Kamis, 21 Mei 2026

TANJUNGPINANG TERKINI

Semangat Zulfahmi Guru SLB Negeri 1 Tanjungpinang Ajar Penyandang Tuna Netra

Guru SLB Negeri 1 Tanjungpinang ini berbagi ceritanya mengajar muridnya penyandang tuna netra saat hari guru tahun ini.

Tayang:
TribunBatam.id/Rahma Tika
Zulfahmi, Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Tanjungpinang, Sabtu (25/11/2023). Ia berbagi kisahnya mengajar anak muridnya penyandang tuna netra berkebutuhan khusus. 

TRIBUNBATAM.id,TANJUNGPINANG - Semangat Zulfahmi menekuni profesi guru sudah tertanam sejak ia menginginkan perubahan pada peserta didiknya.

Meski rambutnya sudah memutih, guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Kota Tanjungpinang ini tetap setia mentransfer ilmu kepada anak didiknya.

Hanya yang berbeda, pelajarnya merupakan penyandang tuna netra berkebutuhan khusus.

Setidaknya 15 tahun sudah pria asal Sumatera Barat ini mengajar.

Mulai dari Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan kini sudah menetap belasan tahun di Kota Tanjungpinang ia pilih sebagai kota terakhirnya.

Seluruh ilmu dan tenaga ia curahkan untuk anak - anak penyandang disabilitas agar menjadi anak yang hebat dan mandiri.

“Saya sebagai guru kelas mengajar anak SD yang tunanetra dari kelas 1 sampai kelas 6. Semua mata pelajaran saya ajarkan dan juga ada program khusus untuk anak tuna netra,” ucap Zulfahmi kepada TribunBatam.id, Sabtu (25/11/2023).

Selama ini Zulfahmi membekali anak muridnya dengan rasa percaya diri.

Ia selalu menanamkan kepada anak muridnya jika kekurangan yang ada bukanlah berarti hilangnya harga diri.

Zulfahmi perlahan namun pasti mengajarkan anak penyandang disabilitas dengan life skill.

Seperti cara mengikat tali sepatu, cara menolong diri sendiri, lalu mengajar cara menyampu, bagaimana cara berkomunikasi.

“Penyandang tuna netra itu programnya orientasi mobilitas sosial dan komunikasi. Baru masuk ke dalam pembelajaran sesuai kemampuan mereka,” tuturnya.

Anak penyandang disabilitas adalah anak istimewa, tentu banyak tantangan yang dihadapi Zulfahmi selama mengajar.

Menurutnya anak penyandang tuna netra ini berbeda dari latar belakang masalah yang dihadapi sekaligus kondisi yang dialami.

Ada sebanyak 4 orang murid dari jenjang TK dan SD yang ia ajarkan.

Selama mengajar Zulfahmi tentu harus bisa membuka pikiran dari anak tersebut.

Di mana ia harus lebih ekstra menghadapi dan memberi pemahaman kepada anak muridnya.

“Anak - anak ini macam-macam sifat dan karakternya, itu saya ekstra di dalam merubau mindset anak itu supaya dia paham dengan kondisinya, kadang - kadang mereka ada yang manja dan juga lebih lincah,” kata Zulfahmi.

Bahkan tak jarang Zulfahmi sering dihadapi dengan anak yang memilki kelainan ganda, ia harus bisa memberi materi sesuai dengan kemampuan mereka. Terkadang Zulfahmi juga sering berkonstasi dengan dosen di Univeritas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Di dalam menghadapi mereka ini, Zulfahmi pernah mengalami kondisi di mana ia merasa gagal dan tidak bisa menjadi guru yang baik.

“Saya pernah nangis, saya pikir saya bodoh dan tidak bisa mengajar mereka, tapi kita tidak bisa memaksa kemampuan anak, makanya saya cari referensi dan berkonsultasi,” ungkapnya.

Berbagai tantangan selama mengajar sudah di hadapi Zulfahmi, ternyata ada cerita unik dan berkesan yang tidak bisa ia lupakan saat mengajar.

Dulu ia punya murid yang di dalam kelas harus menggunakan helm di kepalanya.

Pasalnya sang anak suka membenturkan kepala ke dinding, sehingga saat belajar di kelas ia harus memakai helm.

Beberapa anak ada pula yang tertidur di kelas sebab ia suka begadang saay malam hari, dan saat di kelas selalu tertidur.

“Kepalanya kadang sampai berdarah, tapi dia tak sakit, dia diajak komunikasi juga tidak bisa, jadi dia ngoceh sendiri lalu bentur kepala, seperti itu nikmat bagi dia, itu yang berkesan saat saya mengajar,” sebutnya.

Rasanya tidak terhitung dan banyak pengalaman serta rintangan sebagai guru disabilitas tuna netra yang sudah dijalani Zulfahmi.

Tidak sia - sia perjuangan Zulfahmi sebagai seorang guru disabilitas.

Anak murid didikannya ada yang sukses menjadi pegawai sipil negara (PNS) dan kini masih tetap berkomunikasi dengan dirinya.

Di momen hari guru nasional ini, Zulfahmi sedikit berpesan bahwa menjadi guru adaah tugas mulia dalam mencerdaskan anak, kemudian sebagai guru menjadi suri tauladan dalam perbuatan dan sikap.(TRIBUNBATAM.id/Rahma Tika)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved