Breaking News:

BINTAN TERKINI

Polres Bintan Serahkan Barang Bukti dan 7 Tersangka Kasus PMI Ilegal ke Kejari

Polres Bintan menyerahkan barang bukti dan tujuh tersangka kasus 16 calon PMI ilegal di wilayah Bintan ke JPU Kejari Bintan.

Penulis: Alfandi Simamora | Editor: Tri Indaryani
TRIBUNBATAM.id/Alfandi Simamora
Barang bukti Speedboat diangkut menggunakan truk di samping Kantor Kejari Bintan. 

BINTAN, TRIBUNBATAM.com - Penyidik Polres Bintan melakukan penyerahan barang bukti dan 7 tersangka (Tahap ll) kepada Jaksa Penuntut Umum Kejari Bintan terkait kasus PMI Ilegal di Wilayah Bintan, Rabu (28/9/2022) kemarin.

Kasi Pidum Kejari Bintan, Andi Akbar menuturkan, penyerahan barang bukti dan 7 tersangka (Tahap ll) terkait tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terhadap 16 Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Menurutnya, tujuh tersangka itu telah menjadi tahanan JPU Kejari Bintan selama 20 hari.

Pihaknya, segera menyusun dakwaan untuk segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Tanjungpinang.

"Sebelum 20 hari, kami akan limpahkan berkas dakwaan ke pengadilan, sekaligus tujuh tersangka dipindahkan ke Rutan. Untuk sementara, ketujuhnya masih dititipkan ke sel tahanan Polres Bintan," imbuhnya.

Sementara itu, terkait barang bukti Speedboat dititip di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan).

"Kalau barang bukti Speedboat dititip di Rupbasan," ungkapnya.

Baca juga: Warga Bintan Terjaring OTT saat Hendak Selundupkan 3000 Butir Obat Psikotropika

Sebelumnya, Polres Bintan mengamankan 7 orang yang diduga pelaku terkait kasus penyelundupan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Ilegal di Kabupaten Bintan, Minggu (3/7/2022) lalu.

Para pelaku diamankan di empat lokasi yang berbeda di wilayah hukum Polres Bintan.

Kapolres Bintan, AKBP Tidar Wulung Dahono menuturkan, 7 orang pelaku yang diamankan ini atas kasus 16 orang yang menjadi korban dalam kasus penyelundupan PMI ilegal.

Tujuh orang yang terlibat dalam penyelundupan calon PMI merayu para korban, yang berasal dari Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Di mana pelaku mengambil upah keberangkatan dari korban yang berangkat dari Lombok ke Malaysia melalui Bintan dan Batam dengan meminta upah sebesar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per orang.

Berdasarkan keterangan para tersangka, bahwa 16 calon PMI itu berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Lalu, mereka tampung para pekerja migran itu di Kota Batam sebelum diberangkatkan ke Malaysia melalui jalur ilegal bagian Utara Bintan.

Atas tindakan kejahatan itu, 7 tersangka dijerat pasal 81 jo pasal 69 Undang-Undang nomor 18 tentang perlindungan PMI, jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

“Dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Perkara ini masih dilakukan penyidikan dan pengembangan,” katanya. ( TRIBUNBATAM.id/Alfandi Simamora)

 

 

 

Sumber: Tribun Batam
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved