Minggu, 12 April 2026

Batam Terkini

Derita Bu Suratmi Korban Puting Beliung di Batam, Sendiri Bertahan di Rumah yang Hancur

Dalam hitungan menit, suasana tenang berubah menjadi kepanikan. Belasan rumah porak-poranda, atap beterbangan,

Editor: Eko Setiawan
Tribunbatam.id
Puting Beliung - Bu Sutarmi salah satu korban Puting Beliung di Batam 

TRIBUNBATAM.id, BATAM – Hujan deras disertai angin puting beliung melanda Bengkong Abadi 1, Kota Batam, Senin siang.

Dalam hitungan menit, suasana tenang berubah menjadi kepanikan. Belasan rumah porak-poranda, atap beterbangan, dan warga berhamburan mencari perlindungan.

Di tengah kepanikan itu, seorang ibu berusia 54 tahun, Bu Suratmi, tampak mondar-mandir di jalan pemukiman, kebingungan mencari pertolongan.

Rumah kecil yang selama ini menjadi tempat ia berteduh, kini hanya tersisa dinding dan lantai yang basah kuyup.

Atap rumah Bu Suratmi jebol diterjang angin. Dari dalam rumah, langit kelabu dan awan gelap terlihat jelas.

Dapur yang biasanya menjadi tempatnya memasak, kini tak bisa lagi dipakai. Semua perabot basah kuyup, sementara listrik padam total.

Malam itu, hanya sebatang lilin yang menjadi penerang. Bu Suratmi duduk sendiri dalam kesunyian, mencoba tabah meski kedua anaknya sedang jauh dan tak bisa segera pulang.

Kronologi bermula ketika Bu Suratmi bangun dari tidurnya untuk menunaikan sholat Dzuhur. Baru saja bersiap beribadah, tiba-tiba suara menderu dari luar disusul teriakan warga.

“Saya langsung panik, apalagi tinggal sendiri. Pas azan, saya teriak-teriak, nangis juga, bingung harus gimana,” tutur Bu Suratmi dengan mata berkaca-kaca.

Pakaian yang dikenakannya basah kuyup. Dari matanya sendiri, ia melihat seng rumahnya beterbangan, seperti kertas yang dihempas angin, jatuh berserakan ke mana-mana.

Bertahan dengan Rasa Syukur

Dalam kondisi hujan deras, ia nekat keluar rumah mencari pertolongan. “Enggak sempat lagi bawa barang-barang. Cuma bisa keluar dengan pakaian di badan,” katanya, mengenakan hijab hitam dan kacamata, tetap berusaha tegar di tengah cobaan.

Meski rumahnya hancur, Bu Suratmi masih mencoba ikhlas.

“Awalnya saya sedih sekali. Tapi setelah lihat tetangga saya ada yang lebih parah, saya jadi bersyukur. Masih ada yang bisa diselamatkan,” ucapnya dengan lirih.

Kini, Bu Suratmi hanya bisa berharap ada uluran tangan untuk memperbaiki rumah kecilnya. Sementara itu, malam-malam panjang harus ia lalui dalam kegelapan, ditemani suara hujan yang menetes dari langit-langit yang sudah tak lagi utuh.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved