BINTAN TERKINI

Nelayan Bintan Mengeluh, BBM Subsdi Sering Habis, SPBN Jadi Sorotan

Nelayan Bintan mempertanyakan fungsi kartu kendali termasuk kuota untuk mendapat BBM Subsidi. Sebab, mereka kesulitan mendapatkannya.

TribunBatam.id/Alfandi Simamora
Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Bintan, Syukur Haryanto mengungkap keluhan nelayan sulitnya mendapat BBM subsidi untuk melaut. Sementara mereka sudah memiliki kartu kendali, bahkan BBM subsidi pun sudah dijatah. 

BINTAN, TRIBUNBATAM.id - Nelayan Bintan mengeluhkan sulitnya mendapat BBM subsidi untuk melaut.

Mereka pun mempertanyakan fungsi kartu BBM subsidi dan kuota yang sebelumnya telah ditetapkan pemerintah.

Ketika para nelayan memiliki kartu kendali, kartu BBM dan memiliki kuota, para nelayan Bintan ketika hendak membeli BBM Subsidi ke SPBN dan SPBU sering tidak mendapatkan sesuai kuota.

Tidak jarang nelayan Bintan pulang dengan tangan kosong sebab stok BBM subsidi habis.

"BBM subsidi untuk nelayan ini kuotanya 35 liter sehari. Hal itu di lihat dari kapasitan GT-nya. Tapi ketika nelayan mengisi ke penyalur di SPBN dan SPBU itu seringnya kosong," ungkap Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Bintan, Syukur Haryanto.

Baca juga: Sempat Ditahan Polisi Malaysia, Tiga Nelayan Bintan Dijemput Ditpolairud Polda Kepri

Agar tetap bisa melaut, nelayan Bintan mau tak mau membeli BBM dengan harga Rp 8500 ribu sampai Rp 12 ribu.

Syukur Haryanto juga menjelaskan, dengan seringnya kosong BBM solar subsidi untuk nelayan, sejumlah nelayan pun berpikir kemana kuota solar subsidi tersebut.

Bahkan ada nelayan Bintan yang tidak memperpanjang kartu BBM subsidi.

"Inilah yang menjadi pertanyaan kami. BBM subsidi untuk nelayan itu habis itu kemana. Soalnya sudah ada kartu kendali dan mempunyai kuota. Masak kita punya kartu kendali dan memiliki kuota, tapi ketika membeli tidak dapat, itu tidak masuk akal," ungkapnya.

Mewakili nelayan, Syukur Haryanto juga berharap kepada Pemerintah Daerah agar bisa membangun SPBN di titik-titik nelayan yang jauh dari akses.

Baca juga: Kisah Sunardi Nelayan Bintan yang Hanyut 7 Hari di Laut, Bertahan Hidup dengan Sisa Bekal

Seperti nelayan dari Desa Mapur mengambil minyak ke Kijang, dengan harga Rp 5.500 hanya untuk menjemput ke sana.

"Dengan dia pulang pergi saja biaya bensin dirinya juga sudah terbilang beli Rp 7 ribu /liter. Apakah itu disebut subsidi. Inilah yang harus ada perhatian dari Dinas terkait dan Pemerintah," tutupnya.(TribunBatam.id/Alfandi Simamora)

Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved