BATAM TERKINI
Ketua APINDO Tanggapi Industri Garmen Mulai Melemah, Perang Rusia Ukraina Jadi Alasan
Perang Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Hamas telah mengguncang pasar global, mengalihkan fokus konsumen dari produk fashion ke kebutuhan pokok sepert
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Industri garmen di Indonesia termasuk di Batam, Probinsi Kepri tengah menghadapi suasana sulit. Faktor global menjadi salah satu faktor yang sangat berkontribusi besar mempengaruhi kondisi tersebut.
Perang Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Hamas telah mengguncang pasar global, mengalihkan fokus konsumen dari produk fashion ke kebutuhan pokok seperti pangan dan energi.
Akibatnya, permintaan produk garmen global turun drastis, membuat perusahaan-perusahaan garmen di Indonesia, termasuk Batam, limbung.
"Perusahaan garmen di Batam sudah merasakan tekanan ini sejak 2022," ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Batam, Rafki Rasyid, Jumat (21/6/2024).
"Di Batam ada perusahaan garmen yang terpaksa gulung tikar, salah satunya PT BBA, salah satu pemain besar di Batam. Perusahaan yang masih bertahan pun hanya bisa berharap pada keajaiban, berharap permintaan pasar global akan pulih,"kata Rafli Rasyid.
Baca juga: Cahya Jabat Direktur ISPC Apindo Pusat, Tugas Datangkan Investor ke Indonesia
Kondisi diperparah dengan PHK massal yang terjadi di berbagai perusahaan garmen. Ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian mereka, menambah beban sosial ekonomi di Batam.
"PHK ini tidak hanya berdampak pada pekerja dan keluarganya, tapi juga pada perekonomian Batam secara keseluruhan," tambahnya.
Ketua APINDO Kepri, Stanly Rocky, menambahkan selain perang, industri garmen termasuk di Batam saat ini juga menghadapi tantangan dari pelemahan ekspor dan persaingan ketat dari negara-negara lain seperti Vietnam. Beberapa eksportir Vietnam tersebut dulunya beroperasi di Indonesia termasuk di Batam.
Setelah di Vietnam, mereka makin geliat memasarkan produk garmennya ke kancah dunia dengan harga lebih murah.
"Perang dagang dan konflik geopolitik membuat pasar ekspor melemah. Ditambah lagi, kita kalah saing dengan Vietnam yang menawarkan harga lebih murah," jelas Stanly Rocky.
Baca juga: Ketua Apindo Batam Ungkap Mahasiswa Dapat Mengaplikasikan Ilmu saat Magang di Sektor UMKM
Di tengah situasi yang semakin sulit, para pengusaha garmen berharap pemerintah dapat memberikan bantuan dan insentif untuk menyelamatkan industri ini.
"Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah konkret, seperti memberikan subsidi, keringanan pajak, atau bantuan modal kerja," ujar Stanley.
Stanly Rocky menambahkan pengusaha garmen juga berharap dapat mengalihkan fokus ke pasar domestik.
"Kami berharap pemerintah dapat membantu membuka akses pasar domestik yang lebih luas bagi produk garmen Batam," ujarnya.
"Ini bisa menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi penurunan permintaan dari pasar global,"pungkasnya. (AMINJDDIN/TRIBUNBATAM.id)
Baca berita Tribunbatam.id Lainnya di Google News
| Mantan Karyawan Klinik Kecantikan Laporan Dugaan Pemalsuan Produk, Polda Periksa Pemilik Klinik |
|
|---|
| Modus Penyalahgunaan BBM Subsidi Nelayan di Batam, Satu Orang Kantongi 10 Surat Rekom |
|
|---|
| Pengusaha di Batam Jadi Buronan Polisi Setelah Gelapkan Uang Rp 2 Miliar |
|
|---|
| Batam Dipercaya Jadi Tuan Rumah Ajang Basket Dunia 3x3, Hadirkan 32 Negara |
|
|---|
| ASDP Batam dan Pemprov Kepri Segera Bangun Dermaga Sandar di Batam, 2 Kapal Roro Sekali Berangkat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Pengukuhan-pengurus-Apindo-Kepri-periode-2024-2029.jpg)