Kesehatan
Bayi Kembar Meninggal, Dan Yon Geram di RSG Graha Hermine
Dan Yon Geram Dengan Pelayanan RSG Graha Hermine
TRIBUNNEWSBATAM.COM. BATAM-Seorang ibu rumah tangga, Trinila wati (25), istri seorang anggota TNI AD 134 Tuah Sakti, harus kehilangan dua bayi kembarnya saat menjalani proses persalinan di Rumah Sakit Bersalin (RSB) Graha Hermine, Batu Aji. Ibu yang akan melahirkan anak keduanya ini terpaksa kehilangan bayi di kandungannya karena penanganan medis yang lambat.
Informasi yang dihimpun tribun, Rabu (09/05) menyebutkan, Wati dibawa oleh suaminya, Praka Saut Siahaan untuk periksa ke RSB Graha Hemine, Senin (23/04) lalu. Dari keterangan dokter Nn yang menangani saat itu, kandungan Wati kekurangan air ketuban dan harus mendapat perawatan. Namun kondisi kedua bayinya dinyatakan sehat.
"Awalnya saya bawa periksa ke klinik dokter Nn, tidak jauh dari RSB Graha Hemine. Setelah di USG, katanya air ketuban kandungan istri saya kurang. Untuk perawatan lebih lanjut, istri saya dirujuk ke RSB Graha Hermine. Dari situlah istri saya tidak ditangani dengan baik, awal sampai di RSB Graha Hermine tidak langsung ditangani. Kami menunggu sampai 1 jam. Setelah saya tanya ke perawatnya, ternyata saya harus mendaftar dulu dan harus memberikan jaminan Rp 1 juta,"kenang Saut kepada tribun saat dijumpai di markas Batalion 134 Barelang.
Setelah memberikan jaminan Rp 800 ribu, katanya, istrinya baru ditangani dokter Nn. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan setiap hari pada pukul 10.00 WIB, tambahnya, kandungan istrinya harus diberi obat cairan air ketuban yang kurang dari normalnya. Setelah lima hari dirawat, jelasnya lebih lanjut, ternyata dari keterangan Dr Nn, istrinya masih harus mendapatkan perawatan karena air ketuabannya masih kurang banyak.
"Setiap pukul 10.00 WIB, Dr Nina selalu periksa kandungan istri saya. Menurutnya anak saya sehat-sehat saja. Pada tanggal 28 April, sorenya istri saya merasakan sakit. Sampai jam 9 malam sudah tidak tahan lagi istri saya, akhirnya perawat nelfon Dr Nn. Tapi tidak diangkat-angkat telfonnya. Bahkan saya juga ikut nelfon dan kirim SMS. Sampai istri saya melahirkan dalam kondisi anak saya tidak bernyawa, Dr Nn tidak juga datang-datang,"beber Saut.
Saut menjelaskan, Saptu (28/04) istrinya dirawat diruang perawatan lantai dua. Setelah tidak bisa menahan sakit, katanya, istrinya dipindahkan oleh perawat ke lantai satu ruang persalinan. Namun saat diruang perawatan di lantai dua itu, tambahnya, sudah ada tanda-tanda bayinya akan keluar. Saat itu perawat memasukkan alat kedalam rahim istrinya.
"Waktu akan dibawa ke lantai satu itu, kata perawat detak jantung anak saya masih normal. Baru sampai diruang persalinan, tiba-tiba kedua anak saya itu keluar. Tapi sudah dalam kondisi meninggal. Nyawa anak saya sudah tidak tertolong lagi. Tapi kalau dokternya datang malam itu, mungkin tidak seperti ini jadinya,"kenang Saut.