Sabtu, 18 April 2026

kelangkaan ELPIJI

Dampak Kelangkaan Gas Elpiji, Pengusaha Menengah Terancam Gulung Tikar

Kelangkaan gas elpiji 3 kg belakangan ini menghantam sendi-sendi pelaku usaha menengah.

"Kalau benar-benar nggak ada, Alhamdulillah saya belum pernah. Itu juga karena saya punya persediaan tabung gas lain. Di rumah ada 2, yang dibawa di gerobak 1," ungkapnya.

Satu tabung gas elpiji 3 kg, mampu dihabiskan Pak Toyok dalam 2 hari. Ia mulai beroperasi memasarkan dagangan gerobak mie ayamnya, sejak pukul 5.30 pagi hingga 2 siang.

Keuntungan yang ia dapat juga tak seberapa, di bawah Rp 100 ribu perharinya untuk semangkuk mie ayam yang dijual Rp 7 ribu. Sedangkan ia harus membeli kebutuhan dagangannya, seperti sawi, toge, bakso, mie setiap hari. Tak kurang dari Rp 220 ribu, modal usahanya.

"Sawi 3 kg, mienya, 4 kg. Kalau nggak habis, ya dibuang. Mana bisa lagi untuk besok, meskipun dimasukin ke dalam kulkas. Cuma bakso aja yang tahan," ujar Pak Toyok. Iapun tak balik modal.

Bagaimana nasib Pak Toyok jika kelangkaan gas elpiji 3 kg mematikan usahanya dengan penghasilan yang tak seberapa?

Selama ini, Pak Hartoyo juga belum pernah menggunakan gas elpiji 9 kg 'Made in China'. Selain harganya mahal, sekitar Rp 85 ribu pertabungnya. Gas itu juga tak muat ditempatkan digerobak dorongnya.

Masih langka
Proses distribusi gas elpiji 3 kilogram di kawasan Sagulung masih belum normal. Dari pantauan Tribun, pihak pangkalan memang menerima pasokan gas elpiji pada hari Selasa, tetapi itu hanya dijatah sebanyak 50 tabung.

"Biasanya petugas yang nganter itu tanya berapa yang kosong.Jadi,yang kosong diganti sama dengan yang isi," kata Yanti kemarin.

Suami Yanti, Hariyanto telah mengonfirmasi permasalahan ini ke pihak agen, namun pihak agen menyebutkan akan kembali normal pada Jumat dan Sabtu

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved