Indonesia Nomor Tiga Kasus Kusta Terbanyak di Dunia, Kenali Cara Penularannya
Berikut cara penularan penyakit kusta. Data WHO 2021 mencatat, Indonesia menempati nomor tiga kasus kusta terbanyak di dunia setelah India dan Brazil.
"Masih banyak kejadian ada anak sekolah yang harus keluar karena ada kusta, guru tidak boleh mengajar lagi. Seharusnya orang yang pernah mengalami kusta dirangkul dan diberi kesempatan yang sama," ungkapnya.
Dokter Christina menyampaikan, pengobatan kusta dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas.
Adapun biaya pengobatannya gratis, dan akan disokong hingga pasien sembuh.
Baca juga: Inilah Kelompok Orang Paling Rawan Terjangkit Virus Corona Varian Baru, Simak Kata Peneliti WHO
Baca juga: INI 6 Penyakit yang Rawan Mengintai Kesehatan Tubuh di Musim Hujan, Simak Tips Pencegahannya
Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk berobat sedini mungkin di puskesmas agar tidak menyebabkan keparahan penyakit.
"Situasi di masyarakat, mereka masih mendengar mitos banyak yang masih mengatakan bahwa kusta penyakit kutukan, keturunan, guna-guna. Faktanya penyakit kusta menular, menahun, penyebabnya kuman. Kumannya Mycobacterium leprae, satu keluarga dengan TBC tapi kusta tidak seganas TBC dan bisa sembuh tentunya," lanjutnya lagi.
CEGAH Penularannya
Mengutip laman Kemenkes, Kamis (3/2/2022) gejala kusta dapat berupa bercak putih dan merah, tidak ada rasa gatal dan sakit.
Maka tak jarang, penderita kusta tidak menyadarinya.
Padahal, penyakit ini berpotensi menimbulkan kecacatan apabila tidak segera diobati.
Mereka yang berkontak serumah berpotensi sembilan kali lebih tinggi tertular kusta.
Kemudian, tetangga yang tinggal dekat enam kali lebih tinggi, dan kontak sosial empat kali lebih tinggi bila berkontak dengan pasien kusta yang belum diobati.
"Jadi kalau yang sudah dilakukan kalau ketemu satu kasus, tidak boleh lebih dari sebulan harus diperiksa kontaknya. Setelah diperiksa, kalau memang memenuhi syarat diberikan satu dosis rifampicin untuk mencegah terjadinya kusta pada mereka yang berisiko tertular," tuturnya.
Kontak sosial, lanjut Christina, dapat diidentifikasi minimal 20 jam bila berdekatan dengan pasien kusta yang belum berobat.
Misalnya, teman sekelas anak sekolah yang terinfeksi kusta harus ditelusuri dan diperiksa bila telah berkontak langsung.
Baca juga: Omicron Bukan Penyakit Ringan, WHO Sebut Varian Ini Juga Bisa Membunuh Manusia
Baca juga: HOAKS Pfizer dan WHO Bekerjasama Munculkan Varian Covid-19 Omicron
Hal yang sama juga berlaku pada mereka yang bekerja, di mana teman satu kantor perlu menjalani pemeriksaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-penyakit-mematikan_20151130_130019.jpg)