Rupiah Tembus Rp 17.873 per Dollar AS, Menkeu Sebut Ekonomi Indonesia Masih Kuat
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menilai pelemahan rupiah tersebut tidak sepenuhnya
TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah menyentuh level Rp 17.873 per dollar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat pemerintah angkat bicara.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menilai pelemahan rupiah tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang saat ini masih tergolong stabil.
Berdasarkan data pasar spot pada Kamis (28/5/2026), kurs rupiah berada di posisi Rp 17.873,5 per dollar AS. Angka itu melemah 72,5 poin atau sekitar 0,41 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
“Sebenarnya tidak masuk akal, biasanya pelemahan terjadi kalau ada gangguan pada fundamental ekonomi,” ujar Purbaya di kawasan Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Rabu (27/5/2026), dikutip dari Kompas.com.
Meski rupiah terus tertekan, Purbaya memastikan pemerintah masih mampu mengendalikan situasi dan belum perlu melakukan perhitungan ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, skenario pelemahan rupiah hingga lonjakan harga minyak dunia sebenarnya sudah masuk dalam simulasi pemerintah.
“Jadi tidak ada masalah, saya tidak harus hitung ulang APBN-nya,” katanya.
Purbaya menjelaskan, kondisi pasar keuangan Indonesia sejauh ini masih relatif terkendali. Hal itu terlihat dari imbal hasil surat utang negara atau bond yield yang justru mengalami penurunan di tengah pelemahan rupiah.
Ia mengatakan, pemerintah aktif menjaga stabilitas pasar obligasi melalui langkah pembelian surat utang sehingga minat investor tetap terjaga.
“Selama bond market terkendali, kemampuan investor asing maupun domestik untuk berinvestasi di obligasi kita tetap akan terjaga,” jelasnya.
Tak hanya itu, Purbaya juga mengungkapkan sudah mulai terlihat aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Pemerintah pun disebut tengah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.
“Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan nilai tukar rupiah dengan signifikan,” tutupnya.
Sementara itu, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi sentimen global. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan dollar AS dipicu meningkatnya tensi geopolitik setelah Amerika Serikat melakukan penyerangan ke Iran yang memperumit prospek perdamaian di Timur Tengah.
Dari dalam negeri, sentimen negatif pasar saham dan belum pulihnya kepercayaan investor juga dinilai ikut membebani pergerakan rupiah.
“Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dollar AS yang menguat, dengan kisaran Rp 17.750 hingga Rp 17.900,” ujar Lukman.
Artikel ini telah tayang di Tribunbengkulu.com
| Faktor Penyebab Harga HP iPhone 16 Reguler Naik Rp1,5 Jutaan Dalam Beberapa Bulan Terakhir |
|
|---|
| Ucapan Prabowo soal Warga Desa Tak Pakai Dollar Jadi Sorotan, Purbaya Beri Penjelasan |
|
|---|
| Rupiah Kembali Melemah, Dolar AS Jadi Rp17.394, Dolar Singapura Rp13.637, Ringgit Malaysia Rp4.392 |
|
|---|
| iBox Mendongkrak Harga HP iPhone 17 Series di Indonesia, Update Naik Rp250 Ribu hingga Rp500 Ribu |
|
|---|
| Kurs Rupiah Hari Ini Jumat 17 April, Dolar AS Rp17.227, Dolar Singapura Rp13.562, Ringgit Rp4.359 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/2304_Purbaya.jpg)