Kenapa Harga Tiket Pesawat Mahal padahal Musim Mudik Sudah Berakhir?
Sejumlah hal membuat harga tiket pesawat membengkak saat pemerintah melonggarkan aturan penerbangan di masa pandemi saat musim mudik telah berakhir
TRIBUNBATAM.id - Sejumlah hal membuat harga tiket pesawat membengkak saat pemerintah melonggarkan aturan penerbangan di masa pandemi.
Biang kerok mahalnya harga tiket pesawat pun diungkapkan Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo).
Minimnya frekuensi penerbangan dan kurangnya armada pesawat yang beroperasi, sedangkan permintaannya cukup tinggi menjadi salah satu harga tiket pesawat mahal.
Pantauan dari sejumlah Online Travel Agent (OTA) pada Jumat (3/6/2022), tarif tiket pesawat sekali jalan untuk rute penerbangan Jakarta-Singapura kisaran Rp 2,6-8,6 juta untuk kelas ekonomi.
Sementara harga tiket pesawat rute penerbangan Singapura-Jakarta lebih tinggi, yaitu kisaran Rp 5,7-27 juta sekali jalan untuk kelas ekonomi.
Anehnya, harga tiket pesawat masih tinggi usai dilonggarkannya syarat perjalanan dalam dan luar negeri.
Padahal periode peak season mudik Lebaran sudah lama berakhir.
Baca juga: Aturan Prokes Pelaku Perjalanan dengan Pesawat Terbang, Kapal & Transportasi Darat Sesuai SE Satgas
Baca juga: Jadwal Pesawat dan Harga Tiket dari Batam ke Medan, Padang, Jakarta Dll untuk Penerbangan Jumat 3/6
Ketua Umum DPP Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan, untuk harga tiket ke Filipina yang bukan destinasi favorit masyarakat Indonesia bisa mencapai Rp 14 juta.
"Bukan saja keluar Indonesia yang mahal tapi juga dari luar negeri ke Indonesia mahal. Tiket dari Singapura-Jakarta mencapai 1.000 dollar Singapura pp (sekitar Rp 10,6 juta)," ujarnya, Jumat (3/6/2022).
Menurut dia, dengan tarif tiket pesawat yang mahal ini disebabkan oleh minimnya frekuensi penerbangan dan kurangnya armada pesawat yang beroperasi, sedangkan permintaannya cukup tinggi.
Sejak pandemi Covid-19, pemerintah melakukan pembatasan perjalanan di dalam maupun luar negeri guna mengurangi penyebaran Covid-19.
Aturan tersebut membuat maskapai terpaksa banyak mengurangi frekuensi penerbangan dan menutup rute-rute yang bukan favorit untuk menghemat biaya operasi.
"Garuda Indonesia saja kan (armada pesawatnya) juga sudah banyak dikembalikan ke lessor," jelasnya.
Selain itu, menurut dia, kenaikan harga avtur yang menjadi bahan bakar pesawat juga menjadi biang kerok melambungnya tarif tiket pesawat.
Baca juga: Prokes Perjalanan Terbaru Pesawat Udara, Kapal Laut dan Transportasi Darat Sesuai SE Satgas Covid-19
Baca juga: Syarat Penerbangan bagi Calon Penumpang Pesawat Lion Air, Garuda, Citilink yang Sudah Vaksin/Belum
"(Penyebab kenaikan tarif pesawat) Frekuensi penerbangan belum sebanyak dulu, harga avtur naik dan armada pesawat masih kurang juga," ucapnya, dikutip dari kompas.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/07072021suasana-bandara-hang-nadim-batam.jpg)