Rabu, 22 April 2026

Pemprov Kepri

Menko Yusril Buka FSIGB 2025: Kepri Adalah Motor Kesusastraan Melayu

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra buka Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, Selasa.

|
Dok Diskominfo Kepri/Harun
MENKO YUSRIL IHZA MAHENDRA - Menko Yusril Ihza MAHENDRA didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad, dan inisiator sekaligus Ketua Panitia FSIGB 2025 pembukaan kegiatan di halaman Gedung LAM Kepri, Tepi Laut, Tanjungpinang, Selasa (28/10/2025) malam. 

TRIBUNBATAM.id, KEPRI – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Dato' Seri Indera Nara Wangsa, Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa Provinsi Kepulauan Riau adalah motor perkembangan kesusastraan Melayu dan Indonesia.

Lebih jauh Yusril menjelaskan bahwa festival sastra bukan hanya ajang pembacaan puisi atau peluncuran buku, melainkan “sebuah laboratorium kemanusiaan”.

Yusril Ihza Mahendra menyampaikan ini saat membuka Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2025 di pelataran Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Selasa (28/10/2025) malam.

“Kepulauan Riau memiliki akar kuat peradaban Melayu. Karena itu Festival Sastra Internasional ini adalah langkah tepat dan strategis. Festival ini selayaknya dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun,” ujar Yusril dalam keterangan yang diterima TribunBatam.id, Jumat (31/10/2025).

 

(Harun/DISKOMINFO KEPRI)
Menko Yusril Ihza Mahendra berfoto bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Ketua Panitia FSIGB 2025 dan kepala daerah di Kepri. (Harun/DISKOMINFO KEPRI)

 

Menurutnya, dari Kepri bisa direfleksikan kembali peran fundamental sastra dalam membangun peradaban yang adil, manusiawi, dan berkeadilan.

Melalui panggung sastra itu pula, akan ditemukan benang merah persaudaraan yang melintasi batas geografis, menegaskan bahwa kita adalah bagian dari komunitas global yang saling terhubung

Menko Yusril juga menilai bahwa dampak positif festival ini akan turut meningkatkan sektor pariwisata, baik di Kepri maupun secara nasional.

“Impact-nya jelas — pariwisata di Kepulauan Riau akan berkembang, dan pada akhirnya Indonesia dapat lebih dikenal di mata dunia,” tambahnya.

Monumen Bahasa & Museum Budaya Upaya Perkuat Identitas Melayu

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menegaskan jika Pemerintah Provinsi Kepri serta kabupaten dan kota akan terus berkomitmen menggali, memperkenalkan dan menghidupkan kembali kekayaan budaya, termasuk warisan budaya takbenda yang sangat banyak di Kepri.

Pemerintah Provinsi Kepri menurut Ansar Ahmad kini tengah menyiapkan pembangunan monumen bahasa dan museum budaya sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas Melayu Kepri.

“Insya Allah, ke depan melalui monumen bahasa dan museum yang akan kita bangun, Kepri akan menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai provinsi dan bahkan mancanegara untuk mengenal Kepri lebih dekat lagi,” tambahnya.

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad juga menyebut bahwa Kabupaten Lingga, sebagai Bunda Tanah Melayu, mendapat perhatian khusus.

“Saya banyak mendapat pesan dari Pak Bupati Lingga. Dengan dukungan Pak Menko, kita akan kembangkan museum dan objek wisata sejarah di Lingga agar perjalanan sejarah Kepri semakin dikenal luas,” ujarnya.

Tegaskan Peran Kepri di Kancah Sastra Internasional

Pembukaan FSIGB 2025 berlangsung meriah dan penuh nuansa Melayu dengan penampilan apik Seniman Rojer Kajol yang memainkan alat musik gambus, diiringi kelompok musik Dermaga Musica dari Kota Tanjungpinang.

Festival yang akan berlangsung hingga 31 Oktober 2025 ini mengusung tema “Memelihara Persaudaraan Para Penyair” — sebuah ajakan untuk memperkokoh silaturahmi lintas bangsa melalui karya sastra.

Festival ini merupakan gagasan Dato' Sri Lela Budaya Rida K Liamsi, tokoh sastra Melayu asal Kepri, sebagai bentuk upaya merawat dan melestarikan tradisi literasi dunia Melayu.

Provinsi Kepri, sebagai wilayah yang dulu dikenal sebagai pusat lahirnya karya-karya besar dunia Melayu, kini kembali menegaskan perannya di kancah sastra internasional.

Tokoh sastra sekaligus Ketua Panitia FSIGB 2025, Dato’ Rida K. Liamsi, dalam sambutannya mengingatkan kembali kejayaan sastra Melayu yang lahir dari Pulau Penyengat.

“Dulu, dari pulau kecil di depan kita ini, Pulau Penyengat, puluhan karya besar lahir pada abad ke-18. Dari sanalah semangat ini kita lanjutkan,” kata Rida.

Ia menjelaskan bahwa selama delapan tahun pelaksanaan FSIGB, pihaknya telah berhasil menghadirkan sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand Selatan untuk saling bertukar pikiran dan memperkuat jejaring sastra dunia Melayu.

Tradisi yang dijaga setiap tahunnya antara lain penerbitan antologi puisi bersama, sekurang-kurangnya tiga buku per tahun.

“Sampai tahun 2025 ini, sudah ada 25 ‘Jazirah Buku’ yang kita hasilkan,” jelas Rida.

Selain itu, FSIGB juga biasa menggelar seminar sastra, peluncuran 100 buku puisi bersama, serta ziarah budaya ke berbagai situs bersejarah di Kepri — meskipun tradisi peluncuran buku tidak dilakukan tahun ini.

Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2025 turut dihadiri oleh Penulis Nasional Yusron Ihza Mahendra (adik Menko Yusril), Ketua TP-PKK Kepri Hj. Dewi Kumalasari Ansar, Ketua LAM Kepri Raja Al Hafiz, anggota DPRD Kepri, Forkopimda Kepri, serta para Bupati dan Wali Kota se-Kepri.

Dengan semangat “Memelihara Persaudaraan para Penyair”, FSIGB 2025 bukan hanya menjadi perayaan sastra, tetapi juga penegasan jati diri Kepulauan Riau sebagai poros kebudayaan Melayu dan mercusuar literasi dunia. (adv)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved