Bersatu Melawan Teroris

Doktrin 'Ke Surga Bareng Keluarga' Hingga Tangisan Anak Dita di Musala Sebelum Aksi Bom Bunuh Diri

Berikut 5 hal seputar aksi terorisme yang dilakukan satu keluarga hingga kisah sedih tiga pelaku teroris yang melibatkan anak-anaknya

Doktrin 'Ke Surga Bareng Keluarga' Hingga Tangisan Anak Dita di Musala Sebelum Aksi Bom Bunuh Diri
Dok. Divisi Humas Polri
Kapolri jenderal.Pol. Tito Karnavian menjenguk Ain (15), anak pelaku teroris yang kini yatim piatu. 

TRIBUNBATAM.id - Fenomena aksi bom bunuh diri yang dilakukan satu keluarga masih menjadi perbincangan banyak pihak.

Orang-orang tak habis pikir, bagaimana bisa orangtua mengajak anak kandungnya untuk melakukan aksi bunuh diri.

Seperti yang dilakukan Dita Oepriyanto dan Puji Kuswati yang mengajak empat anaknya untuk melakukan aksi bom bunuh diri di 3 gereja Surabaya pada Minggu (13/5/2018).

Begitu juga keluarga Tri Murtono, pelaku peledakan di gerbang Mapolrestabes Surabaya

Ia tewas bersama istrinya,  Tri Ernawati, Muhammad Daffa Amin Murdana, Muhammad Dary Satria Murdana saat meledakkan bom mengggunakan dua sepeda motor.

Namun, putrinya yang masihg berusia 7  tahun selamat dalam peledakan satu keluarga itu.

Ada doktrin yang dinilai ekstrem yang membuat aksi teror ini melibatkan satu keluarga.

Yakni adanya janji masuk surga oleh orangtuanya.

Berikut 5 hal seputar aksi terorisme yang dilakukan satu keluarga hingga kisah sedih di balik keluarga Dita, Tri Murtono dan Anton Febrianto yang melibatkan anak-anaknya dalam aksi teror.

1. Doktrin Keluarga

 Sofyan Tsauri
Halaman
1234
Editor: Alfian Zainal
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved