Pengakuan Warga Anambas: Uang Koin Kurang Berlaku, Kalah Sama Permen! Begini Reaksi Bank Indonesia!

Warga di Anambas mengeluhkan masih adanya praktik permen sebagai 'uang' kembalian saat jual beli. Ini jawaban Bank Indonesia!

Pengakuan Warga Anambas: Uang Koin Kurang Berlaku, Kalah Sama Permen! Begini Reaksi Bank Indonesia!
Tribun/Septyan Muli Rohman
Sesi tanya jawab antara warga dengan Ahmad Yani Asisten Manager Divisi Pengolahan Uang Bank Indonesia di samping Pasar Ikan Tarempa Minggu (15/4/2018) 

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS-Kunjungan Bank Indonesia ke Tarempa pada Minggu (15/4/2018) di samping Pasar Ikan Tarempa, menjadi ajang 'curhat' bagi sebagian masyarakat.

Salahsatu yang menjadi sorotan yakni minimnya penggunaan uang koin di Anambas. "Uang koin kurang berlaku di sini, Pak. Bertoples-toples saya kumpulkan di rumah, sampai kadang saya ke Batam untuk bisa dibelanjakan," ujar Sri Wahyuni Ketua Srikandi Pemuda Pancasila Kabupaten Kepulauan Anambas dalam sesi tanya jawab bersama Bank Indonesia.

Baca: Heboh! Serangan Rudal AS ke Suriah Berhasil Ditangkis, Inikah Reaksi Trump?

Baca: Mengejutkan! Inilah 6 Bagian Tubuh Ayam Paling Berisiko! Jangan Dimakan Terlalu Sering!

Baca: Terungkap! Golongan Darah Mencerminkan Kepribadian Anda! Golongan Darah Ini Paling Mengejutkan!

Ia juga menayakan kepada Bank Indonesia yang datang dari Jakarta itu mengenai praktek ‎'kembalian' permen yang dalam kenyataannya masih ditemukan pada sejumlah transaksi di Anambas.

Irmansyah perwakilan Bank Indonesia dari divisi pengolahan uang keluar ‎mengakui, minimnya penggunaan uang logam kerap dijumpai di hampir setiap pulau terdepan yang dikunjungi.

Meski bukan merupakan kasus lama, namun upaya untuk memberi edukasi kepada masyarakat terus dilakukan, salahsatunya melalui momentum kunjungan Bank Indonesia ini. ‎

"Ini sempat mencuat di tahun 2011. Hampir di setiap pulau jawabannya seperti itu. ‎Memang kembali lagi ke kebiasaan masyarakatnya. Dari kami (Bank Indonesia) terus memberikan edukasi kepada masyarakat," ungkapnya.

Ia mengatakan, terdapat sanksi pidana hukum sesuai dengan Undang-Undang mengenai mata uang. Hanya saja, pihaknya kurang bisa menjelaskan secara rinci mengenai sanksi yang dimaksud.

Secara ketahanan, uang logam diakuinya lebih tahan lama dibandingkan dengan uang kertas. Hanya saja, beberapa faktor seperti pemikiran di masyarakat menjadi salahsatu sebab minimnya penggunaan uang logam ini.

Ahmad Yani, asisten manager divisi pengolahan uang keluar Bank Indonesia ‎pun terus mensosialisasikan kepada masyarakat akan penggunaan uang logam ini. Keluhan dari masyarakat ini pun, diakuinya menjadi masukanbagi BI untuk menjadi bahan evaluasi.

"Uang logam sepertinya kurang diminati. Hal seperti ini sering terjadi. Pada intinya, kami sudah dan terus mensosialisikan untuk menggunakan uang logam sebagai pembayaran‎ yang sah.

Dari BI pun, belum ada laporan masuk ke kami. Tapi, paling tidak ini menjadi masukan juga ke BI dan akan kami informasikan juga ke Bank Indonesia di Jakarta," ungkapnya.

Layanan kas keliling dan edukasi publik yang dilakukan oleh Bank Indonesia ini dimulai sejak tanggal13 sampai 20 April 2018. Selain Pulau Jemaja dan Terempa, pihaknya juga turun ke Sekatung Laut, Subi, Serasan, dan Tambelan Besar untuk melakukan layanan penukaran uang dan edukasi kepada masyarakat. (*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved