PERBANKAN
SUKU Bunga Acuan Diprediksi Bakal Terus Naik, OJK Perpanjang Restrukturisasi Kredit
OJK memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit untuk membantu debitur yang berpotensi mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya.
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Sejumlah ekonom memprediksi suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) akan terus naik sampai akhir tahun 2022.
Hal ini merespon faktor-faktor ekonomi yang terjadi di dalam negeri maupun juga situasi global.
Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 4,25 persen, pada Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 21-22 September 2022 lalu.
Sejumlah ekonom memperkirakan, suku bunga acuan dapat terus naik hingga mencapai 5 persen.
Di sektor jasa keuangan sendiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih merespon optimis hal ini tidak terlalu mempengaruhi kinerja perbankan sampai ke taraf krisis.
Meski demikian, OJK kemungkinan akan melanjutkan kebijakan antisipasi yang telah dijalankan, salah satunya seperti Restrukturisasi Kredit.
"Kami masih optimis kinerja perbankan akan tumbuh terus. Meskipun, untuk berjaga-jaga, kebijakan Restrukturisasi Kredit kemungkinan besar akan tetap berjalan tapi tidak secara holistik lagi," ujar Kepala Perwakilan OJK Kepulauan Riau (Kepri), Rony Ukurta Barus, Selasa (18/10/2022).
Baca juga: TIPS OJK, Cara Lindungi Data Pribadi untuk Keamanan Transaksi Keuangan Digital
Restrukturisasi kredit adalah upaya perbaikan dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang berpotensi mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya.
Beberapa kebijakan restrukturisasi kredit di antaranya, penurunan suku bunga kredit, perpanjangan jangka waktu, pengurangan tunggakan bunga/pokok, dan sebagainya.
Dalam rangka pemulihan ekonomi, OJK telah memperpanjang masa kebijakan restrukturisasi ini dari tanggal 31 Maret 2022 menjadi berakhir tanggal 31 Maret 2023. Perpanjangan restrukturisasi kredit ini juga berlaku bagi BPR dan BPRS.
Kebijakan ini dinilai cukup efektif, melihat sejak pertama kali dijalankan, yakni pada awal tahun 2020, terhitung hingga Agustus 2022, grafik non-performing loan (NPL) cenderung menurun, terutama di wilayah Kepri.
"Kami masih dalam proses analisa. Program restrukturisasi ke depan akan lebih spesifik lagi, menyasar ke sektor apa dan ke wilayah mana saja," jelas Rony.
Kendati kemungkinan besar tidak dijalankan secara holistik, karena jelang akhir tahun ini tidak semua sektor ekonomi terdampak buruk, namun kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja kredit di sektor-sektor terdampak secara tepat sasaran. (TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/10052022Kepala-OJK-Kepri-Rony-Ukurta-Barus.jpg)