Senin, 20 April 2026

PERANG HAMAS VS ISRAEL

Anak-anak di Jalur Gaza Trauma Berat Akibat Perang Hamas vs Israel Trauma

Perang Hamas vs Israel berdampak pada trauma anak-anak di Jalur Gaza. Mereka hidup dalam ketakutan, mimpi buruk, dan trauma yang berkepanjangan

KATA KHATIB/AFP
Seorang wanita Palestina menghibur anak-anaknya saat mereka menunggu di rumah sakit untuk diperiksa. Pertempuran antara Israel Hamas berlanjut selama enam hari berturut-turut, di kota Rafah, di selatan Jalur Gaza pada 12 Oktober 2023. Ribuan orang baik dari warga Israel maupun Palestina meninggal sejak 7 Oktober 2023. 

TRIBUNBATAM.id - Anak-anak Jalur Gaza paham betul apa itu penderitaan. Sejak kecil mereka hidup dalam tekanan Israel, kemiskina, dan kekerasan.

Penderitaan mereka semakin memuncak tatkala serangan Israel dan blokade total. Israel bereaksi atas serangan roket dan darat yang dilakukan pejuang Hamas.

Penderitaan anak-anak di Jalur Gaza akan semakin buruk. 

Dr Iman Farajallah, seorang psikolog di Amerika Serikat dan Dr Mamoun Mobayed, seorang psikiater di Qatar, memiliki pengalaman luas dalam meneliti dan membantu trauma masa kanak-kanak.

Al Jazeera berbicara kepada mereka tentang perang Israel terhadap Hamas dan dampak kesehatan mental yang ditimbulkan oleh kehidupan di Jalur Gaza terhadap anak-anak.

Inilah yang perlu Anda ketahui tentang trauma yang dialami anak-anak di Gaza:

Bagaimana dampak tinggal di Jalur Gaza terhadap kesehatan mental anak-anak?

Farajallah, lahir dan besar di Gaza sebelum pindah ke California dua dekade lalu, mengetahui secara langsung bagaimana rasanya hidup di bawah “pendudukan Israel”.

“Itulah mengapa saya menjadi psikolog – untuk membantu orang lain yang mengalami trauma,” katanya.

Dalam sebuah makalah penelitian yang diterbitkan Farajallah tahun lalu tentang dampak perang terhadap anak-anak Palestina, ia menemukan bahwa anak-anak yang selamat dari perang tidak akan selamat dan harus menanggung akibat buruk secara psikologis, emosional, atau perilaku.

Penelitiannya menemukan bahwa 95 persen anak-anak di Jalur Gaza menunjukkan gejala kecemasan, depresi, dan trauma.

“Mereka menyaksikan anggota keluarga, tetangga, dan temannya dibunuh, hal ini menimbulkan kemarahan dan frustasi dalam diri mereka, mereka cenderung lebih agresif dan menderita depresi, kecemasan, dan gangguan stres traumatis yang berkelanjutan,” ujarnya.

Farajallah yang kini mengkhususkan diri dalam merawat pengungsi dan kelompok minoritas yang mengalami trauma, kembali ke Gaza “sering mungkin” dan telah menyaksikan bagaimana trauma masa kanak-kanak tetap melekat pada anak-anak hingga remaja.

Dia ingat bertemu dengan dua gadis baru-baru ini, seorang anak berusia 14 tahun yang duduk bersama saudara perempuannya yang berusia empat tahun di pangkuannya, yang kehilangan rumah dan seluruh anggota keluarganya dalam serangan Israel pada tahun 2014.

"Aku tidak akan pernah lupa. Anak berusia 14 tahun itu bahkan tidak menganggap dirinya anak-anak, dia terpaksa berperan sebagai pengasuh karena tidak punya pilihan lain,” ujarnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved