Jumat, 1 Mei 2026

Tangis Umat Katolik Batam Pecah saat Visualisasi Jalan Salib di Gereja MBPA Sagulung

Remaja Orang Muda Katolik Paroki MBPA Batam tampilkan tablo sengsara Kristus dengan totalitas mulai dijatuhi hukuman mati hingga wafat di kayu salib

Tayang:
Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Dewi Haryati
Ucik Suwaibah/Tribun Batam
JALAN SALIB - Tablo Jalan Salib saat peringatan Jumat Agung di Gereja Maria Bunda Pembantu Abadi (MBPA), Sagulung, Batam, Jumat (18/4/2025), diwarnai derai air mata. Visualisasi Yesus saat memanggul kayu salib dan berjumpa dengan ibu-Nya (Bunda Maria) di Perhentian 4 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Pagi itu, langit Sagulung, Kota Batam, tampak cerah pada Jumat (18/4/2025).

Namun ada kesenduan yang menggantung di udara. Seolah ikut merasakan duka mendalam yang menyelimuti ratusan bahkan lebih umat Katolik di Kecamatan Sagulung.

Mereka berdiri hening di pelataran Gereja Maria Bunda Pembantu Abadi (MBPA), Paroki Batuaji, Batam, menanti prosesi sakral yang akan membawa mereka menyusuri jejak penderitaan Yesus dalam Jalan Salib.

Tangis pelan terdengar di beberapa sudut. Bukan hanya karena duka, tetapi karena cinta yang dalam terhadap pengorbanan Sang Juruselamat. 

Baca juga: 16 Ucapan Jumat Agung 2025, Bisa Diucapkan Umat Islam Untuk Non Islam

Prosesi dimulai dengan iringan lagu-lagu rohani, mengantar langkah-langkah menuju 14 Perhentian Jalan Salib. 

Di tiap perhentian, para remaja Orang Muda Katolik (OMK) Paroki MBPA menampilkan tablo sengsara Kristus dengan totalitas penghayatan. 

Mereka memerankan kisah dari Yesus dijatuhi hukuman mati hingga dimakamkan, menyajikan gambaran nyata penderitaan Yesus di hadapan umat.

Namun ada momen-momen tertentu yang membuat dada umat terasa sesak.

Ketika Yesus dicambuk dan didera, saat ia jatuh untuk ketiga kalinya karena tubuh-Nya yang tak kuat lagi menahan berat Salib dan siksaan.

 

Tablo 1804
Rangkaian Jalan Salib saat Yesus dicambuk dan didera setelah dijatuhi hukuman mati.

 

Pun terutama ketika ia berjumpa dengan Bunda Maria sebuah pertemuan yang begitu menyayat. 

Banyak yang menunduk, meneteskan air mata, membayangkan luka yang dirasakan seorang ibu melihat anaknya tersiksa.

Baca juga: Perayaan Jumat Agung di Gereja St Yoseph Kawal, Romo Pramodo Ajak Umat Saling Melayani

Tak hanya itu, suasana makin khidmat dan sendu saat memasuki perhentian di kayu Salib.

 

Tablo 1804 1
Rangkaian Jalan Salib, potret saat Yesus disalibkan

 

Ratusan bahkan hampir 1000 pasang mata ikut hanyut dalam memaknai perjalanan kisah sengsara Yesus.

"Seluruh umat diajak masuk dalam kisah penderitaan Yesus, agar bisa meresapi makna pengorbanan-Nya. Dari penghakiman, penyalipan sampai wafatnya, dan itu yang Tuhan janjikan untuk keselamatan kita, seluruh umat manusia," ujar Berlin Siagian, Panitia Tablo Jalan Salib.

Tablo untuk Jumat Agung ini secara keseluruhan melibatkan hampir ratusan pemuda. 

Mereka berbagi tugas masing, ada yang bertugas langsung untuk penampilan dan aada yang dibelakang layar.

Mereka yang tak terlibat dalam aksi drama melakukan persiapan di balik layar, seperti dekorasi, perlengkapan, sampai pembuatan kostum.

"Anak-anak muda ini bukan hanya memerankan, mereka menyampaikan pesan iman. Mereka sudah latihan selama berminggu-minggu," tuturnya.

Sejauh ini prosesi berjalan tertib dan lancar hingga Yesus wafat.

Pengamanan dilakukan oleh tim internal gereja dibantu pemuda Katolik, disertai kesiapan penuh dari panitia. 

"Semuanya sudah disisir sejak pagi untuk memastikan kenyamanan dan kekhusyukan," tambah Berlin.

Setelah prosesi tablo, ibadah dilanjutkan dengan penghormatan salib pada pukul 12 siang dan 3 sore. 

Semua merupakan rangkaian bagian dari Pekan Suci yang dimulai sejak Minggu Palma dan akan berpuncak pada perayaan Minggu Paskah.

Baca juga: Jumat Agung 2024 di Anambas Berlangsung Khidmat, Anggota Polres Berjaga di Lokasi

Malam nanti, umat akan mengikuti Sabtu Suci, menyambut kebangkitan Kristus. 

Namun bagi mereka yang hadir hari ini, Jalan Salib bukan sekadar prosesi. 

Ia adalah perjalanan batin, yang menorehkan haru dan iman dalam hati.

Dan seperti harapan yang tumbuh dari luka, air mata Jumat Agung bukanlah akhir. 

Mereka adalah awal dari sukacita yang lebih besar kebangkitan dan kasih yang tak pernah padam. 

(Tribunbatam.id/Ucik Suwaibah)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved