PERINGATAN Cuaca Ekstrem, BMKG Deteksi Fenomena Baru Berpengaruh ke Indonesia

Cuaca ekstrem ditandai dengan hujan lebat, tingginya kecepatan angin dan meningkatnya ketinggian gelombang masih akan melanda wilayah di Indonesia

pixabay.com
Ilustrasi cuaca ekstrem - Cuaca ekstrem ditandai dengan hujan lebat, tingginya kecepatan angin dan meningkatnya ketinggian gelombang masih akan melanda wilayah di Indonesia 

TRIBUNBATAM.id - Berencana beraktivitas di luar rumah atau bepergian ke luar kota dengan intensitas tinggi selama penghujung 2022 hingga awal 2023, sebaiknya dikurangi.

Hal itu sejalan dengan peringatan BMKG, di mana adanya potensi terjadi cuaca ekstrem di beberapa daerah.

Biar tahu saja, BMKG sebelumnya megatakan ada empat fenomena atmosfer bakal terjadi, di antaranya aktivitas Monsun Asia, seruakan dingin Asia, pembentukan pusat tekanan rendah di wilayah perairan selatan Indonesia, termasuk Madden Julian Oscillation (MJO).

Dari keempat fenomena tersebut, BMKG kembali mendeteksi penambahan fenomena atmosfer lainnya hingga Selasa (27/12/2022).

Demikian pernyataan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers daring, seraya menjelaskan cuaca ekstrem ditandai dengan hujan lebat, tingginya kecepatan angin dan meningkatnya ketinggian gelombang masih akan melanda wilayah Indonesia hingga awal 2023.

Diketahui, BMKG sempat memberikan peringatan hujan intensitas lebat hingga sangat lebat di seluruh wilayah Indonesia selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Kami keluarkan rilis pada saat itu (tanggal 21 Desember) karena terdeteksi minimal ada empat fenomena di atmosfer," kata Dwikoria.

Baca juga: BMKG Imbau Pemudik dan Agen Pelayaran Waspada Potensi Cuaca Buruk di Laut Karimun

Baca juga: CUACA BURUK, Korban Terseret Ombak di Pantai Trikora Bintan Belum Ketemu

"Sejak kemarin kami mendeteksi ada penambahan satu fenomena baru lagi yang tentunya berpengaruh pada dinamika cuaca di Indonesia," kata dia.

Dia menjelaskan, BMKG mendeteksi kemunculan bibit siklon tropis 95W yang berada di Samudera Pasifik sebelah utara Papua barat, tepatnya di 8,8 derajat LU - 130,9 BT dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan terendah 1.008 milibar.

Menurut pencitraan satelit Himawari, terjadi aktivitas konvektif yang signifikan selama enam jam terakhir, terutama di sebelah utara sistem bibit siklon tersebut.

"Jadi fenomenanya semakin berkembang. Model prediksi numerik menunjukkan bahwa sistem ini bergerak ke arah barat laut menjauhi wilayah Indonesia," jelas Dwikorita.

Baginya, kemunculan fenomena ini hingga tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan berada dalam kategori rendah dan semakin menjauhi Indonesia.

Dwikorita juga menerangkan, masih ada indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia yang dapat memicu terbentuknya pola pertemuan dan perlambatan angin di sekitar Indonesia bagian selatan.

Fenomena tersebut turut menyebabkan pertumbuhan awan hujan dan angin kencang di wilayah Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara.

"Sesuai prediksi tanggal 21 Desember lalu, kecepatan angin yang tinggi sudah terjadi. Dapat mencapai lebih dari 40 knot, sudah terjadi dan dapat terus terjadi," tandas Dwikorita.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved