Tetap Murah di Tengah Harga Tiket Pesawat Mahal, Begini Strategi AirAsia
Pemerintah mengupayakan berbagai cara untuk menurunkan tarif penerbangan yang melambung tinggi.
TRIBUNBATAM.id - Pemerintah mengupayakan berbagai cara untuk menurunkan tarif penerbangan yang melambung tinggi.
Selain menurunkan tarif batas atas tiket pesawat, pemerintah belum lama juga membuat kebijakan diskon 50% terhadap tiket pesawat berbiaya murah (low-cost carrier) untuk rute dan jadwal penerbangan tertentu.
Kendati begitu, rute penerbangan AirAsia tidak termasuk dalam daftar yang wajib dikenakan diskon 50%.
Pemerintah menjelaskan hal tersebut lantaran jumlah rute dan jadwal penerbangan AirAsia yang tergolong dalam kategori wajib diskon sangat sedikit.
Selain itu, harga tiketnya juga masih di bawah 50% dari tarif batas atas.
Head of Communications AirAsia Group Audrey Progastama Petriny mengkonfirmasi hal tersebut.
• BI Diprediksi Belum Pangkas Bunga, IHSG Berpeluang Menguat Pekan Depan
• HP ANDROID 2019 - Oppo A5s vs Samsung A20, Dibandrol Rp 1,9 Juta Dengan Dual Kamera Belakang
• Ramalan Zodiak Besok Senin 15 Juli 2019, Pisces Dihantui Ketakutan, Libra Ketemu Calon Pacar
• Ingin Merintis Bisnis Event Organizer? Yuk Perhatikan 4 Tips Ini
“Yang disampaikan pemerintah betul adanya. Kami tidak termasuk yang harus memberikan diskon karena sejak awal kami memang tidak menaikkan tarif tiket pesawat,” ujarnya, Jumat (12/7).
Memang, pangsa pasar AirAsia di penerbangan domestik Indonesia baru 2%. Namun, efisiensi besar-besaran menjadi strategi maskapai asal Malaysia ini untuk menjaga harga tiketnya tetap murah.
Dalam hal utilisasi pesawat, misalnya, Audrey mengatakan AirAsia termasuk yang sangat tinggi.
“Satu pesawat kami bisa diutilisasi 12-13 jam per hari, relatif lebih tinggi dibandingkan maskapai lain,” kata dia.
Tak hanya itu, AirAsia sejak awal juga hanya menggunakan satu tipe pesawat yang sama atau single-type operations, yaitu Airbus. Saat ini AirAsia Indonesia mengoperasikan 25 unit pesawat Airbus A320-200.
Dengan menerapkan prinsip tersebut, biaya yang terkait dengan lisensi dan pelatihan awak pesawat, awak kabin, staf darat, teknisi perawatan pesawat serta staf operasi menjadi sangat minim. Selain itu, pengoperasian satu jenis pesawat juga membuat pengelolaan suku cadang AirAsia juga menjadi lebih efisien.
“Grup kami juga mengoperasikan lebih dari 200 pesawat. Secara economy of scale, kami bisa membeli dengan negosiasi harga yang lebih murah,” lanjut Audrey.
Dari sisi sumber daya manusia, Audrey mengatakan, AirAsia semakin banyak memanfaatkan teknologi. Layanan customer service sudah banyak digantikan dengan fitur chatboard pada situs dan aplikasi AirAsia, sementara di bandara juga sudah lebih banyak tersedia self-check in kiosk sehingga petugas counter bisa diminimalisasi.
“Kami juga mendiversifikasi lini bisnis, yaitu kargo, makanan on-board (dalam pesawat), toko duty-free, dan sebagainya,” kata Audrey.