Sabtu, 25 April 2026

Abrasi Pantai Ancam Kampung Boyan Lingga, Jakfar Cemas Tiap Ombak Besar Menerjang

Jakfar, warga Kampung Boyan Lingga mengaku keluarganya kerap diliputi ketakutan ketika angin kencang disertai ombak besar datang. Takut rumah roboh

Penulis: Febriyuanda | Editor: Dewi Haryati
Tribunbatam.id/Istimewa
ABRASI PANTAI DI LINGGA - Potret pesisir pantai rusak karena ambrasi mengancam kerusakan rumah warga di Kampung Boyan, Desa Batu Berdaun, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. 

Ringkasan Berita:
  • Abrasi pantai di Kampung Boyan, Desa Batu Berdaun, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, semakin parah dan mengancam keselamatan rumah warga
  • Derasnya ombak serta aktivitas pengambilan kerikil di pesisir menyebabkan tanah penyangga rumah terkikis hingga pondasi bangunan tampak menggantung
  • Warga mengaku hidup dalam kecemasan, terutama saat ombak besar dan cuaca ekstrem datang karena rumah bergetar dan rawan roboh
  • Warga berharap pemerintah segera turun tangan menangani abrasi


LINGGA, TRIBUNBATAM.id
- Kondisi pesisir di Kampung Boyan, Desa Batu Berdaun, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), semakin memprihatinkan.

Derasnya ombak yang terus menghantam pantai, ditambah aktivitas pengambilan kerikil untuk kebutuhan ekonomi warga, menyebabkan abrasi kian parah dan mengancam keselamatan permukiman penduduk.

Hasil pengamatan di lokasi, sebagian rumah warga berada sangat dekat dengan bibir pantai yang terus terkikis.

Tanah penyangga bangunan perlahan hilang, membuat pondasi rumah yang sebelumnya tertanam kuat kini tampak menggantung dan rawan roboh apabila abrasi berlanjut.

Situasi tersebut membuat warga hidup dalam rasa waswas, terutama saat cuaca ekstrem melanda.

Jakfar, warga Kampung Boyan, mengaku keluarganya kerap diliputi ketakutan ketika angin kencang disertai ombak besar datang.

“Kalau ombak besar datang, rumah ini bergetar seperti mau runtuh. Kami tidur tidak tenang. Mau pindah pun tidak tahu ke mana,” ujarnya, baru-baru ini.

Selain faktor alam, dari informasi yang dihimpun pengambilan kerikil di sepanjang pantai turut mempercepat proses abrasi.

Aktivitas ini diakui dilakukan oleh sebagian warga sebagai upaya bertahan hidup di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan.

Jhon, salah satu warga, mengakui pengambilan batu kerikil sering ia lakukan.

Ia menegaskan, kegiatan tersebut bukan didasari niat merusak lingkungan.

“Kami ambil kerikil bukan untuk merusak. Itu cuma cara kami menambah nafkah. Kalau ada kerja lain, tentu kami pun ingin menjaga pantai ini,” katanya.

Tokoh masyarakat Kampung Boyan, Salman, menilai abrasi yang terjadi saat ini sudah berada pada level yang mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan segera dari pihak berwenang.

“Abrasi di sini sudah masuk tahap bahaya. Kalau tidak ada langkah cepat, bukan hanya rumah yang hilang, jalan, lahan, sampai kampung ini pun bisa tergerus,” tuturnya.

Warga setempat berharap, Pemerintah Daerah segera turun tangan melakukan pendataan serta mengambil langkah penanggulangan abrasi.

Mereka juga menginginkan adanya solusi ekonomi alternatif, agar masyarakat tidak lagi bergantung pada pengambilan kerikil di wilayah pesisir. (Tribunbatam.id/Febriyuanda)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved