Sopir Angkot Tanjungpinang Senang, Beli Pertalite Pakai QR Code Pertamina Tak Perlu Pajak Kendaraan
Para sopir angkot di Tanjungpinang lega setelah kebijakan pembelian BBM Pertalite menggunakan QR Code Pertamina tak perlu tunjukkan pajak kendaraan.
Penulis: Yuki Vegoeista | Editor: Septyan Mulia Rohman
TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id — Sopir angkutan kota (angkot) di Tanjungpinang bisa tenang setelah kebijakan pembelian BBM Pertalite menggunakan QR Code diterapkan tanpa mewajibkan dokumen pajak kendaraan.
Pertamina menginisiasi kebijakan pembelian BBM Pertalite menggunakan QR Code termasuk untuk angkot di Tanjungpinangyang tersebut.
Anteng, seorang sopir angkot di Tanjungpinang menyampaikan bahwa kini seluruh supir angkot yang aktif telah terdaftar QR Code Pertamina.
"Sekarang semua angkot di sini sudah ada QR Code. Kemarin saya daftar dibantu teman. Cukup bawa STNK dan SIM saja," katanya, Minggu (2/2/2025)
Sebelumnya, banyak sopir angkot di Tanjungpinang khawatir tidak bisa mendaftar karena kendaraan mereka mati pajak.
Baca juga: Mati Pajak, Angkot di Tanjungpinang Tetap Bisa Daftar QR Code Buat Beli Pertalite
Bahkan, beberapa di antaranya terpaksa membeli Pertalite dalam kemasan botolan agar tetap bisa beroperasi.
"Kalau kami beli Pertamax, tidak sanggup. Alhamdulillah sekarang kami bisa menikmati subsidi BBM," ujar Anteng.
Meski jumlah penumpang masih terbatas, para supir angkot tetap bersyukur bisa terus beroperasi.
"Yang penting masih ada penumpang, Alhamdulillah rezeki dicukupkan," tutup Anteng dengan penuh syukur.
Pada tahun 2024 lalu, Tanjungpinang tengah diwarnai cerita pilu dari para supir angkot sejak penerapan pembelian bahan bakar menggunakan QR barcode di SPBU yang dimulai pada 9 Desember 2024.
Baca juga: Cerita Sopir Angkot di Tanjungpinang Terpaksa Beli BBM Botol Sejak SPBU Terapkan QR Code
Sistem ini mensyaratkan kepemilikan pajak kendaraan aktif, membuat sebagian besar supir angkot tidak dapat membeli bahan bakar langsung di SPBU.
Jon, seorang sopir angkot, mengeluhkan situasi ini. Ia terpaksa membeli bensin per botol di kedai-kedai dengan harga yang jauh lebih mahal.
"Pendapatan hari ini sudah sedikit, tapi biaya operasional malah naik. Harusnya SPBU lebih murah, sekarang malah lebih mahal," ujarnya.
Dengan bensin tiga botol yang hanya cukup untuk satu perjalanan, beban Jon dan supir angkot lainnya kian berat. Ia berharap pemerintah memberikan solusi berupa bantuan atau mempermudah proses pendaftaran aplikasi Pertamina.
Boler, supir angkot lainnya, mengungkapkan angkot kini semakin kalah saing dengan transportasi online.
Baca juga: Satu Unit Angkot di Karimun Terbakar Hari Ini Diduga Akibat Korsleting pada Mesin
“Penumpang sekarang lebih memilih yang murah dan mudah dicari. Padahal kita juga sama-sama cari makan,” katanya.
Kecemburuan sosial pun muncul, seperti disampaikan Rendi, koordinator lapangan angkot di sekitar Pelabuhan Sri Bintan Pura.
Ia meminta pemerintah menaikkan biaya transportasi online agar lebih setara dengan angkot.
Selain itu, ia berharap pengemudi transportasi online menjaga jarak dari area penumpang angkot.
"Ikon kota ini salah satunya adalah angkot. Jangan sampai hilang karena persaingan tidak sehat," tegasnya. (TribunBatam.id/Yuki Vegoeista)
Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google News
| Polisi Amankan Pelaku Curanmor Beserta Enam Motor Hasil Curian di Tanjungpinang |
|
|---|
| Saksi Mata Ungkap Detik-detik Bus ALS Terbakar: Api Membesar, Jeritan Korban Terdengar |
|
|---|
| Daftar Lengkap Nama Korban Kecelakaan Bus ALS VS Truk BBM, Baru 10 yang Bisa Diidentifikasi |
|
|---|
| Cerita Aiptu Razmudi Padamkan Motor Terbakar di Lampu Merah Pamedan Tanjungpinang |
|
|---|
| Penuh Haru 3 Penumpang ALS Selamat Dari Maut Saat Mobil Terbakar: Saya Lompat Dari Jendela |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Para-angkutan-umum-Angkot-yang-sedang-berparkiran-di-wilayah-pelabuhan-Sri-Bintan-Pura-SBP.jpg)