Kamis, 9 April 2026

Kesehatan

Sekujur Tubuh Meri Dipenuhi Benjolan Penyakit Aneh

Jika cuaca panas berendam di bak mandi karena gatal, Keluarga berharap bantuan pemerintah

Laporan Iswidodo Wartawan Tribunnews Batam

TANJUNGPINANG, TRIBUN- Meri (32) masih terus berjuang untuk hidup bersosial layaknya warga yang lain di kampung Simpangan RT 02 RW 01 Kelurahan Toa Paya Selatan kecamatan Gunung Kijang kabupaten Bintan. Walau kini Meri mengaku malu keluar rumah karena penyakit kulit aneh yang dia derita sejak usia 8 tahun silam. Di sekujur tubuhnya tumbuh benjolan besar kecil sebesar kelereng atau telur puyuh. Bahkan di muka juga banyak benjolan serupa ukuran besar kecil.

Penyakit aneh yang diderita Meri ini bermula ketika masih kelas 2 SD tubuhnya panas kemudian muntah dan berak (muntaber). Sembuh dari muntaber itu di kulitnya muncul bercak bercak merah kemudian secara bertahap membesar dan bertambah banyak. Waktu itu sudah berobat ke Puskesmas tetapi belum sembuh.

Ketika ditemui Tribun di rumahnya, Meri mengenakan kaos hijau dan celana pendek. Tampak di muka, tangan, kaki dan sekujur tubuhnya ada benjolan seperti daging tumbuh. Dia anak dari pasangan Ingkeng (60) seorang buruh lepas yang tak tentu penghasilannya  dan Dasem (51) juga buruh pengopek ikan bilis. Penghasilan keluarga tersebut tak lebih dari Rp 20 ribu sehari.

"Kalau musim panas terasa gatal sekali. Saya sampai berendam di dalam bak mandi karena tak tahan. Jika sakit masuk angin pun saya minta dikerokin tetapi tidak bisa dikerok karena benjolan benjolan ini," ujar Meri beberapa waktu lalu.

Keluarga tersebut ingin mengobatkan Meri agar sembuh dan bisa bersosialisasi dengan tetangga sebagaimana umumnya. Hari hari di rumah mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak dan bersih bersih rumah yang  lantainya sudah disemen.

Beberapa waktu lalu pernah mendapat bantuan dana Rp 5 juta untuk berobat tetapi belum sembuh juga. Rumahnya yang kini sudah diplaster semen dan lantai aci merupakan bantuan dari Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Meri ingin sembuh tetapi mengaku hampir frustasi karena beberapa rumah sakit dan pengobatan tradisional di Tanjungpinang dan Bintan pernah didatangi, hasilnya belum ada tindakan medis juga.

Di hari Kesehatan Internasional yang bertepatan tanggal 7 April ini, keluarga Meri sangat berharap mendapat bantuan pemerintah untuk pengobatannya. Karena tak tahu apa penyakit yang diderita, Meri pun sudah bergabung dengan Forum Komunikasi Anak Cacat Bintan.

Selain karena mengaku malu dengan benjolan benjolan di tubuhnya itu, Meri jarang keluar rumah takut panas. Karena jika terkena sengatan matahari sekujur tubuhnya terasa gatal, panas dan perih. Hari hari dia di dalam rumah yang tak jauh dari Pertamina jalan arah Uban kilometer 16.  Tak tau lagi upaya apa yang harus dilakukan demi kesembuhan penyakitnya ini. (wid)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved