Kamis, 4 Juni 2026

Potret Pemakaman Pasien Covid-19 di Batam Jelang Ramadhan 1443 Hijriah

Anisa, salah satu penjual bunga di TPU Sei Temiang mengatakan, 2 minggu sebelum puasa, sudah banyak peziarah yang datang. Kebanyakan dari luar Batam.

Tayang:
Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Pertanian Sitanggang
Potret tempat pemakaman pasien covid-19 khusus Islam di Batam tampak sepi dari peziarah pada Sabtu (2/4/2022). Puncak keramaian peziarah di tempat ini terjadi pada H-3 jelang puasa Ramadhan.. 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Satu hari jelang puasa Ramadhan 1443 Hijriah, peziarah di tempat pemakaman pasien Covid-19, khusus agama Islam di TPU Sei Temiang Batam, mulai berkurang.

Dari informasi yang dihimpun Tribun Batam, puncak ziarah di pemakaman ini terjadi tiga hari jelang puasa.

Anisa, salah satu penjual bunga di TPU Sei Temiang mengatakan, dua minggu sebelum puasa, ahli waris sudah banyak yang datang berziarah, sekaligus membersihkan makam keluarganya.

Ahli waris yang datang jauh hari sebelum puasa ini bukan warga Batam.

"Banyak juga dari luar Batam, seperti Karimun, Tanjungpinang dan Bintan," katanya, Sabtu (2/4/2022).

Ia mengatakan, untuk warga Batam sendiri mulai datang berziarah satu minggu sebelum puasa.

"Ramai juga yang datang, biasanya pagi, dan sore hari," terangnya.

Di tempat terpisah Anto, penggali kubur mengatakan, para peziarah biasanya datang untuk mengirimkan doa bagi keluarganya.

Baca juga: Sambut Ramadhan, Kapolsek Sekupang Serahkan Bantuan Kipas Angin ke Masjid Nurul Iman

Baca juga: Doa-doa yang Bisa Dilafalkan Ketika Ziarah Kubur Jelang Ramadhan 2022

"Kalau untuk kebersihan dan perawatan makam, itu sudah dilakukan petugas," katanya.

Biasanya para peziarah datang tak sendirian, melainkan bersama keluarga.

"Ramalah biasanya," kata Anto..

Kisah Ibu Hidupi Lima Anak dari Jualan Bunga Makam

Sementara itu di tempat berbeda, terik matahari menusuk kulit di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Taman Langgeng Sei Panas, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) hari ini, Sabtu (2/4/2022) sekitar pukul 14.00 WIB.

Meski teriknya mentari, namun peziarah yang datang tetap ramai.

Di pinggir makam, terlihat seorang wanita berteduh di bawah payung besar.

Wanita itu tidak sedang bersantai. Ia berjualan bunga makam.

Namanya Yurmani dan usianya sudah tak muda lagi. Tahun ini masuk 55 tahun.

Setiap harinya, Yurmani berjualan bunga makam demi menghidupi kelima anaknya.

Sebatang kara menafkahi anak-anaknya tanpa ditemani sosok suami, tak mematahkan semangat Yurmani berjualan di TPU Taman Langgeng Sei Panas.

"Bapaknya (suami Yurmani) sudah gak ada, saya usaha sendiri. Semenjak kecil-kecil saya sudah jual bunga," ujarnya sembari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil berwarna putih.

Baca juga: PT PLN Batam Siaga Pasokan Listrik Saat Ramadhan, Kerahkan 85 Petugas di 6 Lokasi Siaga

Baca juga: Wisman Singapura Keluhkan Layanan PCR Masuk Batam di Pelabuhan, Hasil Tes Lama Keluar

Yurmani tinggal di permukiman padat penduduk di Baloi Kolam, tak jauh dari posisi TPU, tempat dirinya mencari nafkah.

Ia dan suaminya tinggal di Batam sejak 1999 silam. Namun suaminya sudah meninggal dunia pada tahun 2006 lalu.

"Nah, waktu yang besar SMP kelas 2 ditinggal bapaknya. Langsung putus sekolah. Nomor 2, waktu itu mau masuk SMP tapi langsung tak nyambung lagi. Anak ketiga naik kelas 4 waktu itu. Nah lanjut sampai kelas 2 SMP berhenti, nah udah nikah kemarin. Anak keempat juga tak sampai SMP, anak kelima sekarang masih SD," paparnya.

Sesekali ia juga ditemani anak-anaknya berjualan di makam. Namun dirinya lebih sering jualan bunga makam sendirian.

Setiap hari, anak-anaknya turut membantu Yurmani mencari bunga yang akan dijual. Lantaran tak seluruh bunga dibeli di toko bunga.

"Anak saya yang cari bunganya. Tapi ada juga yang saya beli. Seperti bunga yang berwarna merah ini harus dicari. Selain itu saya juga membeli plastik untuk tempat bunga dan air galon isi ulang," katanya.

Di hari biasa, 1 kantong bunga makam dijual hanya seharga Rp 5 ribu. Ada 6 hingga 7 jenis bunga di dalamnya. Apabila di hari besar seperti menjelang Ramadan dan Idul Fitri, bunga dijual dengan harga Rp 10 ribu per kantong.

Peziarah juga biasanya menggunakan air saat di makam. Yurmani juga menyediakan air yang dijual Rp 3000 per botol yang berisi 1.8 liter.

Yurmani menuturkan selama pandemi Covid-19, penjualan bunga makam memang menurun. Per harinya palingan hanya mendapat omzet Rp 20 hingga Rp 30 ribu. Tapi kalau kondisi ramai, dirinya bisa meraup omzet sampai Rp 50 ribu.

"Kadang-kadang malah tak ada," katanya.

Jelang Ramadhan 2022 ini, omzet per harinya bisa mencapai Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Namun terkadang rasa cemburu bisa menghampiri hatinya.

Posisi tempat jualan Yurmani berada hampir di belakang. Sementara banyak juga orang yang menjual bunga berdekatan dengan gapura makam. Sehingga penjualan Yurmani tak sama dengan pedagang yang berada di dekat gapura makam.

"Posisi saya jual bunga agak ke belakang, kalau jualan di depan dekat gerbang makam bisa dapat jutaan orang di sana. Tapi saya syukuri saja," katanya.

Sembari memberikan senyuman kepada peziarah yang membeli bunganya, Yurmani juga selalu bersikap ramah kepada pembeli.

(Tribunbatam.id/Pertanian Sitanggang/Roma Uly Sianturi)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved