kelangkaan ELPIJI
Dampak Kelangkaan Gas Elpiji, Pengusaha Menengah Terancam Gulung Tikar
Kelangkaan gas elpiji 3 kg belakangan ini menghantam sendi-sendi pelaku usaha menengah.
Laporan Tribunnews Batam, Tyan dan Dewi
TRIBUNNEWSBATAM, BATAM - Kelangkaan gas elpiji 3 kg belakangan ini menghantam sendi-sendi pelaku usaha menengah. Sejumlah pengusaha merugi. Mansyur (55), pengusaha rumah makan di Sagulung terpaksa harus menutup usahanya.
"Saya merugi hampir satu juta rupiah.Itu pun belum termasuk untuk bayar pegawai," kata bapak tiga anak ini saat di temui Tribun, Kamis(17/5).
Ia mengatakan, hari biasa menghabiskan 4 tabung gas elpiji. Namun setelah langka hanya dapat dua tabung. Biasanya ia membeli ke pangkalan yang biasa menjual.
Johan (40), mengaku sempat menutup usahanya karena kehabisan stok elpiji. "Saya sudah belanja sayur, daging serta bumbu-bumbu, ternyata gas malah habis. Terpaksalah saya tutup. Kalau untuk daging itu kan bisa ditaruh di kulkas, tapi kalau sayur ini kan tidak bisa, harus secepatnya dimasak," ujar Johan sambil memasak pesanan pelanggannya.
Ia mengatakan stok gas elpiji di pangkalan masih kosong. Bahkan ia sampai harus membeli 10 tabung gas 3 kg untuk stok, supaya tak kehabisan. "Sampai hari ini sudah habis tiga tabung, itu sisanya tinggal tujuh tabung lagi," ujar Johan.
Berbeda dengan Johan, Udi (43), belum sempat menutup usaha bubur ayamnya. Ia berhasil mendapatkan gas di daerah lain yang tidak langka.
"Alhamdulillah rugi sih banget sih nggak, cuma sempet susah aja nyarinya. Sempat habis sih beberapa hari lalu, bahkan ada rencana saya mau cari sampai ke Tiban. Tetapi, saya cari ada di kawasan Aviari. Sudah tiga hari saya beli di sana," ujar pengusaha bubur ayam itu kepada Tribun.
"Wajarlah rugi-rugi sedikit, namanya juga orang dagang. Paling kemarin libur juga karena kecapean," ujar Udi sambil melayani pembeli.
Hartoyo (40), penjual mie ayam di Jodoh, ikut merasakan sulitnya mendapatkan gas elpiji. Penjual mie di kawasan Nagoya ini menyebutkan gas 3 kg adalah kebutuhan vital.
Ia tak punya usaha lain selain menjadi penjual mie ayam. Tidak ada pekerjaan lain yang diandalkannya. Ia pun baru sekitar 4 bulan menjalani profesi ini. Sebelumnya, Hartoyo bekerja sebagai buruh bangunan.
Baru beberapa bulan menjalani usaha, ia harus siap dengan kemungkinan kandasnya usaha mie ayam miliknya, jika gas elpiji 3 kg tak ia dapat. Sedangkan istrinya, hanya Ibu Rumah Tangga, dengan 3 anak yang masih kecil.
"Udah seminggu ini, saya susah cari gas elpiji 3 kg. Kemana-mana saya cari biar dapat," kata Pak Toyok atau Pak De, sapaannya kepada Tribun.
Terhadap kelangkaan gas ini, Pak Toyok merasa ditindas pemerintah. "Makin tertindas rakyat kecil. Minyak tanah habis, kalaupun ada mahal, Rp 7 ribu per liternya. Gas langka, jadi mau diapain lagi kami?," ujarnya ketus.
Ia juga menyayangkan kebijakan Pertamina ini. "Kami udah datang ke RT, katanya gas elpiji 3 kg itu, ada, bukan mau dinaikin harganya, tetap ada, cuma dikurangi jatahnya. Kemarin sibuk konversi minyak tanah ke gas, sekarang gasnya langka juga," lanjut Pak Toyok.
Jika tak ada gas elpiji 3 kg di lingkungan RT/ RW-nya, Pak Toyok mulai merambah daerah lain. Sekitaran daerah Jodoh, Terminal, Pasar Induk, Happy Garden, bahkan hingga ke daerah Kantor pajak Batu Ampar, ia susuri demi barang yang menjadi nafas hidupnya.