Berkendara dengan Iman dan Semangat, Kisah Driver Online Batam 'Widjaya' Menantang Batas Fisik
Di tengah riuh pekikan tuntutan para driver online di depan kantor Graha Kepri, tampak satu sosok yang menarik perhatian.
Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Prawira Maulana
"Waktu itu saya dipukul di pelabuhan oleh oknum taksi pangkalan. Teman-teman driver yang bantu saya. Dari dana makan sampai ngurus laporan ke polisi," kenangnya.
Ditemani tongkat kayu ia tetap mengemudi seperti driver lainnya dan kini juga aktif menjadi salah satu penasehat di Aliansi Driver Online Batam (ADOB)
Pemiliki surat izin mengemudi (SIM) D ini juga menceritakan pengalaman dna tantangannya saat menerima orderan.
"Saya pling takut penumpang merasa nggak nyaman. Saya suka merasa kurang maksimal. Tapi saya tetap berusaha bantu sebisa mungkin," katanya pelan.
Terkadang ia sering menerima pertanyaan dari penumpang tentang kondisinya tersebut, namun hal itu ia jawab dengan tenang dan rasa optimis yang tinggi.
"Meski sudah 32 tahun menjalani kondisi ini, tapi tetap saja dalam hati saya, satu saya ini ngerasa kurang maksimal ke kepada pengguna jasa. Meski ga ada aturan ya saya angkat barang atau koper, cuma kurang pede," terangnya.
Dengan gurauan renyah Widjaya mengatakan tak jarang mendapat tip tambahan karena penumpang tersentuh perjuangannya.
Dari pengakuannya, ayah 4 anak ini menuturkan menjadi seorang driver memiliki pendapatan yang tak menentu.
"Sehari bisa cuma Rp 50 ribu itu 3 kali ngantar. Pernah juga sehari cuma dapat Rp12 ribu. Kalau ramai bisa seratusan. Tapi saya tetap semangat. Karenakan kebetulan banyak kenalan, banyak kawan juga, biasanya dia minta buat dianter, nah dapat tambahan dari situjuga," ucapnya.
Selain itu, sang istri juga memiliki usaha kecil berjualan empek-empek.
"Di rumah syukurnya ada jualan istri bikin empek-empek tapi sistem pre order. Lumayan kalau ada pesanan," katanya.
Meski berpenghasilan tak menentu, pria berkacamata ini tak ingin anak-anaknya berhenti melangkah.
"Saya punya empat anak. Yang pertama sudah lulus sarjana perhotelan, yang kedua kerja di Jakarta, yang ketiga sarjana arsitek, dan yang bungsu baru mau kuliah di UIB," katanya, mata berbinar penuh bangga.
Sebagai perwakilan dalam mediasi saat aksi, ia tak pernah menganggap kekurangannya sebagai penghalang.
Ia memilih melihat hidup dari sisi yang lebih terang dengan keyakinan bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk bekerja dan dihargai.
| Dari Kebun Kelapa ke Tanah Suci, Kisah Wan Izhar Wujudkan Mimpi Naik Haji di Usia 80 Tahun |
|
|---|
| Sakit Hati Istri Diduga Selingkuh, Pria di Batam Pakai Akun Palsu Sebar Ujaran Kebencian |
|
|---|
| Raut Sedih Ibunda Lepas Kepergian Bripda Natanael di Pemakaman: Selamat Jalan, Nael |
|
|---|
| Dagang Rujak Dewi Dalam Napas Syariah Hantarkan Anak ke Bangku Kuliah |
|
|---|
| Cantik Bak di Negeri Sakura Jepang, Tabebuya di Batam Mekar Lagi Jadi Spot Foto Warga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Widjaya-Setijograha.jpg)