41 Anggota DPRD Malang Terlibat Korupsi Berjamaah, Simak 5 Fakta yang Bikin Miris Berikut

Kasus korupsi berjamaah di DPRD Malang terasa miris mengingat DPRD adalah wakil rakyat. Baca 5 fakta berikut ini.

41 Anggota DPRD Malang Terlibat Korupsi Berjamaah, Simak 5 Fakta yang Bikin Miris Berikut
Tribunnews.com
KPK menahan 22 anggota DPRD Malang terkait kasus suap pembahasan DPRD Kota Malang tahun 2015. Saat ini hanya tersisa empat anggota DPRD yang masih ngantor. 

TRIBUNBATAM.id, MALANG - Kasus korupsi berjamaah di Gedung DPRD Kota Malang meninggalkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga legistlatif, khususnya di Kota Malang.

Selain itu, fakta terbaru mengungkap bahwa 20 anggota dewan yang ditangkap KPK ternyata ikut "nyaleg" di Pemilu 2019.

Berikut sejumlah fakta-fakta terbaru terkait kasus suap 41 anggota DPRD Kota Malang.

1. Masyarakat kehilangan kepercayaan

Jabatan adalah amanah. 41 anggota DPRD Kota Malang yang menyandang status tersangka di KPK mungkin saja lupa akan hal tersebut. Akibatnya, masyarakat tak lagi percaya kepada para tersangka.

Selain itu, kredibilitas lembaga legislatif yang seharusnya menjadi wakil rakyat, patut dipertanyakan. Tak dapat dipungkiri, tindakan para anggota dewan di Kota Malang itu menuai hujatan yang mengalir bak banjir bandang.

Melinda Indriani (18), salah satu warga Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, mengatakan, kasus tersebut membuat masyarakat tidak percaya lagi terhadap pemerintah.

"Masyarakat jadinya tidak percaya kepada pemerintah," kata Melinda Indriani (18), salah satu warga Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Kamis (6/9/2018).

Baca: Tak Ada Angin Tak Ada Hujan, Dahan Pohon di Pinggir Jalan Ini Tumbang Nyaris Hantam Pengendara

Baca: Rancang Animedia, Bekraf Jajaki Pasar Animasi di Batam

Baca: Sempat Alami Intimidasi, Ustadz Abdul Somad Naik Helikopter saat Ceramah di Sulawesi

"Sebenarnya ini yang membuat kepercayaan masyarakat jadi berkurang. Mereka wakil rakyat tapi tidak bisa mengemban amanat rakayat," kata Teguh Kuswanto, salah satu warga Kota Malang.

Suludiano Putranto, warga lainnya, merasa prihatin dengan perilaku para anggota dewan itu. "Dengan tertangkapnya anggota dewan ini, kita merasa kesulitan untuk menyampaikan aspirasi ke dewan. Aspirasi kita jadi terhenti untuk menjembatani dengan eksekutif," katanya.

Halaman
123
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved