Senin, 4 Mei 2026

Harlah Satu Abad NU 2023, Catatan Surya Makmur Nasution Ketua DPC PKB Batam

Ketua DPC PKB Batam Surya Makmur Nasution memberikan catatannya jelang peringatan Harlah Satu Abad NU 2023 yang jatuh pada 7 Februari nanti

Tayang:
Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/istimewa
Foto Ketua DPC PKB Batam, Surya Makmur Nasution 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2023 jatuh pada tanggal 7 Februari 2023.

Peringatan hari lahir (harlah) Satu Abad NU adalah peringatan satu abad sejak berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Berikut catatan dari Surya Makmur Nasution, Ketua DPC PKB Batam jelang peringatan Harlah Satu Abad NU.

ALHAMDULILLAH, Nahdlatul Ulama atau disingkat NU, kini berumur 1 (satu) abad atau 100 tahun, sebagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam di Indonesia.

Hitungan seabad NU berdasar kalender hijriah (qamariah), yaitu, 16 Rajab 1344H, sedangkan hitungan masehi (syamsiah) tanggal 31 Januari 1926.

Tanggal 7 Februari 2023 atau bertepatan 16 Rajab 1444H, NU genap memasuki 1 Abad.

NU yang didirikan oleh Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, beserta ulama lainnya, seperti KH Bisri Syamsuri, KH A Wahab Chasbullah, kini telah tegak berdiri dan menyebar ke seantero Nusantara, Tanah Air.

Baca juga: NU Tanjungpinang Dapat Hibah Pembangunan Gedung Dari Pemko Jelang Usia Satu Abad

NU memiliki badan otonom mulai dari pusat hingga daerah, seperri Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU/IPPNU dan PMII.

Tidak berlebihan jika disebut bahwa jumlah massa atau anggota NU terbanyak dari Ormas Islam lainnya.

Pada tahun 2018 jumlah anggota NU diperkirakan sudah mencapai 90 juta orang. Dari kelas bawah, menengah sampai atas. Dari kalangan pendidikan rendah, sampai pendidikan tinggi. Dari pekerja serabutan sampai pejabat tinggi negara.

Sebut saja KH Abdurrahman Wahid alis Gus Dur pernah menjadi Presiden RI pada awal reformasi (1998), dan KH Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden (2020-2024).

Itu belum lagi pejabat tinggi negara lainnya. Meskipun, warga NU yang stratanya berada di kelas menengah ke bawah jumlahnya jauh lebih besar dari yang berpangkat dan punya kedudukan dan jabatan di Indonesia.

Apa istimewanya NU kini telah berusia satu abad?

Setidaknya, ada tiga hal pokok dan penting yang menjadi tujuan atau khittah NU sejak didirikan sebagai sumbangsih peran dan kontribusinya bagi unmat dan bangsa serta negara.

Pertama, kontribusi NU terhadap Islam. Peran NU terhadap Islam di Nusantara begitu besar kontribusinya dalam membimbing dan membina ummat.

Keislaman bagi NU adalah sesuatu yang asasi, pokok (ushuliyah), melekat bagi setiap individu sebagai dasar ketauhidan.

Bahwa, pengakuan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Ilah tempat menyembah dan kesaksian atas Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah, adalah keyakinan, keimanan yang fundamental, mutlak, dan tidak boleh ada perbedaan.

Nilai-nilai ketauhidan yang berserah diri, tunduk dan patuh hanya kepada Allah sebagai satu-satunya Robb, tempat menyembah dan meminta pertolongan, adalah sesuatu yang niscaya.

Semua warga Nahdliyin, harus menjadikan nilai-nilai ketauhidan sebagai jati diri dalam sikap dan prilakunya. Nilai-nilai keislaman ditempatkan dalam menjalankan fungsi kekhalifahan (pemimpin) manusia di muka bumi yang diberikan oleh Allah Azza Wajall, sebagai pembeda dengan makhluk ciptaan lainnya.

Baca juga: Harlah ke-92 NU, Wawako Ajak Wujudkan Kerukunan Umat Beragama di Tanjungpinang

Menghargai dan menghormati keberislaman seseorang, meski tidak dalam satu mazhab pemikiran. Melalui nilai-nilai universalitas keislaman, seperti persaudaraan (ukhuwah), keadilan (al adalah), persamaan derajat (hanafiyah samhah) menjadi titik (kalimatun sawa) hadirnya Islam sebagai jalan tengah, washatiyah.

Kedua, kontribusi NU dengan Negara. Tak dapat dipungkiri, peran NU terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi sejarah tegak dan berdirinya bangsa ini.

Mulai dari zaman kolonial Belanda, masa kemerdekaan, hingga kini, NU menempatkan dirinya sebagai garda terdepan memperjuangkan, mengawal, menjaga, dan membangun bangsa, sebagai negara yang merdeka, maju dan modern.

