Jumat, 8 Mei 2026

KECELAKAAN MAUT DI JALAN TRANS BARELANG

Pesan Terakhir Pelajar SMP Terlibat Kecelakaan Maut di Batam, Safaraz Cium Sang Ibu Sebelum Pergi

Alwani, orangtua Safaraz Akma ungkap hal terakhir yang anaknya lakukan sebelum terlibat kecelakaan maut di Batam pada Minggu (5/4/2026).

Tayang:
TribunBatam.id/Beres Lumbantobing
KECELAKAAN MAUT DI BATAM - Warga berdatangan menyampaikan belasungkawa ke rumah duka korban kecelakaan maut di Batam, Minggu (5/4/2026). Tampak kursi dan tenda biru dihiasi papan bunga di depan rumah duka. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Hari Minggu, 5 April 2025, seharusnya menjadi hari yang biasa bagi Alwani.

Guru SD yang sudah 13 tahun merantau dan mengabdi di Batam itu belanja mingguan seperti biasa.

Istrinya mencuci pakaian. Dan putra bungsunya, Safaraz Akma, siswa kelas IXB SMPIT Insan Harapan di Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pergi memancing bersama dua sahabatnya.

Tidak ada yang tahu, kepergian itu adalah yang terakhir.

Kecelakaan  maut di Batam tepatnya di Jalan Trans Barelang hari itu merenggut nyawa Safaraz bersama dua rekannya, Rino Arif Bakhtiar(kelas 8B) dan Ruhalzan Syakir (kelas 9B).

Di rumah duka, dengan mata yang lelah dan suara yang sesekali terhenti, Alwani menuturkan segalanya. Ini adalah kisahnya.

Bagi Alwani, Safaraz bukan sekadar anak. Dia adalah energi rumah.

Sejak kecil, anak bungsunya itu punya satu kegemaran yang tidak pernah pudar, yakni memancing.

"Jujur saya katakan, hampir setiap hari dia ribut minta pergi mancing. Tapi ribut dalam artian antusias, bukan yang negatif," kenang Alwani, tersenyum tipis di sela dukanya saat ditemui TribunBatam.id di rumahnya, Senin (6/4/2026) siang. 

Sebagai seorang ayah sekaligus pendidik, Alwani mengaku sempat mempertimbangkan sebelum membolehkan anaknya pergi mancing sesering itu.

Namun ia memilih untuk tidak mempersempit ruang hobi Safaraz.

"Dibanding anak-anak lain yang sudah bergeser ke hal negatif, anak saya betul-betul mancing. Hobi itu positif. Banyak kawan senior saya bilang begitu. Jadi saya tidak mau mempersempit ruang hobinya," ujarnya.

Satu-satunya pesan yang selalu ia tekankan, jangan pergi jauh-jauh, dan jangan mancing di tempat yang tidak jelas.

Safaraz selalu mengangguk. Selalu bilang iya.

Ikan hasil pancingan pun kadang dijual, uangnya ditabung sendiri. Ada ironi kecil yang membuat Alwani nyengir saat mengenangnya di rumah, ikan itu hampir tidak ada yang mau makan.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved