Senin, 11 Mei 2026

SIDANG 2 TON SABU DI BATAM

Jerit Pilu Keluarga Fandi Ramadhan, ABK di Ambang Hukuman Mati Perkara 2 Ton Sabu di Kepri

Keluarga Fandi Ramadhan ungkap cerita pilu yang menimpa Fandi, ABK yang kini di ambang hukuman mati kasus 2 ton sabu di Kepri dalam podcast Tribun

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Dewi Haryati

Ringkasan Berita:
  • Keluarga Fandi Ramadhan hadir di Podcast Tribun Batam, suasana ruangan jadi haru
  • Keluarga ungkap cerita pilu yang menimpa Fandi, ABK yang baru beberapa hari bergabung di Kapal Sea Dragon
  • Fandi kini hadapi tuntutan hukuman mati setelah kapal yang diawakinya ditangkap petugas karena membawa hampir 2 ton sabu
  • Keluarga berharap keadilan untuk Fandi, seorang anak nelayan yang kini jadi harapan keluarganya

 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Suasana haru menyelimuti Studio Tribun Batam ketika keluarga besar Fandi Ramadhan (25) hadir untuk menyampaikan suara hati mereka, Selasa (24/2/2026) sore.
 
Orang tua Fandi, sang ayah dan ibu serta ketiga adiknya diboyong ke dalam studio. Sang nenek dan Pak Cik Fandi juga hadir. 

Dalam Podcast Tribun Batam, semua anggota keluarga mengungkapkan cerita pilu yang menimpa Fandi. Mereka berharap keadilan bagi Fandi. 

Perlu diketahui, Fandi merupakan seorang anak nelayan yang baru beberapa hari bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di Kapal Sea Dragon.

Pemuda itu kini menghadapi ancaman hukuman mati bersama lima ABK lainnya, setelah kapal yang diawaki mereka ditangkap Tim Patroli BNN RI dan Bea Cukai saat melintas di perairan Karimun, Kepri pada 21 Mei 2025 lalu.

Dari hasil pemeriksaan, kapal itu membawa narkotika dalam jumlah besar. Yakni hampir 2 ton sabu.

Kasus ini tengah disidangkan di Pengadilan Negeri Batam dan menjadi perhatian publik.

Keluarga meyakini Fandi tidak mengetahui muatan terlarang di kapal tersebut dan menjadi korban jaringan narkoba.

Fandi merupakan anak sulung dari enam bersaudara, putra pasangan Sulaiman dan Nirwana.

Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak penurut dan religius.

Ayahnya, seorang nelayan, membiayai pendidikan Fandi hingga lulus akademi pelayaran dengan penghasilan dari melaut.

“Dari hasil nelayan itulah saya sekolahkan dia sampai jadi pelaut. Hancur hati saya melihat dia sekarang,” ujar Sulaiman, sang ayah dengan suara bergetar.

Sang ayah menaruh harapan besar kepada Fandi sebelum berangkat bekerja. Fandi telah berpamitan kepada keluarga dan tetangga. Ia bahkan sempat berpesan kepada adik-adiknya untuk menjaga diri dan rajin belajar. 

Niatnya sederhana, bekerja untuk membantu orang tua dan membiayai sekolah saudara-saudaranya.

Menurut keluarga, Fandi baru tiga hingga lima hari bergabung di kapal tersebut saat penangkapan terjadi. 

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved