Gara-gara Kasus Rohingya, Kota Oxford Cabut Gelar Kehormatan untuk Aung San Suu Kyi

Aung San Suu Kyi menerima gelar kehormatan Freedom of Oxford pada 1997 atas perjuangannya yang tak kenal lelah untuk menegakkan demokrasi.

AFP/YE AUNG THU
Pemimpin Negara Myanmar Aung San Suu Kyi menyampaikan pidato nasional di Naypyidaw pada tanggal 19 September 2017. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, OXFORD - Saat berjuang melawan junta militer Myanmar, Aung San Suu Kyi menerima banyak gelar kehormatan.

Selain mendapat Nobel perdamaian, ia juga mendapat gelar kehormatan Freedom of Oxford pada 1997.

Namun, kota Oxford di Inggris akhirnya memutuskan gelar kehormatan untuk Aung San Suu Kyi, demikian dilaporkan BBC London.

Pemimpin de facto Myanmar ini dianggap tak berbuat banyak untuk mengatasi krisis Rohingya di negara bagian Rakhine.

Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, menerima gelar kehormatan Freedom of Oxford pada 1997 atas perjuangannya yang tak kenal lelah untuk menegakkan demokrasi.

Baca: Delapan Kali Pengiriman, 74 Ton Bantuan Indonesia untuk Rohingya Tiba di Bangladesh

Baca: Kepala Bayiku Terbakar Saat Tentara Myanmar Lemparkan Bom. Saya Tak Tahu Apakah Ia Bisa Bertahan

Baca: Kisah Getir Muslim Rohingya di Cox Bazar: Kami Disuruh Masuk Rumah, Kemudian Dilempar Bom

Baca: Beratnya Perjalanan Muslim Rohingya Menggapai Pantai Bangladesh

Namun mosi yang didukung oleh Dewan Kota Oxford menilai bahwa ia tidak layak lagi menyandang gelar kehormatan tersebut.

Areta Begum memperlihatkan luka bakar di kepala bayinya, Taslima, yang dilempar granat oleh militer Myanmar.
Areta Begum memperlihatkan luka bakar di kepala bayinya, Taslima, yang dilempar granat oleh militer Myanmar. (John Gladwin/Sunday Mirror)

Pejabat di Kota Oxford, Bob Price, mengatakan bukti-bukti yang disampaikan PBB membuat Aung San Suu Kyi tak lagi berhak menerima gelar Freedom of Oxford.

Gelar ini secara resmi akan dicabut bulan November 2018 nanti.

Para anggota dewan kota menegaskan bahwa keputusan pencabutan gelar bisa dibatalkan jika Aung San Suu Kyi melakukan tindakan untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Rakhine.

Sebelumnya, Aung San Suu Kyi juga dikecam lima peraih Nobel Perdamaian karena melakukan pembiaran terhadap aksi militer yang di luar batas kemanuasiaan terhadap muslim Rohingya.

Oxford memiliki kedekatan dengan Aung San Suu Kyi karena di kota ini ia mengambil jurusan filsafat, politik dan ekonomi di Universitas Oxford pada 1964 hingga 1967.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved