Selasa, 21 April 2026

Awas Bahaya Flu Singapura, Kenali Penyebaran, Gejala dan Cara Mengobatinya

Flu Singapura menjadi perhatian di Indonesia. Para ahli mengungkap gejala, cara penularan hingga cara mengobatinya.

TribunBatam.id via Foto Theasianparents
FLU SINGAPURA - Salah satu ciri-ciri anak yang mengidap Flu Singapura. Para ahli mengungkap asal usul Flu Singapura, cara penularan, gejala hingga cara mengobatinya. 

TRIBUNBATAM.id - Penyakit Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau Flu Singapura menjadi perhatian di Indonesia, selain covid-19.

Dinamakan flu Singapura karena gejala yang mirip dengan flu, dan pada saat itu di Singapura banyak terjadi kasus serta kematian akibat penyakit ini.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman yang juga dokter spesialis kulit dan kelamin di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto, Ismiralda Oke Putranti menjelaskan, HFMD atau flu Singapura adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus coxsackie A16 dan enterovirus 71.

Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak dan mudah menular.

Kejadiannya meningkat terutama pada peralihan musim.

Baca juga: Apa Itu Flu Singapura? Ramai Twit Serang Anak-anak di Malaysia hingga Indonesia

Sebagai informasi tambahan, Flu Singapura atau penyakit tangan, mulut dan kuku ini bisa dilihat secara kasat mata.

Ciri khas yang ditimbulkan seperti kelainan pada kulit, tangan, mulut dan kaki.Sedangkan gejala lain bisa serupa dengan flu biasa.

Untuk penyebarannya, terjadi karena kontak erat atau mekanisme penularan selain droplet.

Praktisi Kesehatan dan Ahli Epidemiologi Dicky Budiman, umumnya penyakit ini sifatnya ringan sampai sedang.

Meski begitu warga Indonesia diminta untuk tetap waspada.

Karena, pada beberapa kasus, walau jarang bisa berakibat fatal.

Walau jarang terjadi, Dicky menyebutkan jika Flu Singapura bisa menyebabkan infeksi pada otak.

"Umumnya bisa sembuh sendiri paling lama dua minggu, tanpa terapi spesifik. Sifatnya terapi mengurangi gejala saja. Tapi sebagian besar bisa ditangani di rumah. Hanya, beberapa kasus walau jarang bisa fatal karena bisa menyebabkan infeksi di otak," ungkapnya pada Tribunnews, Senin (8/8/2022).

Baca juga: Kenali Apa Itu Flu Singapura, Ciri-ciri dan Penyebabnya, Rentan Menyerang Bayi dan Anak-anak

Dicky menyebutkan jika pada kasus yang sangat jarang bisa menyebabkan gangguan pada syaraf.

Hal ini menurutnya bisa menimbulkan kelumpuhan.

Hingga saat ini, belum ada vaksin yang bisa dipakai untuk penyakit Flu Singapura.

Selain itu juga belum ditemukan obat yang spesifik.

Selain itu seseorang yang pernah sakit, bisa terinfeksi kembali. Walau sifat re-infeksi nya, berbeda dengan Covid-19.

Pada Flu Singapura, infeksi kedua dan selanjutnya makin ringan atau berkurang potensi keparahannya.

Dicky pun menyebutkan jika cara mencegah penyakit ini ternyata tidak jauh berbeda dengan Covid-19.

"Prinsip pencegahan, pola hidup sehat termasuk 5M dalam pandemi Covid-19 tetap bermanfaat pada penyakit menular lain, termasuk Flu Singapura. Bahkan ventilasi sirkulasi udara yang baik menjadi sangat penting," tegasnya.

Selain itu Dicky juga mengingatkan untuk menjaga kebersihan di rumah dan lingkungan.

Selain itu, penggunaan barang bersama bisa menjadi atensi penularan.

Baca juga: Rentan Serang Anak-anak, Kenali Penyebab dan Gejala Flu Singapura, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?

Berikut penyebaran Flu Singapura seperti diberitakan Kompas.com, Senin (16/5/2022), di antaranya:

  1. Air Liur
  2. Dahak
  3. Lendir hidung
  4. Cairan blister atau cairan pada luka lepuh
  5. Feses atau kotoran
  6. Melalui cairan milik penderita, penyakit ini akan menyebar ke orang lain yang melakukan kontak langsung, seperti berciuman, berpelukan, atau menggunakan peralatan makan yang sama.
  7. Kontak langsung dengan kotoran seperti saat mengganti popok juga bisa menjadi media penularan Flu Singapura.

Terdapat beberapa gejala awal yang muncul jika terinfeksi HFMD, yakni:

  1. Demam
  2. Nyeri tenggorokan
  3. Timbul luka pada area dalam mulut, yang akan menyebar hingga tenggorokan, lidah, bahkan area sekitar bibir
  4. Nyeri pada mulut
  5. Kehilangan nafsu makan Lemas Lebih rewel (pada bayi dan anak)
  6. Beberapa hari kemudian baru muncul kemerahan dan lenting-lenting pada tangan dan kaki

MASA Inkubasi

Melansir dari laman Kemenkes, masa inkubasi penyakit ini adalah 3-7 hari.

Baca juga: Rentan Serang Anak-anak, Kenali Penyebab dan Gejala Flu Singapura, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?

Biasanya dimulai dengan gejala demam, nafsu makan berkurang, sakit tenggorokan, dan perasaan tidak enak (malaise).

Satu atau dua hari setelah demam, luka yang menyakitkan akan mulai berkembang di mulut (herpangina).

Luka tersebut biasanya sepert bintik-bintik merah kecil, seringnya ada di bagian belakang mulut yang melepuh dan sakit.

Ruam kulit dengan bintik-bintik merah dan terkadang disertai lepuh terdapat di telapak tangan dan telapak kaki, juga berkembang dalam kurun waktu satu hingga dua hari.

Tanda-tanda tersebut bisa juga muncul di lutut, siku, pantat, atau area genital.

Di beberapa orang terutama anak-anak, akan mengalami dehidrasi jika tidak mampu menelan cairan yang cukup akibat rasa sakit yang muncul di sekitar mulut.

Sementara itu, di beberapa orang terutama orang dewasa, Flu Singapura bisa tidak menimbulkan gejala sama sekali.

Meski demikian, mereka masih bisa menularkan virus kepada orang lain.

Pengobatan Flu Singapura

Jika terkena HFMD, ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan, yakni beristirahat, serta makan dan minum dengan cukup.

Bila terasa nyeri, bisa juga mengonsumsi obat seperti paracetamol atau ibuprofen.

Baca juga: Putra Baim dan Paula, Kiano Tiger Wong Terinfeksi Flu Singapura, Ini Gejala dan Penyebab

Untuk meredakan nyeri di mulut, bisa dengan mengonsumsi es krim atau minum air es.

Infeksi virus ini umumnya sembuh sendiri asalkan beristirahat serta makan dan minum dengan cukup.

Komplikasi Meski bisa umumnya bisa sembuh dengan sendirinya, penyakit tangan, kaki, dan mulut ini bisa juga menimbulkan beberapa komplikasi.

Melansir dari Healthline, potensi komplikasi penyakit ini meliputi:

  1. Dehidrasi
  2. Kuku jari tangan atau kuku kaki rontok
  3. Meningitis
  4. Radang otak
  5. Kelumpuhan.(TribunBatam.id) (Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi) (Kompas.com/Diva Lufiana Putri)

Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google

Sumber: Tribunnews.com, Kompas.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved