Breaking News:

Kabar Pemerintah Bakal Naikkan Harga BBM Subsidi, Relawan Jokowi Bereaksi

Relawan Jokowi bereaksi terkait kabar pemerintah yang bakal menaikkan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat.

TRIBUNBATAM.id/FEBRIYUANDA
Potret pengendara mengisi BBM di SPBU Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri beberapa waktu lalu. Relawan Jokowi bereaksi terkait kabar rencana pemerintah menaikkan harga BBM subsidi dalam waktu dekat. Foto ilustrasi. 

JAKARTA, TRIBUNBATAM.id - Ketua Umum Relawan Jokowi (RèJO), Darmizal meminta Presiden Jokowi menunda kenaikan harga BBM bersubsidi.

Kritik Relawan Jokowi terkait usulan kenaikan harga BBM itu, setelah pemerintah yang berencana menaikkan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat.

Pemerintah menilai subsidi untuk BBM terlalu besar selama ini.

Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu) Sri Mulyani sebelumnya mengungkap anggaran subsidi energi 2023 dan kompensasi turun tajam atau minus 33 persen dibandingkan 2022.

Pemerintah, menurut Menkeu Sri Mulyani hanya mengalokasikan anggaran subsidi energi 2023 dan kompensasi sebesar Rp 336,7 triliun.

Baca juga: Kapal Tanker Malaysia Ditangkap di Perairan Batam, Diduga Selundupkan BBM Ilegal

Dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2023, Sri Mulyani menyebut jika anggaran tersebut terdiri dari subsidi energi Rp 210,7 triliun dan anggaran kompensasi Rp 126 triliun.

Untuk subsidi yang mencapai Rp 502 triliun tahun ini, termasuk subsidi energi dan kompensasi, tahun depan anggarannya adalah Rp 336,7 triliun.

"Menaikkan harga BBM bersubsidi saat ini lebih banyak mudhorat dari pada manfaatnya," kata Darmizal, di Jakarta, Sabtu (27/8/2022).

Menurut Darmizal, ada empat alasan kenapa Presiden sebaiknya menunda kenaikkan harga BBM bersubsidi.

Pertama, harga minyak dunia saat ini menunjukkan trend menurun, tidak naik.

Ketika harga minyak dunia mulai turun, maka pemerintah dapat melakukan strategi menekan dibiaya produksi.

"Langkah itu bisa dilakukan, umpamanya dengan cara pembelian minyak mentah langsung oleh Pemerintah, bukan oleh pertamina atau pihak ketiga. Selama ini, biaya produksi minyak dalam negeri lebih mahal dari biaya produksi minyak Malaysia," ucapnya.

Kedua, kata Darmizal, Presiden telah berlaku sangat bijak, dengan menginstruksikan Kementerian BUMN dan Perhubungan untuk menunda kenaikan harga tiket pesawat Garuda dan pesawat swasta nasional.

Baca juga: Menkeu Sebut Pensiunan PNS Bebani Negara, Pensiunan DPR Malah Jadi Sorotan

Ini dilakukan Presiden guna menekan laju inflasi yang sekarang berada dilevel 4,95 persen.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved