Dahsyatnya Letusan Gunung Agung 1963. Saksi Mata : Bumi Hitam Semua Gelap, Hujan Batu Disertai Api

Pada tangal 17 Maret 1963, terjadi letusan paroksima dan awan letusannya mencapai ketinggian lebih kurang 5 kilometer dan gumpalan asap tebal.

Dahsyatnya Letusan Gunung Agung 1963. Saksi Mata : Bumi Hitam Semua Gelap, Hujan Batu Disertai Api
KOMPAS.COM
Jero Mangku Suwenten (75), pengayah di Pura Besakih dan menjadi saksi besarnya letusan Gunung Agung pada tahun 1963. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM - Sejak status Gunung Agung ditetapkan menjadi awas pada Jumat (22/9/2017), sudah 144.489 jiwa warga yang tinggal di zona merah mengungsi.

Langkah tersebut sebagai bentuk antisipasi karena letusan Gunung Agung pada tahun 1963 pernah memakan korban hingga ribuan jiwa meninggal dunia.

Data Pos Pengamatan Gunungapi Agung mencatat, pada 19 Februari 1963 letusan Gunung Agung pertama kali terjadi.

Sekitar pukul 01.00 WITA terlihat asap bergumpal dan masyarakat sudah mulai mencium belerang.

Selama beberapa hari turun hujan abu dan lelehan lava disertai letusan.

Itu terlihat pada 21 Februari 1963.

Di hari yang sama terlihat awan panas yang meluncur ke arah lereng sebelah timur melewati Tukad Barak dan Tukad Daya.

Pada tangal 17 Maret 1963, terjadi letusan paroksima dan awan letusannya mencapai ketinggian lebih kurang 5 kilometer dan gumpalan asap tebal dan awan panas mengendap di lereng selatan dan utara.

Endapan abu letusan bahkan mencapai Pulau Madura.

Letusan paroksima kembali terjadi pada 16 Mei 1963 dan endapan abu letusan mencapai Pulau Kangean.

Halaman
1234
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved