Sabtu, 16 Mei 2026

Sulap Sampah Jadi Rupiah, BUMDes Tumang Ubah Wajah Desa Cepogo Lewat Maggot

Dari sesak sampah jadi cuan, simak kisah Desa Cepogo olah 70 ton limbah jadi maggot bernilai tinggi melalui BUMDes Tumang.

Tayang:
Penulis: Khistian Tauqid | Editor: Karunia Rahma Dewi
Tribun Batam/Khistian Tauqid
PENGELOLAAN SAMPAH - Maggot hasil budidaya BUMDes Tumang, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah yang siap dikirim ke pembeli di tahun 2026. 

TRIBUNBATAM.id - Ternyata di antara gemerincing suara palu menghantam tembaga di Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, tersimpan sebuah situasi yang sempat menyesakkan napas warga. 

Sebagai sentra kerajinan kuningan dan tembaga yang terkenal hingga mancanegara, desa ini adalah magnet ekonomi. 

Pertumbuhan ekonomi tersebut membawa oleh-oleh tidak diinginkan yaitu berupa gunungan sampah yang tak terkendali. 

Apalagi, Desa Cepogo memiliki penduduk asli sekitar 9.000 jiwa. 

Namun, saat fajar menyingsing hingga matahari tepat di atas kepala, jumlah manusia di desa ini melonjak hingga tiga kali lipat. 

Ribuan pendatang, pekerja bengkel kerajinan, dan pedagang tumpah ruah di sini. Dampaknya, volume sampah pun ikut meledak.

Melawan Stigma "Desa Sampah"

Sebelum tahun 2017, pemandangan sampah yang berserakan di pinggir jalan desa dan menumpuk di aliran sungai menjadi sorotan tajam Pemerintah Kabupaten Boyolali

Menanggapi kondisi darurat ini, pada tahun 2019, dibentuklah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tumang.

Direktur BUMDes Tumang, Felani Ade Widakdo, mengingat betul bagaimana ia mengawali perjuangan ini dari nol. 

Tumpukan sampah yang hendak dipilah untuk dijadikan maggot di Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Tumpukan sampah yang hendak dipilah untuk dijadikan maggot di Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. (Tribun Batam/Khistian Tauqid)

Sebagai lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM), tantangan terbesarnya bukan sekadar teknis mengangkut sampah, melainkan mengubah pola pikir masyarakat yang sudah mengakar selama puluhan tahun.

“Desa Cepogo itu padat minta ampun. Penduduknya hampir 9.000 jiwa itu yang real, kalau siang hari bisa dua hingga tiga kali lipat karena sini desa industri,” ujar Felani saat sesi wawancara mendalam pada Senin (11/5/2026).

“Banyak pendatang yang datang ke sini membawa sampah semua. Dengan kepadatan penduduk seperti itu, sampah jadi masalah nomor satu di Desa Cepogo. Makanya, unit BUMDes yang pertama kali saya bentuk adalah Taman Sampah (Tampah),” tambahnya.

Selama satu tahun penuh, Felani harus keluar masuk kampung di 48 Rukun Tetangga (RT). 

Ia tidak datang dengan ceramah kosong, melainkan dengan strategi jitu berupa membentuk kelompok kolektif di setiap rumah agar sampah dikelola secara terpusat dan tidak lagi dibuang ke sungai.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved