Selasa, 2 Juni 2026

PROGRAM MBG

Kapolda Kepri Sebut Pengobatan Korban Keracunan MBG di Batam Ditanggung Pemko Batam

Jika ada siswa yang masuk rumah sakit akibat dampak konsumsi MBG, seluruh biaya perobatan akan ditanggung pemerintah daerah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Eko Setiawan
Beres/TribunBatam
Kapolda kumpulkan kepala SPPG di gedung lancang kuning 

TribunBatam.id, Batam - Di tengah polemik Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang memicu keresahan, Kapolda Kepri Irjen Pol Asep Safrudin memberikan penegasan krusial terkait jaminan kesehatan siswa. 

Jika ada siswa yang masuk rumah sakit akibat dampak konsumsi MBG, seluruh biaya perobatan akan ditanggung pemerintah daerah.

Dalam pertemuan evaluasi dengan seluruh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Gedung Lancang Kuning Polda Kepri, Selasa (30/9/2025), Kapolda Asep memberikan kepastian yang ditunggu orang tua siswa.

"Jika siswa masuk rumah sakit dampak dari MBG, maka yang menanggung biaya perobatan itu pemerintah. Itu dari pemerintah daerah masing-masing. Jadi ditanggung pemerintah, bukan individu," tegas Kapolda Asep usai memberikan evaluasi kepada SPPG. 

Dalam forum itu dihadiri Dinas Kesehatan, BPOM Kepri, dan Biddokkes Polda.

Penegasan ini memberikan angin segar bagi orang tua yang sebelumnya khawatir harus menanggung biaya pengobatan jika anak mereka mengalami masalah kesehatan akibat konsumsi MBG.

Evaluasi mendalam mengungkap sejumlah persoalan mendasar dalam pelaksanaan program MBG. Kapolda Asep menyoroti temuan krusial terkait kualitas bahan baku yang tidak sesuai standar.

"Menurut Kepala SPPG, ditemukan bahan baku yang tidak sesuai standar. Mereka melaporkan kepada mitra bahwa ini tidak standar, dagingnya rusak, jelek. Tapi mitra tidak mau dikasih tahu, tetap pakai saja padahal dagingnya sudah tidak standar," ungkap Kapolda. 

Merespon hal itu, Asep menyebutkan SPPG punya saluran pelaporan dapat dilaporkan ke Polsek, Polres dan Polda. 

Masalah tidak berhenti di bahan baku. Sistem distribusi yang bermasalah juga menjadi sorotan utama. 

"Permasalahan ini lebih banyak karena mekanisme pengiriman. Misalnya, makanan dikirim pagi, tapi baru dibuka siang, otomatis kualitasnya menurun," jelas Kapolda.

Ia mengungkap temuan yang mengkhawatirkan oleh pihaknya setelah dilakukan pemeriksaan.

"Harusnya pemilihan bahan bakunya lebih bagus lagi, kemudian pada saat memasak juga harus betul-betul dicek," ujar Kapolda.

Faktor lain yang memperumit identifikasi sumber masalah adalah kebiasaan siswa. Kata dia siswa masih membeli jajanan sebelum menyantap MBG. Hal ini membuat sumber masalah sulit dipastikan, apakah dari makanan MBG atau dari jajanan di luar.

Meski mengakui adanya persoalan serius, Kapolda optimis perbaikan dapat dilakukan melalui komunikasi intensif dengan mitra penyedia. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved