Fenomena

Ketika Pengemis Berpenghasilan Setara PNS Setingkat Esselon

Potret Pengemis di Ibukota Kepri


Badan gemuk dan terlihat sehat, M Moenir (51) berkeliling Kota Tanjungpinang menadahkan tangan meminta uang. Hal ini dilakukan M Moenir setiap hari, mulai matahari terbit hingga malam hari dan lokasi yang ia tempuh pada siang hari sekitaran pasar Tanjungpinang dan malam hari ia beroperasi di kawasan Bintan Centre, kilometer IX.

Tanpa berbicara Moenir selalu menadahkan tangan kepada orang-orang yang sedang makan di warung-warung tepi jalan, dan setiap hari ia juga menadahkan tangan kepada setiap pemilik toko. Dengan bahasa isarat mendahkan tangan tanpa mengeluarkan kata-kata, Moenir mendapat uang dari orang yang ditemuinya.

 
Celakanya Moenir tidak akan pergi sebelum mendapat receh atau uang kertas seribu dari orang-orang yang ia minta. Seperti di tempat makan, ia akan berdiri disamping orang yang sedang menyantap makanan dengan menadahkan tangan, sehingga membuat orang yang sedang makan akan memberikan uang supaya ia pergi, karena tidak tahan dengan aroma tubuh Moenir.


Begitu juga dengan pemilik toko di Jalan Merdeka, Moenir tidak akan meningalkan toko tersebut sebelum mendapat belas kasihan. Akhirnya pemilik toko akan memberikan secarik rupiah agar ia pergi supaya aktifitas toko dengan pelangan tidak terganngu. Sekali mendapat hasil ditempat tersebut, Moenir akan setiap hari menyambangi toko tersebut.

 
Moenir merupakan satu dari puluhan pengemis yang bergaya sedikit memaksa di Kota Tanjungpinang, kalau dilihat ia secara kasat mata ia masih kuat untuk bekerja dan masih belum terlalu tua untuk meminta-minta. Sabtu pagi (3/12) karena sudah meresahkan pemilik toko, akhirnya seorang pemilik toko meminta bantuan Polsek Tanjungpinang Kota, untuk menghentikan aksi Moenir. Saat diperiksa dalam tas sandang milik Moenir terdapat uang Rp 4 juta lebih, beberapa jimat.

Dalam dompetnya terdapat KTP dan SIM C keluaran Polres Sumenep, Madura Jawa Timur. Dan beberapa resi Bank BNI, pengiriman uang kepada istrinya di Madura, dalam resi tersebut Moenir bisa mengirim uang Rp 3,5 juta per bulan kepada keluarganya. Penghasilan yang cukup besar untuk seorang pengemis di ibukota provinsi Kepri. “Saya hanya mendapat Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu perhari,” aku Moenir.

 
Moenir mengaku datang ke Tanjungpinang sejak Maret 2011, bersama tiga temanya yang juga berprofesi sebagai pengemis walau mereka masih dikatagorikan orang yang masih mampu untuk bekerja. Mereka bersama mengontrak semua rumah di Kilometer 10, dan setiap hari mereka bekerja sebagai pengemis yang dilihat secara fisik tidak perlu dikasihani. Namun dengan cara tidak akan pergi sebelum mendapat uang, ia berhasil memperdaya warga dan pemilik toko. Diduga mereka merupakan komplotan yang dikoordinir oleh sindikat pengemis.

 “Kita hanya mengamankan karena sudah meresahkan para pedagang, setelah kita periksa kita meminta ia untuk pulang dan tidak mengulangi perbuatanya,” kata Kapolsek AKP Andy Rahmansyah.

 
Jika ditelisik, penghasilan pengemis tersebut hampir sama dengan pegawai negeri eselon 3 atau pegawai golongan 3C atau 3D di Kota Tanjungpinang. Pasalnya ia bisa mengirimkan uang untuk keluarga Rp 3,5 juta per bulan, biaya makan sehari-hari dan biaya kontrak rumah. Walau mereka mengunakan pakaian lusuh dan kumuh ternyata mereka memiliki uang yang cukup banyak melebihi masyarakat miskin yang ada di Ibukota Kepri.

Moenir mengaku dirinya melakukan pekerjaan ini karena tidak sangup lagi untuk bekerja sebagai buruh bangunan, sehingga ia lebih memilih menjadi pengemis. “Perut saya ada yang bengkak, sehingga tidak bisa bekerja keras,” aku Moenir. Bagaimana tangapan pemerintah Daerah dengan banyaknya pengemis yang tidak layak untuk menjadi pengemis ?. (gas)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved