Rabu, 15 April 2026

Konflik Timur Tengah Tekan Fiskal RI, Program Makan Gratis Berpotensi Dikurangi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kenaikan harga minyak akan memberi tekanan tambahan terhadap fiskal dan perekonomian

Editor: Eko Setiawan
Tribunbatam.id/(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada awak media usai Konferensi Pers APBN KiTa edisi Februari 2026, Jakarta, Senin (23/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Jika harga minyak tembus 90–92 dollar AS per barel, defisit berpotensi naik ke 3,6 persen PDB.
  • Pemerintah menyiapkan pemangkasan belanja yang berdampak paling kecil terhadap pertumbuhan.
  • Program makan gratis dan stabilitas fiskal menjadi sorotan lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan Fitch.

 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan penyesuaian belanja negara guna menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Langkah ini diambil di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kenaikan harga minyak akan memberi tekanan tambahan terhadap fiskal dan perekonomian nasional.

“Dengan asumsi skenario terburuk, jika harga minyak naik hingga 90 hingga 92 dollar AS per barel, tanpa penyesuaian anggaran, defisit akan meningkat menjadi sekitar 3,6 persen dari PDB,” kata Purbaya dalam wawancara dengan Reuters, Selasa (3/3/2026).

Anggaran 2026 sendiri menggunakan asumsi harga minyak mentah domestik 70 dollar AS per barel. Dengan kurs Rp 16.850 per dollar AS, harga 90 dollar AS setara sekitar Rp 1,51 juta per barel.

Baca juga: DLH Lingga Sebut Karung Isi Minyak Hitam di Pantai Dungun Berisi Limbah B3, Penyu dan Kepiting Mati

Harga Minyak dan Tekanan Pasar

Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 82,37 dollar AS per barel, tertinggi dalam 14 bulan, sementara minyak mentah Amerika Serikat naik ke 75,55 dollar AS per barel, tertinggi dalam delapan bulan.

Lonjakan ini dipicu eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyebut sekitar seperempat impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah, sementara kawasan tersebut juga menyuplai 30 persen impor LPG nasional.

Tekanan pasar telah terasa sejak awal tahun. Nilai tukar rupiah melemah lebih dari 1 persen terhadap dollar AS sepanjang 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun hingga 7,5 persen, menjadi salah satu yang terburuk di Asia.

Skenario Pangkas Belanja

Menghadapi risiko tersebut, Purbaya menegaskan pemerintah telah menyiapkan rencana darurat.

“Tentu saja, kami akan memangkas pengeluaran yang berdampak paling kecil terhadap perekonomian,” ujarnya.

Salah satu pos yang menjadi perhatian adalah program makan gratis. Pemerintah membuka kemungkinan pengurangan anggaran dengan potensi penghematan sekitar Rp 100 triliun atau sekitar 6 miliar dollar AS.

Program senilai 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 337 triliun tersebut menargetkan penyediaan makanan bergizi harian bagi hingga 83 juta warga.

Skema ini menjadi sorotan investor karena dinilai berisiko menekan disiplin fiskal. Pada Februari lalu, Moody’s menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Fitch juga melakukan pertemuan dengan pemerintah menjelang tinjauan peringkat terbaru.

Purbaya menjelaskan kekhawatiran lembaga pemeringkat juga menyasar Danantara, dana kekayaan negara baru Indonesia.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved