MATA LOKAL CORNER
Jurus Capres Gaet Suara Anak Muda Kepri, Kejar Pemilih Dibawah Usia 40 tahun
Suara-suara yang bemunculan mulai dari narasi pemimpin muda hingga tudingan politik dinasti. Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres yang mendampingi
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Masuknya Gibran Rakabuming Raka dalam kontestasi Pilpres 2024 menyita perhatian. Gibran bisa bertarung di Pilpres 2024 setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan seorang pernah atau sedang menjabat kepala daerah bisa maju sebagai capres cawapres meski usianya belum 40 tahun.
Suara-suara yang bemunculan mulai dari narasi pemimpin muda hingga tudingan politik dinasti. Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres yang mendampingi Prabowo Subianto.
Pasangan ini akan berhadapan dengan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Pasangan capres berlomba-lomba merebut hati pemilih muda.
Di pemilu 2024, pemilih muda yakni berusia 17-40 tahun sekitar 107 juta atau 54-55 persen dari total pemilih sebanyak 204,8 juta. Jadi lebih dari setengah total pemilih adalah pemilih muda. Di Kepri juga tidak berbeda. Dari 1.500.974 pemilih, pemilih muda mencapai 921.481 pemilih atau sekitar 61 persen yakni gabungan generasi Z dan Y.
Namun, sejumlah riset dan survei menunjukkan bahwa dalam konteks politik elektoral, pemilih muda cenderung berada di antara dua pusaran: antusiasme dan apatisme politik.
Di satu sisi mereka antusias mencari tahu seputar pemilu, tapi di sisi lain mereka bisa apatis dalam perilaku politik sehingga lebih memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya alias golput (golongan putih).
Lantas bagaimana jurus capres menggaet suara pemilih muda? Bagaimana tim pemenangan? Kita sudah mengupasnya dalam diskusi politik Mata Lokal Corner Kamis (26/10/2023) live di youtube dan facebook Tribun Batam pukul 14.00 WIB.
Seorang Narasumber, Direktur Publik Trust Institute Kepri, Robby Patria mengatakan ada dua asumsi di dalam perpolitikan. Ada politik berkeadaban ada yang tak berkeadaban.
"Politik itu dinamis. Tak peduli kucing hitam putih yang penting bisa menangkap tikus. Jokowi dibesarkan PDI-P. Gibran sudah tau PDI mengsung yang lain, tetapi mau menjadi lawan ayahnya. Etika menjadi guiden politisi. Publik harus diajarkan kecerdasan," kata Robby.
Menurutnya pada Pilpres 2024 mendatang, tiga calon akan lebih baik sehingga terjadi 2 putaran. Ia menilai jika diputaran kedua, awalnya bermusuhan bisa jadi berkawan.
"Politik saat ini yang paling garang di medsos. Kalau media belum terlalu mainstrem. Kubu PDI-P dan Gerindra. Kita jangan terbawa emosi dan biasa-biasa saja. Demokrasi Indonesia masih prosuderal. Jangan saling bermusuhan. Semua kita lewati dari 1998," ujar Robby.
Ia melanjutkan Capres dan Cawapres menawarkan visi misi yang baik menyiapkan Indonesia menjadi besar. Pemilih terbesar dibawah 40 tahun yang disebut dengan generasi Y dan Z.
Selain itu, Robby juga mengungkapkan berdasarkan beberapa penelitian tak semua generasi muda tertarik ke Politik. Capres di kalangan tua, menengah, atau muda.
"Belum kita melihat kinerja timses di daerah. Survey juga tidak menjadikan patokan. Anis kalah di survey tapi menang di hari H. Tak bisa 170 juta pemilih diwakil 1200 sampling. Metodenya, berapapun samplingnya itu mewakili. Tim kampanye bisa merancang. Masuknya Gibran menjadi gebrakan anak-anak muda. Apakah 1945 sama kualitasnya dengan 2024 nanti," paparnya.
Menurutnya anak-anak muda sekarang tak bisa dibandingkan dengan Soekarno muda. Anak muda berkontribusi besar. Saat ini, pemilih masih banyak dipengaruhi oleh tradisional daripada yang rasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/WhatsApp-Image-2023-10-26-at-193443.jpg)