Tak Sanggup Bayar Upah Tinggi, Sudah 21 Perusahaan Pilih Hengkang dan PHK Puluhan Ribu Karyawan

Makin tingginya tuntutan upah tinggi oleh para pekerja diduga telah memicu hengkangnya 21 perusahaan dari Karawang, Jawa Barat sejak 2017.

Tak Sanggup Bayar Upah Tinggi, Sudah 21 Perusahaan Pilih Hengkang dan PHK Puluhan Ribu Karyawan
net
Ilustrasi 

TRIBUNBATAM.id, KARAWANG - Makin tingginya tuntutan upah tinggi oleh para pekerja diduga telah memicu hengkangnya 21 perusahaan dari Karawang, Jawa Barat sejak 2017.  

"Dalam catatan kami sejak tahun 2017 hingga 2018 ini, sudah ada 21 perusahaan yang pindah dari Karawang karena alasan mereka tidak mampu untuk membayar upah tinggi di Karawang," kata Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Karawang Ahmad Suroto, Selasa (13/11). 

Suroto menyebut, hengkangnya 21 perusahaan tersebut menimbulkan pemutusan hubungan kerja PHK sebanyak 22.000 pekerja. 

Baca: Gunakan Senjata Buatan Pindad, Polisi Temukan Fakta Baru Penangkapan Komplotan Bandit di Tangsel

Baca: Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi, 2 Mobil Raib, Ada Saksi Lihat Mobil Ngebut Keluar Rumah Korban

Baca: Mantan Istri Ahok Nonton Film A Man Called Ahok, Lihat Penampilannya Veronica Tan Sekarang

Baca: Sehari Sebelum Dibunuh, Sarah Boru Nainggolan Minta Maaf pada Orangtuanya Lewat Surat. Begini Isinya

Baca: Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi, Ahli Forensik Sebut Kedua Anak Dihabisi Pakai Tangan Kosong

Berdasarkan laporan kepada Disnakertrans, kata dia, pada 2019 ada lima perusahaan garmen yang bakal meninggalkan Karawang jika UMK kembali naik. 

Sementara untuk manufaktur, dia mengaku belum mendapat laporan. 

Akan tetapi, ia mengklaim pihaknya sudah memfasiltasi perusahaan garmen agar mereka bisa bertahan, dengan memberikan penangguhan upah. 

"Namun, cara itu belum efektif karena masih banyak perusahaan yang pindah," kata dia. 

Suroto menyebutkan, jika lima perusahaan tersebut hengkang, diperkirakan sebanyak 9.000 pekerja akan dirumahkan. 

Suroto mengatakan, berdasarkan hasil rapat Dewan Pengupahan menyepakati untuk merekomendasikan kenaikan upah 8,03% dari Rp 3.919.291 menjadi Rp 4.233.226 pada 2019. 

Kenaikan tersebut diperkirakan akan berdampak bagi perusahaan di sektor tekstil, sandang dan kulit (TSK). 

Dampak yang paling besar dari kenaikan UMK ini memang untuk sektor TSK. Sedangkan sektor manufaktur masih mampu bertahan," kata dia. (Kontributor Karawang, Farida Farhan)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved