Cerpen Kolom Kasturi Pisang Hijau Oleh Destriyadi Imam Nuryaddin
Bangsal rumah riuh sejak pagi sekali mendengar kelakar Hasan, ia memang lihai menuturkan cerita dengan nada dan ekspresi wajah meyakinkan
Penulis: Renhard Patrecia Sibagariang | Editor: Dewi Haryati
TRIBUNBATAM.id - Bangsal rumah riuh sejak pagi sekali mendengar kelakar Hasan. Ia memang lihai menuturkan cerita dengan nada dan ekspresi wajah yang meyakinkan. Sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang dilebih-lebihkan. Apalagi, batang rokok masih keluar masuk di mulutnya, menandakan kelakarnya akan semakin panjang.
Hasan datang ke Ranai untuk mengurus uang bantuan dari pemerintah untuk pekerja yang gajinya di bawah lima juta. Rencananya ia akan di Ranai selama tiga hari, sekalian berlibur sebelum ada panggilan kerja lagi.
Dari pintu dapur, Erna menyuruh Yadi mengajak Hasan untuk mengobrol di ruang dapur. Air panas baru saja dituangkan ke dalam mug berisi teh celup dan bubuk kahwa. Sebenarnya, Erna juga ingin ikut mendengarkan kelakar mereka berdua tanpa harus meninggalkan pekerjaan dapur.
Dengan tas pinggang melingkar, Hasan masuk ke rumah dan duduk di salah satu kursi di meja dapur, lalu menyalakan sebatang rokok. Erna mengambil asbak rokok dari bawah lemari yang memang disediakan untuk situasi seperti ini agar piring kecil atau gelas tidak tiba-tiba dijadikan asbak.
Yadi duduk berhadapan dengan Hasan, siap mendengar cerita selanjutnya. Yadi, yang sudah pensiun dari pegawai dua tahun lalu, kini hanya menyibukkan diri mengurus rumah kontrakan dan mengajar di kampus keagamaan pada malam hari.
Untuk menghangatkan pertemuan yang jarang terjadi ini, Erna sudah menyajikan sepiring sepuh pisang hijau. Setandan pisang hijau diambil hari Minggu kemarin saat memantau kebun milik Yadi yang sudah menjadi miliknya sejak sepuluh tahun silam.
“Bujong itu pisang hijau, Ngah,” kata Hasan sambil mengangkat sepuh pisang yang sudah digigitnya setengah, “luarnya terlihat keras, dalamnya lembut.” Lalu, sisa pisang di tangannya habis dalam sekali telan.
Orang-orang kampung di Serasan punya julukan “pisang hijau” untuk suami yang terlihat patuh dan nurut pada istri.
Suatu kali, saat acara kenduri di kampung, di tengah ramainya tamu undangan, Bujong membawa tas milik istrinya. Itu adalah hal yang dihindari lelaki jantan seperti Hasan karena dianggap merendahkan martabat laki-laki di kampung, bahkan membuat malu. Saat itu Hasan dan Bujong duduk berdampingan sambil berbincang, tiba-tiba, Rika, istri Bujong, memberi isyarat dengan kode anggukan kepala yang berarti mengajak pulang.
Rokok yang masih sisa sebatang dibuang begitu saja. Bujong bersalaman dan pamit meninggalkan Hasan. Jelas, tidak hanya Hasan yang melihat Bujong kembali membawa tas milik istrinya.
Hasan berhenti sebentar untuk dua kali meneguk kahwa dan memakan sepotong sepuh pisang. Yadi ikut menyesap tehnya yang hampir habis. Setelah semua pisang selesai digoreng, Erna duduk di sebelah Yadi dan ikut menikmati hidangan pagi itu.
Padahal sebelum Hasan datang, Erna berniat mengurus bunga di teras depan tapi cerita Hasan mampu menempelkan punggungnya ke kursi dapur.
Setiap kali berangkat kerja sebagai tukang, Hasan selalu melewati rumah Bujong. Aktivitas luar rumah yang dilakukan oleh Bujong dapat dilihat oleh Hasan. Satu kejadian yang Hasan ingat jelas adalah saat Bujong sedang memegang sapu, satu pantangan bagi kebanyakan laki-laki, termasuk Hasan.
Tugas menyapu bagi Hasan adalah urusan istrinya. Ketika melewati rumah Bujong, dua-tiga kali Hasan menoleh ke arah Bujong untuk memastikan benar atau tidak. Ternyata, Bujong begitu lihai dalam mengayunkan sapu sementara istrinya tidak pernah terlihat melakukannya.
“Pernah sekali, waktu para lelaki di kampung berkumpul di warung Dayang Na, ponsel milik Bujong berdering. Semua sudah mengira pasti yang menelepon adalah istrinya tercinta. Benar saja, setelah menutup panggilan, Bujong langsung pamit dengan alasan istrinya minta dibelikan sesuatu. Kalau aku, kubiarkan saja. Istri pasti mengerti aku sedang bertemu dengan kawan-kawan. Memang Bujong tidak bisa diajak berkelakar lama-lama. Sepuh pisang hijau di meja malam itu pun hanya kami yang makan. Sepertinya, lidah Bujong tidak bisa memakan sesamanya.”
| Update Harga Emas Perhiasan di Natuna Hari Ini, Rabu, 22 April 2026, Emas 24K Rp2,7 Juta per Gram |
|
|---|
| Kapolres Natuna Ngopi Bareng Buruh di Penagi, Serap Aspirasi hingga Bahas Isu BBM |
|
|---|
| BBM Subsidi Jadi Andalan Masyarakat di Natuna, Stok Masih Aman dan Tak Ada Antrean Panjang |
|
|---|
| Dari Kebun Kelapa ke Tanah Suci, Kisah Wan Izhar Wujudkan Mimpi Naik Haji di Usia 80 Tahun |
|
|---|
| Tangis Haru Iringi Langkah 36 Jemaah Calon Haji Natuna, Doa Keluarga Terdengar di Masjid Agung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/cerpen-pisang.jpg)