Senin, 20 April 2026

Mengenal Adab Menyajikan Makan Berhidang di Tradisi Melayu Lingga, Dilarang Berteriak

Makan berhidang menjadi tradisi yang saat ini masih dilestarikan seluruh masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri. Ini adabnya

Penulis: Febriyuanda | Editor: Dewi Haryati
Mengenal Adab Menyajikan Makan Berhidang di Tradisi Melayu Lingga, Dilarang Berteriak - 0601talam-sehidang.jpg
tribunbatam.id/Febriyuanda
MAKAN BERHIDANG - Potret makan berhidang yang masih dilestarikan masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.
Mengenal Adab Menyajikan Makan Berhidang di Tradisi Melayu Lingga, Dilarang Berteriak - Potret-penyajian-makan-berhidang-Lingga-Kepri.jpg
Tribunbatam.id/Istimewa
MAKAN BERHIDANG - Bentuk penyajian makan berhidang di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tradisi ini memiliki adab dalam mengangkat hidangan hingga menyendokan nasi.

LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Makan berhidang menjadi tradisi yang saat ini masih dilestarikan seluruh masyarakat Melayu di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Makan berhidang merupakan tradisi makan bersama masyarakat Melayu, khususnya di Kabupaten Lingga, dengan duduk bersila menyantap makanan yang dihidangkan di talam bertudung saji.

Makan berhidang ini adalah tradisi masyarakat Melayu Kabupaten Lingga dalam menyajikan makanan.

Di mana satu talam dapat dinikmati oleh empat atau lima orang secara bersama-sama, melambangkan kebersamaan dan kekeluargaan sekaligus bermakna duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Baca juga: Polres Lingga Gelar Jamuan Makan Berhidang Undang Ribuan Warga Jelang Akhir Tahun

Namun, dalam pelaksanaan penyajiannya, makan berhidang mempunyai adab, yang tak semua orang mengetahuinya.

Baik cara mengangkat hidangan hingga menyendok nasi ke piring.

Pemerhati Sejarah dan Budaya Lingga, Lazuardi, mengatakan, adab menghidang sebelumnya dilakukan dengan mengucap basmalah.

Selain itu, mempersiapkan kelengkapan, seperti berpakaian baju kurung melayu atau sopan, bersih dan rapi.

"Tidak berbicara tidak senonoh atau berteriak sewaktu menyajikan," kata Lazuardi, kepada Tribunbatam.id, Sabtu (11/1/2025).

Dari informasi beberapa tokoh adat yang dihimpun, dalam tata urutannya, ada tiga item yang disajikan, yakni air dan cuci tangan di talam kecil, hidangan di talam besar bertudung saji berisikan lauk pauk dan kue dan buah-buahan, hingga nasi beserta piring. 

Tiga item tersebut diangkat secara berurutan dalam mengangkat hidangan membawa kepada tamu atau orang jemputan.

Lazuardi menyebutkan, untuk hidangan kepada orang dalam, dimulakan dari air cuci tangan, piring, nasi, hidangan lalu air beserta kue atau buah disandingkan dengan hidangan lauk pauk.

"Tapi untuk orang luar perjalanan jauh yang baru sampai, maka terlebih dahulu diangkat air minum beserta kue atau buah jika ada, lalu mangkok cuci tangan, piring makan,nasi dan hidangan. Dengan susunan hidangan, mangkok cuci tangan, piring makan, nasi dan air minum serta kue atau buah jika ada," ujar Lazuardi.

Hal itu pun, lanjutnya, dengan menyusun mengarah berlawanan jarum jam seperti arah tawaf menyesuaikan dengan ruangan.

"Mengatur dari yang terjauh dari pintu dan mengangkat dari yang terdekat dengan pintu. Cara itu yang biasa dilakukan oleh orang terdahulu di Daik, mungkin di tempat lain ada bedanya," imbuh pria yang kerap disapa War ini.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved