WAWANCARA EKSKLUSIF
Memahami Penyakit Angin Duduk, Risiko dan Cara Mengatasinya
Dokter Vera Septiani membantu kita memahami istilah angin duduk, risiko dan cara mengatasinya.
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Angina atau angin duduk adalah nyeri dada yang muncul akibat adanya gangguan aliran darah ke jaringan otot jantung.
Gejala khas penyakit ini adalah nyeri dada yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Di masyarakat pada umumnya, gejala angin duduk adalah saat dada merasa tertusuk atau terimpit yang menyebabkan aktivitas penderitanya terganggu.
Untuk mengenal penyakit angin duduk lebih dalam, Tribun Batam berkesempatan untuk mewawancarai langsung Dokter Vera Septiani.
Pembicaraan meliputi pengenalan serta faktor risiko angin duduk dan cara mencegahnya.
Berikut petikan wawancara tersebut:
Baca juga: Gejala dan Ciri-ciri Mirip Serangan Jantung, Apa Itu Angin Duduk? Waspada Bahayanya!
Tribun Batam (T): Halo, dokter. Semoga selalu dalam keadaan sehat.
dr Vera Septiani (V): Alhamdulillah baik. Semoga kita semua juga dalam keadaan baik.
T: Dokter, banyak masyarakat yang belum mengenali penyakit angin duduk.
Sebetulnya apa maksud dari angin duduk yang sering kita dengar?
V: Angin duduk ini sebenarnya tidak ada dalam istilah kedokteran.
Kemungkinan besar yang dimaksud angin duduk oleh masyarakat adalah serangan jantung (Sindroma Koroner Akut).
T: Seperti apa gejala dari angin duduk tersebut?
V: Gejalanya adalah angina pectoris atau nyeri bagian dada.
Rasanya seperti tertusuk, bisa juga terimpit, atau tertekan di bagian dada.
Lalu menjalar ke bagian tubuh atas lain sampai ke rahang.
Penderitanya biasa mengalami pusing, mual, badan lemas, kalau parah bisa sampai pingsan.
Gejalanya sangat khas, nyeri di dada yang terjadi bisa cukup lama yakni sekitar 20 menit.
Kalau tidak ditangani segera, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.
T: Apa penyebab hingga kondisi ini bisa terjadi?
V: Sindrom Koroner Akut ini biasanya disebabkan Aterosklerosis yaitu terbentuknya plak atau tumpukan kolesterol pada dinding arteri koroner yang mengakibatkan penyumbatan aliran darah ke jantung.
T: Lalu, apakah penderita yang mengalami ini bisa meninggal secara tiba-tiba?
V: Jantung berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Di mana, darah ini mengangkut oksigen dan nutrisi.
Otot jantung sendiri membutuhkan suplai oksigen dari arteri atau pembuluh darah koroner.
Seiring bertambah usia dan pola makan serta aktivitas fisik yang kurang baik akan terjadi penumpukan plak (Aterosklerosis) dalam darah.
Akibatnya, elastisitas pembuluh darah mulai jelek dan terjadi penyumbatan sedikit demi sedikit atau on going process ke arah penyakit jantung koroner.
T: Kemudian?
V: Akibat penyumbatan pada arteri atau pembuluh darah koroner.
Akhirnya otot jantung tidak mendapat suplai oksigen maksimal yang kemudian dada penderita mengalami nyeri atau angina yang biasa disebut masyarakat angin duduk.
Sebenarnya proses penyumbatan ini terjadi dalam jangka waktu yang lama.
Tapi saat puncaknya, itu terjadi secara tiba-tiba.
Jika tak segera mendapat pertolongan akan mengalami kematian.
T: Sederhananya, apakah angin duduk ini merupakan gejala serangan jantung, dokter?
V: Ya. Kondisi tadi, saat penyumbatan pada arteri akan menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah dengan baik.
Sehingga, otak pun tidak akan mendapat cukup oksigen dan nutrisi sebagaimana mestinya.
Kondisi ini apabila dibiarkan terus menerus maka akan menyebabkan kematian.
Sebetulnya, ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit.
T: Apa saja faktor tersebut?
V: Pertama adalah kolesterol.
Kedua diabetes, kadar gula terlalu tinggi dalam darah akan merusak dinding pembuluh darah.
Lalu berikutnya adalah hipertensi (tekanan darah tinggi).
Tekanan terlalu tinggi juga tidak baik untuk pembuluh darah.
Faktor berikutnya adalah stres.
Obesitas juga rentan dengan penyakit ini.
T: Merokok juga termasuk faktor risiko, dokter?
V: Ya, betul. Merokok jadi salah satunya. Jadi, hindari hal ini.
Perbanyak aktivitas fisik yang sesuai dengan kesehatan tubuh.
Ada pula faktor usia.
Ini tidak dapat dilawan. Usia adalah faktor yang tidak dapat diubah.
T: Bagaimana cara mencegah penyakit ini?
V: Cara mencegahnya adalah dengan mengkonsumsi makanan real food.
Tidak terlalu banyak diolah seperti digoreng atau ditambah pemanis.
Misalnya sayuran atau makanan sehat lainnya. Batasi jumlah konsumsi jumlah kalori harian anda.
Kalau sudah obesitas, berusahalah menurunkan berat badan anda.
Hindari stres dan rutin berolahraga, tiga kali seminggu tapi juga jangan berlebihan. Kurangi minuman beralkohol.
Kalau sudah memiliki faktor risiko, rutin cek ke dokter secara berkala.
Seperti cek kadar gula dalam darah, kolesterol, dan lainnya agar kita lebih aware.
T: Baik. Apa imbauan kita untuk pembaca setia Tribun Batam, dokter?
V: Alangkah lebih baik, kita dapat menjaga kesehatan tubuh sejak hari ini.
Kenali sejumlah penyakit agar kita tahu penanganannya ke depan.
Betul kata orang, lebih baik mencegah dari pada mengobati.
Jaga kesehatan tubuh dan jiwa untuk diri sendiri dan keluarga serta lingkungan kita.
Jangan sia-siakan kesehatan tubuh yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.(TribunBatam.id/Ichwan Nur Fadillah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Dokter-Vera-Septiani-soal-angin-duduk.jpg)