuah tindakan permusuhan yang bisa memberikan ancaman bagi Rusia.

Baca juga: Ganjar Pranowo Kagum Dubes Ukraina Paham Sejarah Bangsa Indonesia

Baca juga: Operasi Militer Khusus Rusia Hantam Ukraina, Volodymyr Zelensky Minta Warganya Melawan

Selama ini, Putin telah menekankan pandangannya bahwa Ukraina adalah bagian dari Rusia secara budaya, bahasa, dan politik.

Karena itulah, Putin menentang bergabungnya Ukraina ke NATO.

Rusia bahkan menuntut jaminan hukum bahwa Ukraina tak akan pernah diterima di NATO , meskipun tuntutan tersebut ditolak.

Dalam sebuah esai pada Juli 2021, Putin menyebut Rusia dan Ukraina sebagai satu bagian dan mengatakan Barat telah merusak Ukraina dan menariknya keluar dari orbit Rusia.

Namun sejauh ini tampaknya upaya Putin untuk menarik kembali Ukraina ke wilayah Rusia telah mendapat banyak reaksi.

Dalam tiga dekade terakhir, Ukraina telah berusaha merapat ke lembaga-lembaga Barat seperti Uni Eropa dan NATO.

Akibat tindakannya, Rusia mendapat kecaman internasional dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Australia dan Inggris memberikan sanksi terhadap Rusia.(TribunBatam.id) (Tribunnews.com) (Kompas.tv) (Kompas.com/Nur Rohmi Aida)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Rusia

Sumber: Tribunnews.com, Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved