Kamis, 7 Mei 2026

Raksasa Properti China Bangkut dan Analisa REI Soal Investasi

Realstate Indonesia punya analisa tentang dampak dari bangkrutnya perusahaan raksasa properti China, Evergrande Group terhadap investasi.

Tayang:
TribunBatam.id via Kompas.com
Warga melintas di depan markas Evergrande di Shenzhen, China yang sahamnya telah ditangguhkan dari perdagangan di Hong Kong, Senin, 4 Oktober 2021. Realestate Indonesia punya analisa tentang dampak dari raksasa properti China yang bangkrut ini terhada sektor investasi. (AP PHOTO/NG HAN GUAN) 

TRIBUNBATAM.id - Realestat Indonesia (REI) punya analisa terkait arah investasi properti di Indonesia setelah raksasa properti China, Evergrande Group bangkrut.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) REI periode 2023-2027, Joko Suranto mengatakan, konsumen kelas atas akan cenderung menahan diri.

Menurut dia, para investor akan lebih menahan diri, menahan dahulu, dan berhati-hati dalam memilih properti beserta pengembangnya.

Sebagai informasi, raksasa properti terbesar asal China, Evergrande Group resmi mengumumkan kebangkrutan di pengadilan New York Amerika Serikat pada Jumat (18/8/2023).

Kebangkrutan tersebut diungkap Evergrande usai perusahaan mengajukan kode perlindungan kebangkrutan Bab 15 yang memungkinkan pengadilan Amerika Serikat untuk turun tangan membantu Evergrande menjalani restrukturisasi dari para kreditur.

Baca juga: Nasib Bisnis Properti China, Evergrande Terlilit Utang Rp 4,48 Kuadriliun

Perusahaan telah mengajukan kode perlindungan kebangkrutan Bab 15 dan penjadwalan sidang pengakuan kebangkrutan kemungkinan akan dilaksanakan pada 20 September.

Meski kebangkrutan di sektor properti bukan kali pertama yang dialami China, namun pengumuman Evergrande yang bangkrut menjadi lambang krisis utang luar biasa di sektor properti negara tirai bambu, ini karena Evergrande menyumbang sekitar 30 persen dari ekonomi negara.

Tak hanya itu, kebangkrutan Evergrande juga memiliki dampak negatif bagi sektor perekonomian di tengah lesunya konsumsi domestik dan aktivitas ekspor.

"Kalau untuk yang (konsumen) atas pastinya tekanannya akan lebih kuat. Mereka kan relatifnya orang yang memiliki kemampuan finansial, mampu menahan diri dan mengevaluasi. Mereka punya pilihan untuk investasi dan sebagainya," kata Joko Suranto kepada Tribun Network, Sabtu (19/8/2023).

Hal itu akan memberikan tekanan pada sektor properti di Indonesia.

"Sehingga itu semua akan memberikan tekanan, bahasanya adalah akan ada relatif perlambatan," kata Joko.

Baca juga: Cara Investasi Emas Modal Rp 10 Ribu di Neo Bank Cocok Bagi Investor Pemula

Sedangkan untuk konsumen menengah ke bawah, ia beranggapan tak akan begitu terpengaruh oleh kebangkrutan yang dialami Evergrande Group.

"Jadi kalau tekanan utamanya kan kalau kita melihat data dari PUPR, di mana backlog yang 12 juta lebih itu terjadi di struktur konsumen yang relasi menengah ke bawah. Artinya tingkat kebutuhan rumah untuk rumah pertama ataupun kebutuhan utama itu masih terjaga dan setidaknya itu akan menopang kinerja properti. Itu akan mendukung sisi cash flow developer," lanjutnya.

Secera keseluruhan, Joko melihat dampak dari kebangkrutan Evergrande akan terasa pada sektor properti Tanah Air, tetapi tidak berlangsung lama.

"Ya kalau pengaruh atau dampaknya pasti akan ada, walaupun itu juga akan pendek ya," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved