WISATA LINGGA
Wisata Sejarah dan Religi Masjid Jami' Sultan Lingga, Akses ke Lokasi Mudah Dijangkau
Masjid Jami Sultan Lingga bisa jadi pilihan destinasi wisata sejarah dan religi di Lingga. Lokasinya berada di tengah ibu kota Daik
Penulis: Febriyuanda | Editor: Dewi Haryati
LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) merupakan tempat peninggalan Kerajaan Riau-Lingga, yang berpusat di Ibu Kota Daik.
Dengan historis ini, banyak peninggalan sejarah yang kini dipertahankan oleh pemerintah daerah, dan menjadi tempat wisata sejarah dan religi.
Salah satu yang paling ikonik, yakni Masjid Jami' Sultan Lingga. Lokasinya berada di tengah-tengah Ibu Kota Daik.
Masjid ini merupakan tempat wisata sejarah dan religi yang pertama kali akan dikunjungi wisatawan, ketika mereka berkunjung ke Daik, Lingga. Masjid ini juga bisa jadi pilihan destinasi wisata sejarah dan religi di Lingga bagi Anda saat momen libur Tahun Baru.
Baca juga: Masjid Jami Sultan Lingga Kian Menawan Setelah Direvitalisasi
Dengan corak cat bangunan berwarna kuning dan hijau, masjid ini memiliki khas unik melambangkan bangunan yang berdiri di tengah-tengah masyarakat Melayu.
Karena corak bangunan yang unik, masjid ini pun sering diabadikan oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing lewat kamera ponselnya.
Masjid ini merupakan masjid tertua di Lingga, bahkan terbilang tertua di Kepri. Masjid ini dibangun pada tahun 1800 oleh Sultan Mahmud Syah, Sultan yang dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang.
Masjid ini pun terus mengalami beberapa kali pembaharuan, hingga bangunannya berdiri kokoh sampai saat ini.
"Berdasarkan catatan Mahmud Usman, bahwa sebelumnya Sultan sudah membangun tiga masjid, tetapi jejak dan bekasnya belum pernah ditemukan. Sultan memindahkan pusat pemerintahan di Daik itu pada 1787. Pindahnya sultan pasti sudah membangun masjid sebagai tempat ibadah umat Islam," kata Pemerhati Sejarah dan Budaya Lingga, Lazuardy kepada Tibunbatam.id, baru-baru ini.
Pada era Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812) dibangun masjid kerajaan, letaknya tepat berada di lokasi berdirinya Masjid Jami' Sultan Lingga ini.
Masjid itu akhirnya mengalami kerusakan hingga tidak bisa digunakan untuk tempat ibadah lagi.
Lazuardy menjelaskan, berbagai referensi menyebut, masjid ini awal dibangun hanya mampu menampung 40 jemaah dengan bahan bangunan yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun sagu.
Namun, pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1857-1883), masjid ini sudah berlantai keramik yang diambil dari keramik istana.
Perombakan terus dilakukan pada masa Sultan Abdurrahman Muazam Syah (1883-1911).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Masjid-Jami-Sultan-Lingga.jpg)