BATAM TERKINI

Sebut Oknum Pemerintahan Terlibat. Intan Dianjurkan Kajari Batam Jadi Justice Collaborator

Dedie menganjurkan Intan untuk mengajukan diri sebagai Justice Collabolator untuk membongkar semua dugaan keterlibatan pihak lain

Sebut Oknum Pemerintahan Terlibat. Intan Dianjurkan Kajari Batam Jadi Justice Collaborator
tribun batam
Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan. TRIBUN BATAM/FILEMON HALAWA 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Kepala Kejaksaan Negeri Kota Batam, Dedie Tri Hariyadi menyambut baik keinginan Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan, DPO terpidana kasus pemalsuan dokumen kapal tanker Engedi Batam untuk buka-bukaan perihal dugaan keterlibatan oknum di UPT Kelautan dan instansi pemerintahan lainnya pada kasus yang tengah melilitnya itu.

"Ini kan masih sebatas keterangan, dugaan,  tentu kami akan kembangkan perkara ini. Bila ada potensi kerugian negara, maka siapa pun yang terlibat kami akan proses. Jadi kami,  pada prinsipnya tidak ada tebang pilih atau pilih tebang. Sama semua," kata Dedie Tri Hariyadi, Kamis (6/12/2018) saat konfrensi pers di kantor Kejari Kota Batam.

Dedie kemudian menganjurkan Intan untuk mengajukan diri sebagai Justice Collabolator kepada pihaknya untuk membongkar semua dugaan keterlibatan oknum pemerintah di laut atas perkara tersebut.

"Silakan ajukan diri sebagai justice collaborator, biar jelas semua kan," kata Dedie.

Baca: Sebut Dirinya Korban. Dihadapan Kajari Batam, Intan Siap Bongkar Keterlibatan Oknum Pemerintah

Baca: DPO Pemalsu Dokumen Kapal Tanker MV Engedi Batam Ditangkap Tim Gabungan Kejari Batam-Kejagung

Baca: VIDEO. Diduga Hasil Curian, Sebuah Mobil Avanza Merah Dibuang Pelaku ke Jurang di Galang, Batam

Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan terpidana yang ditangkap Kejari Batam di Batamia Art Komplek Ruko Rajapolah Permai Nomor 15 Kabupaten Tasikmalaya,Provinsi Jawa Barat, Rabu(5/12/2018) sekitar pukul 20.00 WIB, menuding dirinya hanya lah sebagai korban.

Sebaliknya, Intan menuding banyak oknum yang bermain dalam perkaranya tersebut. 

"Saya bayar pajak yang menjadi bagian negara. Lalu saya dituduh memalsukan dokumen kapal. Saya ini hanya lah korban. Banyak oknum yang bermain dalam perkara saya. Saya ini korban kezaliman oknum pemerintah yang berwenang di laut," kata Intan. 

Intan kemudian melontarkan pernyataan yang cukup mengagetkan bahwa ia siap blak-blakan soal dugaan keterlibatan oknum UPT Kelautan dan pihak pemerintah lain yang berwenang atas Kapal MV Engedi eks Eagle Prestige. 

"Saya sebut oknum ya. Jadi banyak yang terlibat atas kasus ini. Saya siap akan bongkar semua," ungkapnya.

Intan menyebut,  potensi kerugian negara pada perkara tersebut,  jelas. Ia menambahkan,  membayar pajak dokumen kapal yang nilainya miliaran rupiah,  namun oknum pemerintahan tidak menyetor ke negara.

Intan divonis bersalah dan dihukum pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kota Batam pada 8 Oktober 2014.

Intan dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah memalsukan dokumen kapal tanker MV Engedi yang sebelumnya adalah eks kapal tanker MV Eagle Prestige.

Intan kemudian mengajukan banding atas vonis itu. Namun oleh Hakim Pengadilan Tinggi Pekanbaru pada Rabu 4 Maret 2015, menguatkan putusan PN Batam.

Intan melalui pengacaranya mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung namun berujung penolakan. (leo) 

Penulis: Leo Halawa
Editor: Rachta Yahya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved