Ide Bisnis
Membungkus Fulus dari Suvenir Tanaman
Maraknya kegiatan bercocok tanam yang dilakukan di rumah ini mengundang ide pemberian suvenir tanaman.
Karena itu, Janet berpesan kepada pembeli untuk order suvenir dari jauh-jauh hari. Biasanya, pemesanan dilakukan dua hingga empat minggu sebelum acara berlangsung. Dari bisnis ini, Janet bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta saban bulan.
Tanaman harus siap
Apakah Anda tertarik menggeluti usaha ini? Satu modal yang harus dimiliki untuk menjadi pengusaha suvenir tanaman adalah kepedulian pada tanaman itu sendiri. Sebab, bukan hanya mendatangkan profit, pengusaha yang menggeluti bisnis ini juga punya misi untuk memberikan sumbangsih dalam menjaga lingkungan.
Setidaknya, misi inilah yang mendorong Astuti Rusmawarati dan I.G.A. NGR. Novianti Suryakasih terjun di bisnis suvenir tanaman. Kedua perempuan ini merintis usahanya sejak 2009 dengan brand Rumah Teduh.
Astuti bilang, suvenir tanaman mendatangkan banyak manfaat, baik bagi pembeli maupun penerima. Jika produk yang dibagikan berkualitas bagus, otomatis penyelenggara acara akan mendapat kesan baik. Selain menjadi kenangan, tanaman juga bisa dirawat dan menjadi penghias sudut-sudut rumah dan kantor.
Karena fungsinya untuk menghias, sebisa mungkin kemasan suvenir tanaman dibuat menarik. Astuti sengaja memilih tanaman hias mini sebagai suvenir. Ada beberapa kriteria yang ia tetapkan. Dari segi ukuran, tanaman harus berdiameter sekitar 9 cm dengan tinggi 10 cm. “Tanaman tidak harus lebar, tapi terlihat rimbun,” jelas dia.
Untuk kemasan, Astuti memakai pot tanah liat, pot keramik dan plastik mika. Berbagai kemasan itu kemudian masih mendapat sentuhan hiasan. Misalnya pot plastik, ditempeli ornamen dari pasir halus atau kasar. Plastik mika pun ditambah pita atau tali serat bambu sebagai pegangan.
Di samping kemasan, menurut Astuti, kesediaan tanaman pun harus diperhatikan. Berbeda dengan Fathul dan Janet yang sudah punya kebun sendiri, Astuti memasok tanaman dari para petani. Ia membina petani yang ada di Lembang, Parung, Bogor, dan kawasan puncak di Cisarua untuk memproduksi tanaman sesuai dengan kriterianya.
Lantas, jika ada pesanan, Astuti akan memberi panjar 50% pada para petani untuk menyiapkan tanaman. Selanjutnya, tanaman itu dikirimkan ke workshop di Pamulang yang memiliki luas 45 m2. Tempat itu bisa menampung sekitar 5.000 pot tanaman. Supaya tetap rapi, ia meletakkan tanaman itu dalam keranjang. Selanjutnya, karyawan akan mengemas tanaman sebelum dikirimkan.
Untuk mengurangi risiko, minimal seminggu sebelum pengiriman, tanaman sudah ada diworkshop. Rumah Teduh memasarkan suvenir tanaman hias mini dengan kisaran harga Rp 13.000 – Rp 20.000 per pot. Selain itu, mereka menjual parsel tanaman. Produk ini mirip parcel biasa, tapi diisi dengan beberapa suvenir tanaman dengan kisaran harga Rp 60.000 – Rp 650.000 per pot.
Sama seperti pengusaha suvenir tanaman yang lain, pesanan yang datang ke Rumah Teduh bisa mencapai ribuan. Astuti bilang, bisa mengirim sekitar 6.900 pot dalam sebulan. Dari bisnis ini, dia bisa mengantongi laba hingga 30%.
Jika Anda tertarik menjajal bisnis serupa, Fathul punya beberapa tips. Yang paling penting, menurut Fathul, ketersediaan tanaman. Makanya, lebih baik jika pengusaha suvenir tanaman juga membudidayakan sendiri tanaman. Dengan demikian, ia bisa lebih mudah menyediakan tanaman untuk dijadikan suvenir.
Seluruh tanaman yang dijadikan suvenir di Istana Alam merupakan hasil budi daya sendiri. Meski tidak semua dijadikan suvenir, Fathul memisahkan tanaman suvenir dari tanaman lain. Lantaran, tanaman untuk suvenir harus dikondisikan sedemikian rupa, terutama penampilan maksimal. Pembeli akan senang jika melihat tanaman yang segar dan berwarna cerah sebagai suvenir.
Ukuran tanaman yang menjadi suvenir harus seragam. Ini tidak mudah. Pasalnya, setiap saat tanaman bertumbuh. Agar tinggi atau lebarnya seragam, pengusaha harus rajin-rajin memangkas (pruning) tanaman. “Seluruh tanaman dibuat tetap prima dengan ukuran yang sama,” tuturnya.
Selain pruning, Fathul pun menggunakan zat khusus untuk mengerdilkan tanaman. Ketika sudah mencapai tinggi yang diinginkan, yakni 15 cm–20 cm, ia menyebar zat tersebut pada tanaman. Bila hanya mengandalkan pemangkasan, akan butuh waktu lama. Sementara, tanaman harus siap sedia kalau-kalau ada yang pesan sebagai suvenir. Dengan zat tersebut, pertumbuhan tinggi tanaman akan terkontrol dan berlangsung lebih lama dari biasanya.
Siap menjajal usaha ini?