Pengakuan akan kemajemukan dan pluralitas bangsa, adalah perjuangan yang tiada henti didakwahkan NU. Mencintai dan membela Tanah Air adalah bagian dari iman, hubbul wathon minal iman. Menjaga persatuan dan kesatuan NKRI, adalah keniscayaan.

Gus Dur, misalnya, semasa menjadi Ketua Umum PB NU di era Orde Baru, menjadi simbol perlawanan dan perjuangan atas perlakuan diskriminasi, kesetaraan, dan perlakuan kesamaan hak kepada kelompok minoritas. Perjuangan keindonesiaan sebagai masyarakat yang inklusiv, adil, setara, bagi setiap warga etnis suku bangsa, menjadi jalan pilihan bagi Gus Dur dalam memimpin PB NU.

Dalam konteks penguatan keindonesiaan dalam mewujudkan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, pasca reformasi, NU berijtihad membentuk partai politik yang disebut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 23 Juli 1998.

Sebagai perpanjangan tangan NU di kancah politik nasional, pendirian PKB dimaksudkan untuk mengakomodasi kepentingan nadliyin secara struktural dan kultural serta perjuangan aspirasi ummat Islam secara luas.

Sebagai anak kandung NU, PKB yang dideklarasikan ulama dan kiai khos NU, seperti KH Abdurrahman Wahid, KH Moenasir Ali, KH Ilyas Ruchiyat, KH Muchit Muzadi dan KH Mustofa Bisri, PKB telah berkembang pesat dari pusat hingga daerah di seluruh Tanah Air.

Bahkan pencapaian paripurna yang diraih PKB adalah berhasil mengantarkan Gus Dur menjadi Presiden ke 4 RI (20 Oktober 1999-23 Juli 2001) dan KH Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden RI (2020-2024).

Meski saat ini, ada perbedaan dalam memahami posisi PKB oleh struktural PBNU, tidaklah membuat hubungan NU dan PKB menjadi vis a vis, apalagi terbelah.

Sebab, sejarah tidak mungkin dihapus karena adanya perbedaan pemahaman sikap politik struktural PBNU saat ini.

PKB itu lahir dari rahim dan untuk NU, adalah fakta sejarah yang tak mungkin dihapus atau dihilangkan. NU dan PKB baik-baik saja. NU dan PKB itu seolah ada “gegeran” padahal sebetulnya, batinnya “ger-geran”.

Ketiga, kontribusi NU bagi kemanusiaan. Bagi NU, nilai-nilai universalitas kemanusiaan, seperti keadilan, persamaan hak, kesederajatan, bukanlah sekadar retorika belaka.

Penghargaan akan hak asasi manusia harus ditempatkan dalam kerangka persaudaraan sesama ummat manusia, ukhuwah basyariah, ukhuwah wathoniyah.

Semua orang harus diperlakukan sama dalam hak dan kedudukannya. Tidak ada perlakuan diskriminatif, intoleran, dan bersifat eksklusiv terhadap orang lain, menjadi perjuangan NU sejak dulu hingga kini.

Kemajemukan, pluralitas atau keragaman, adalah sesuatu yang niscaya, sebagai sunnatullah. Adab toleransi yang dikembangkan NU sebagai dakwah kemanusiaan, ditransformasikan dari ruang Nusantara ke ruang global.

NU ingin mencari titik temu, kalimatun sawa, dari keragaman peradaban dunia. Dunia tidak akan damai apabila, rasa kebencian, rasisme, intoleransi, sesama penduduk bumi, masih menjadi persoalan.

Langkah Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang mengambil tema 1 Abad NU, “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru,” adalah komitmen NU untuk menjadikan keislaman sebagai rahmat bagi semesta.

Mars 1 Abad NU, “Merawat Jagat Membangun Peradaban”, adalah spirit perjuangan dakwah NU untuk kemanusiaan dan keislaman.

Gus Yahya, panggilan akrabnya, ingin menjadikan NU memasuki Abad ke 2, tidak lagi bertransformasi di tingkat nasional, melainkan global.

Cita-cita menjadikan NU sebagai jam’iyyahnya ulama, ikut membangun peradaban dunia, menjadi tantangan sekaligus harapan bagi ummat manusia di masa depan.

Meski tak dapat dipungkiri, ketika NU menjadi pemain global, masih banyak warga Nahdliyin yang keislamannya berasal dari santri, ada juga yang berstatus dalam strata abangan, meminjam istilah Clifford Gert, dan secara ekonomi banyak dalam kategorisasi miskin.

Inilah mungkin yang menjadi tugas besar NU ketika melewati usia 1 Abad di masa mendatang.

Yang paling unik dan menarik, meski memasuki Abad ke 2, NU tetap sarungan, solawatan, manaqiban dan zikiran, hingga akhir zaman kelak.

Selamat 1 Abad NU, “Merawat Jagat Membangun Peradaban”.

*Surya Makmur Nasution, Ketua DPC PKB Batam

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved