Kamis, 30 April 2026

Kapal PMI Tenggelam di Batam

Kapal PMI Asal NTB Tenggelam, Jumisah Sempat Larang Rahim Berangkat Malam Jumat

Jumisah, istri M Rahim bercerita, sebelum naik kapal, ia sempat meminta suaminya agar tidak berangkat pada malam Jumat kala berbincang via video call

Tayang:
Editor: Dewi Haryati
Tribunlombok.com/Sinto
Jumisah (tengah) istri Muhammad Rahim, satu di antara PMI yang jadi korban kapal tenggelam di Batam. Foto diambil Sabtu (18/6/2022) 

LOMBOK TENGAH, TRIBUNBATAM.id - Tujuh korban hilang insiden kapal pengangkut Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) tenggelam di perairan Batam masih belum ditemukan hingga Minggu (19/6/2022).

Dari 30 PMI yang berada di kapal nahas itu, pihak terkait telah merilis daftar 23 nama korban selamat.

Namun dari daftar itu tidak ada penumpang atas nama Muhammad Rahim.

Hal ini membuat Jumisah, istri Muhammad Rahim, tak tenang.

Ia masih menunggu berita terkait nasib suaminya yang belum ditemukan hingga kini.

Jumisah masih berharap ada kabar baik.

Sebelumnya, ibu satu anak ini tampak terpukul setelah mengetahui suaminya satu kapal dengan 30 penumpang lainnya di kapal nahas itu.

Kepada TribunLombok.com, Jumisah bercerita sebelum naik kapal, ia sempat meminta suaminya agar tidak berangkat pada malam Jumat kala berbincang via video call.

Baca juga: Hari ke-3 Pencarian Tujuh Korban Hilang Insiden Kapal Angkut PMI Tenggelam di Batam

Baca juga: Curhatan Keluarga PMI Ilegal yang Tenggelam di Batam, Anaknya Sempat Telepon Sebelum Tenggelam

"Dia waktu itu meminta doa supaya selamat dalam perjalanan. Kita tidak ada merasakan firasat apapun sebenarnya," terang Jumisah kepada Tribunlombok.com, Sabtu (18/6/2022).

Dalam percakapan video call tersebut, Jumisah menanyakan dan meminta agar suaminya tidak berangkat pada malam Jumat. Namun suaminya menjawab, itu semua sudah diatur sama bos.

"Jadi suami saya ikut saja apa perkataan bosnya meskipun harus berangkat pada malam Jumat," tambah Jumisah yang ditemani seluruh keluarga besar di rumahnya.

Video call via whatsapp tersebut merupakan percakapan terakhir dengan suaminya.

Hingga saat ini, ponsel suaminya tidak bisa dihubungi kembali setelah kejadian kecelakaan kapal yang membawa 30 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB tersebut, Kamis (16/6/2022) malam di perairan Batam, Kepri.

Jumisah dan keluarga hingga saat ini juga menyesalkan ingkar janji tekong.

Kapal yang seharusnya membawa 12 sampai 15 orang namun diisi dengan 30 orang penumpang.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved