TANJUNGPINANG TERKINI

Balai Karantina Tanjungpinang Waspadai Masuknya Daging Sapi yang Bawa Penyakit Jembrana

Kebutuhan pangan pokok masyarakat Tanjungpinang khususnya daging sapi, daging ayam dan daging babi pun masih didatangkan dari luar Kepri

Balai Karantina Tanjungpinang Waspadai Masuknya Daging Sapi yang Bawa Penyakit Jembrana
TRIBUNBATAM.id/THOM LIMAHEKIN
Kepala Pusat Karantina Hewan Agus Sunanto menyerahkan cenderamata kepada Wali Kota Tanjungpinang H Syahrul didampingi Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Kota Tanjungpinang Donny Muksydayan. 

TRIBUNBATAM.id, TANJUNGPINANG - Rapat koordinasi (Rakor) lintas instansi se-Sumatera dalam mencegah tersebarnya penyakit Jembrana ke Kepri berlangsung di CK Hotel Tanjungpinang, Senin (15/3/2019).

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Kota Tanjungpinang Donny Muksydayan mengatakan ketergantungan masyarakat Kepri terhadap bahan produk pertanian dari luar semisal beras, daging, telur, sayuran dan lainnya sangat tinggi.

Kebutuhan pangan pokok masyarakat Tanjungpinang khususnya daging sapi, daging ayam dan daging babi pun masih didatangkan dari luar Kepri.

Namun, berdasarkan pantauan di pasar, ditemukan peredaran daging-daging yang masuk secara ilegal yang kesehatannya tidak terjamin.

"Kepri masih mendatangkan sapi yang berasal dari Sumatera Selatan yang berdasarkan data surveian dari Balai Veteriner, ditemukan ada kasus penyakit Jembrana di wilayah itu," kata Donny kepada TRIBUNBATAM.id.

Kesaksian Kasir KFC dan Rekan Ojek, Saat Driver Ojek Online Kena Tipu Pemesan Hingga Rp1 Juta

Laga Sisa Calon Juara Liga Inggris, Liverpool 4 Laga, Man City 5 Laga Termasuk vs Spurs & MU

Hasil, Klasemen dan Top Skor Liga Inggris Setelah Liverpool Kalahkan Chelsea, Salah-Aguero 19 Gol

Bayu Pulang, Inilah Peserta MasterChef Indonesia yang Masuk 10 Besar Setelah Episode ke 13

Menurut Donny, penyakit Jembrana lebih dikenal dengan penyakit keringat darah, pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1964 di Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabana dan Buleleng di Bali.

Ini merupakan penyakit menular akut pada sapi yang disebabkan oleh retrovirus, keluarga lentivirinea yang termasuk famili retroviridae yang ditandai dengan berbagai gejala.

"Misalnya, depresi, anoreksia, demam, pendarahan ekstensif di bawah kulit, kebengkakan kelenjar limfe terutama linfoglandula," terang Donny.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Kota Tanjungpinang ini menegaskan jika penyakit Jembrana masuk ke Kepri itu akan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi.

Sebab penyakit tersebut mengakibatkan angka kesakitan dan kematian yang relatif tinggi.

"Makanya kami memastikan daging sapi yang masuk ke Kepri khususnya Tanjungpinang sehat sehingga produk yang dikonsumsi masyarakat ini aman, sehat, utuh dan halal," kata Donny.

Berdasarkan data Balai Karantina Pertanian Kelas II Kota Tanjungpinang, pemasukan sapi ke wilayah Tanjungpinang dan Bintan pada 2018 lalu mencapai 1.894 ekor.

Semakin banyak jumlah sapi yang masuk semakin besar juga penyakit yang ditularkan.

Wali Kota Tanjungpinang H Syahrul yang membuka Rakor begitu berharap agar Rakor tersebut bisa berdampak pada kesehatan daging yang masuk ke Tanjungpinang.

"Semoga semua daging yang masuk bisa sehat dikonsumsi oleh masyarakat," tegas Syahrul. (tom)

Penulis: Thom Limahekin
Editor: nandrson
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved